Daerah

Galeri Puisi PPN XIV Hidupkan Lobi Museum Tsunami Aceh

24
Pengunjung membaca karya-karya puisi para peserta PPN XIV 2026 di lobi Museum Tsunami Aceh,Sabtu (27/6/2026) malam. FOTO/ MAULANA

posaceh.com, Banda Aceh — Suasana lobi Museum Tsunami Aceh pada Sabtu (27/6/2026) malam berubah menjadi ruang kontemplatif yang penuh makna. Para pengunjung yang awalnya hendak menyaksikan pertunjukan Senandung Syair dalam rangka Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV 2026 justru terhenti langkahnya, larut dalam deretan galeri puisi yang dipajang sepanjang area lobi.

Galeri puisi tersebut menampilkan karya-karya para penyair dari berbagai daerah, menghadirkan tema kemanusiaan, tragedi, hingga refleksi kehidupan. Judul-judul yang terpampang mampu menyedot perhatian, di antaranya Goong Di Tengah Puing karya Yimpitar Elda Gayo, Bulan Sabit Merah oleh Eddy Pramata, Sungai Mati karya Dwi Rahariyoso, serta Aceh, Dan Sepasang Sandal Yang Tak Pulang karya Lukman Zainuddin.

Pengunjung membaca karya-karya puisi para peserta PPN XIV 2026 di lobi Museum Tsunami Aceh,Sabtu (27/6/2026) malam.
FOTO/ MAULANA

Tak kalah menyentuh, karya M. Aqil Karimy bertajuk Kemanusiaan Tidak Memiliki Batas Peta dan puisi Tegakkan Sikap Atas Nama Kemanusiaan karya Dyah Kencono Puspita Dewi turut mengajak pembaca merenungi nilai-nilai universal. Sementara itu, Nazwa Latifah melalui puisinya Riak Di Atas Danau menghadirkan nuansa reflektif yang lembut.

Selain itu, deretan puisi lain seperti Nafas Dari Tanah Serambi, Bila Kata Adalah Hidup, Tenda Air Mata, Requiem Di Puncak Lapar Gaza, Aku Masih Manusia, hingga Kota Yang Tumbuh Tanpa Pelukan semakin memperkaya pengalaman batin para pengunjung.

Lukisan karya-karya pelukis Aceh dipamerkan di PPN XIV 2026 di lobi Museum Tsunami Aceh,Sabtu (27/6/2026) malam.
FOTO/ MAULANA

Salah satu pengunjung, Annisa, mengaku tidak menyangka akan menemukan pengalaman yang begitu menyentuh sebelum memasuki ruang pertunjukan. “Awalnya saya hanya ingin menonton senandung syair, tapi ketika melihat puisi-puisi ini, saya jadi berhenti lama. Banyak yang menyentuh hati,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Mutia, yang menilai galeri puisi tersebut memberikan ruang refleksi yang kuat tentang kemanusiaan dan tragedi. “Puisi-puisi ini seperti mengajak kita mengingat kembali luka, tapi juga harapan,” katanya.

Sementara itu, Zubaidah menambahkan bahwa kehadiran galeri puisi di lobi museum menjadi daya tarik tersendiri. “Ini bukan sekadar pameran, tapi pengalaman batin. Sangat cocok dengan suasana Museum Tsunami,” ungkapnya.

Kehadiran galeri puisi ini tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan PPN XIV 2026, tetapi juga berhasil menghidupkan ruang publik dengan sentuhan sastra yang mendalam. Lobi museum pun menjelma menjadi ruang apresiasi, tempat kata-kata menjelma makna dan menyapa setiap jiwa yang melintas.(Rnld)

Exit mobile version