Nasional

Transformasi Puisi ke Film Menggugah PPN XIV Aceh 2026, Dari Imajinasi Lirik ke Layar Sinema

33
Sineas asal Aceh, Davie Abdullah, sebagai Transformasi Puisi ke Film pada kegiatan Nusantara Puisi Musikal dan Teatrikal Puisi Visual di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Sabtu (27/6/2026). FOTO/ MAULANA

posaceh.com, Banda Aceh — Suasana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Sabtu (27/6/2026), dipenuhi nuansa artistik dan reflektif saat peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 mengikuti rangkaian kegiatan Nusantara Puisi Musikal dan Teatrikal Puisi Visual.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang dialog kreatif lintas disiplin, mempertemukan puisi dengan musik, teater, hingga film sebagai medium ekspresi yang saling bersinggungan.

Pertunjukan musikalisasi dan teatrikal puisi oleh Teater Rongsokan yang mengangkat karya penyair legendaris Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, membuka ruang imajinasi penonton. Kata-kata puitik yang biasanya hidup di atas kertas, dihidupkan melalui gerak, suara, dan visual yang menggugah emosi.

Memasuki sesi diskusi yang dimoderatori Rini Intama, tema transformasi puisi ke film menjadi pembahasan utama yang menyita perhatian peserta. Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari latar belakang berbeda, mulai dari teater, sastra, hingga perfilman.

Penyair Acep Zamzam Noor sebagai Transformasi Puisi ke Film Nusantara Puisi Musikal dan Teatrikal Puisi Visual di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Sabtu (27/6/2026). FOTO/ MAULANA

Jose Rizal Manua, aktor sekaligus pegiat seni, menguraikan bagaimana puisi dapat berkembang menjadi karya sinema yang utuh dan kuat. Ia mencontohkan film klasik “Bulan di Atas Kuburan” karya Asrul Sani yang berangkat dari puisi singkat Sitor Situmorang berjudul Malam Lebaran.

Puisi tersebut hanya terdiri dari satu larik terkenal, “Bulan di atas kuburan”, namun justru memicu tafsir panjang lintas generasi.

“Puisi itu sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya, ia membuka ruang tafsir yang luas. Itu yang kemudian menginspirasi film,” ujar Jose.

Ia juga menyoroti film “Puisi Tak Terkuburkan” karya Garin Nugroho yang diangkat dari puisi-puisi Ibrahim Kadir, penyair asal Aceh. Film hitam putih tersebut dinilai sebagai karya berani, baik secara estetika maupun naratif.

Menurut Jose, film tersebut tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga pengalaman puitik yang intens. Sepanjang film, Ibrahim Kadir membacakan puisi sebagai narasi utama yang mengiringi visual tentang tragedi kemanusiaan.

Aktor sekaligus Pegiat Seni, Jose Rizal Manua, sebagai Transformasi Puisi ke Film Nusantara Puisi Musikal dan Teatrikal Puisi Visual di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Sabtu (27/6/2026). FOTO/ MAULANA

“Film ini menunjukkan bahwa puisi bisa menjadi tulang punggung sebuah karya sinema, bukan sekadar pelengkap,” katanya.

Ia menambahkan, keberanian Garin Nugroho dalam menghadirkan visual minimalis, pengambilan gambar panjang tanpa potongan, serta pendekatan teatrikal, menjadikan film tersebut kuat secara artistik dan emosional.

Pandangan senada disampaikan penyair Acep Zamzam Noor yang menegaskan bahwa puisi merupakan “roh” bagi berbagai bentuk kesenian.

“Film yang menyentuh pasti memiliki tenaga puisi. Begitu juga novel, musik, dan seni lainnya. Puisi itu inti dari ekspresi artistik,” ujarnya.

Acep juga menyinggung bahwa proses alih wahana karya sastra bukan hal baru. Ia mencontohkan tradisi cerita pantun di Sunda yang berkembang dari bentuk lisan menjadi rekaman, transkrip, hingga novel.

Menurutnya, setiap proses transformasi melahirkan bentuk baru tanpa menghilangkan esensi cerita.

“Ketika sebuah puisi difilmkan, hasilnya tidak harus sama. Justru di situlah lahir karya baru dengan tafsir baru,” katanya.

Sementara itu, sineas asal Aceh, Davie Abdullah, memaparkan pengalaman kreatifnya dalam mengadaptasi sastra lisan ke dalam film melalui karya “Hikayat Warung Kopi”.

Peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 mengikuti rangkaian kegiatan Nusantara Puisi Musikal dan Teatrikal Puisi Visual di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Sabtu (27/6/2026). FOTO/ MAULANA

Ia menjelaskan bahwa proses tersebut tidak sekadar memindahkan teks ke layar, tetapi menerjemahkan gagasan dan nilai yang terkandung di dalamnya.

“Film adalah medium yang sangat kuat untuk menyampaikan nilai. Walaupun tidak utuh, esensi dari puisi tetap bisa dihadirkan dengan cara yang kreatif,” ujar Davie.

Ia juga menyoroti pentingnya konteks lokal dalam proses transformasi tersebut. Menurutnya, warung kopi di Aceh menjadi ruang komunikasi yang efektif dalam menyebarkan gagasan, layaknya panggung budaya di tempat lain.

Diskusi semakin menarik ketika para narasumber menekankan bahwa setiap medium memiliki “bahasa” sendiri. Puisi bekerja dengan kata dan imajinasi, sementara film bekerja dengan visual dan suara. Perbedaan ini justru menjadi kekuatan dalam proses alih wahana.

Para peserta pun diajak untuk tidak terpaku pada kesetiaan terhadap teks asli, melainkan melihat transformasi sebagai proses kreatif yang melahirkan pengalaman baru.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa puisi tidak hanya hidup di buku atau panggung baca, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi karya lintas medium yang lebih luas jangkauannya.

Melalui forum seperti PPN XIV Aceh 2026, para penyair, seniman, dan sineas dipertemukan dalam satu ruang dialog yang memperkaya perspektif dan membuka peluang kolaborasi.

Lebih dari sekadar festival sastra, PPN XIV Aceh 2026 menjelma sebagai ruang eksplorasi ide, tempat di mana puisi terus menemukan bentuk-bentuk baru untuk tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.(Rnld)

Exit mobile version