Nasional

PPN XIV Aceh Hadirkan Senandung Syair di Jantung Sejarah

23
Ketua Steering Committee PPN XIV 2026 Syech Mulyadi, memberi sambutan sekaligus membaca puisi pada malam Senandung Syair digelar di Museum Tsunami Aceh, Sabtu (27/6/2026). FOTO/ MAULANA

posaceh.com, Banda Aceh — Para peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 mengikuti kegiatan Senandung Syair yang digelar di Museum Tsunami Aceh, Sabtu (27/6/2026) malam. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian penutup yang menghadirkan kolaborasi seni sastra dan pertunjukan budaya.

Acara diawali dengan penampilan tari Seudati dari Sanggar Saleum yang memukau para hadirin. Hentakan ritmis dan gerak dinamis khas Aceh tersebut membuka suasana malam dengan nuansa tradisi yang kental.

Ketua Steering Committee PPN XIV, Syech Mulyadi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian besar PPN yang digelar di empat kabupaten/kota, yakni Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Tengah, dan Pidie.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, S.S., M.Hum, memberi sambutan pada malam Senandung Syair digelar di Museum Tsunami Aceh, Sabtu (27/6/2026). FOTO/ MAULANA

Ia menjelaskan, pelaksanaan PPN di Aceh memiliki durasi lebih panjang dibandingkan daerah lain, yakni hampir delapan hari, dengan konsep berpindah lokasi. Hal ini memberikan pengalaman berbeda bagi peserta, termasuk perjalanan dari Banda Aceh menuju Takengon yang menyuguhkan tantangan sekaligus keindahan destinasi wisata.
“Ini menjadi kebahagiaan tersendiri karena malam ini para seniman dapat berbaur langsung dengan masyarakat Kota Banda Aceh,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Syech Mulyadi juga membacakan puisi karyanya yang menggambarkan kekayaan budaya Aceh dan semangat kebersamaan dalam sastra. Puisinya menyinggung ragam seni tradisi seperti didong, seudati, hingga rapai yang berpadu dalam harmoni kata dan makna.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, S.S., M.Hum, menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan PPN XIV sejak dibuka pada 22 Juni hingga 27 Juni 2026.

Seniman Aceh, Maimunzir, menyumbangkan beberapa lagunya, pada malam Senandung Syair digelar di Museum Tsunami Aceh, Sabtu (27/6/2026). FOTO/ MAULANA

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari komunitas sastra, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat.
“Ini adalah bentuk sinergi yang sangat baik dalam membangun ekosistem kesastraan, tidak hanya di Aceh tetapi juga secara nasional,” ujarnya.

Ia juga menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mendukung kegiatan kebahasaan, kesastraan, dan literasi melalui fasilitasi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kegiatan Senandung Syair kemudian ditutup dengan berbagai penampilan seni, di antaranya kolaborasi puisi dan seni lukis oleh komunitas Kanot Bu, pembacaan puisi “Din Saja” oleh Iwan Setiawan dan Imam Maatif yang diiringi tari sufi, serta penampilan puisi dari para peserta PPN XIV Aceh 2026.

Seniman Aceh, Maimunzir, juga turut menyumbangkan beberapa lagunya, seperti “Jinoe” dan “Nanggroe”.

Malam itu, Museum Tsunami Aceh menjadi ruang pertemuan yang hangat antara penyair, seniman, dan masyarakat, memperkuat semangat kolaborasi dalam merawat dan mengembangkan sastra di Tanah Rencong.(Rnld)

Exit mobile version