posaceh.com, Singkil – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah mengalirkan listrik ke daerah terpencil Desa Guha Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil yang tidak pernah merasakan listrik sejak Indonesia merdeka, kini masyarakat di sana hidup dalam terang.
Manager Komunikasi & TJSL PLN UID Aceh, Zulfan M Jamil mengatakan, aliran listrik ke Desa Guha, Aceh Singkil telah berhasil disambungkan melalui program PLN membangun jaringan listrik desa 2025.
Pembangunannya diselesaikan tahun ini hingga mencapai 100 persen.
“Sudah dialirkan listrik sampai Dusun 1 (Perabis), Desa Guha masuk dalam target pembangunan pada roadmap listrik desa tahun 2025,” kata Zulfan M Jamil kepada ANTARA, di Banda Aceh, Kamis (5/11/2026).
Zulfan menjelaskan, pembangunan jaringan listrik ke Desa Guha, Aceh Singkil tersebut sepanjang 2.769 mtrs (meter sirkuit) dengan tegangan menengah.
Lalu, 2.121 mtrs jaringan tegangan rendah, dan satu unit transformator distribusi (trafo distribusi) sebesar 50 kVA (kilo Volt Ampere).
Sebagai informasi, Desa Guha, Aceh Singkil ini dikenal sebagai salah satu daerah yang cukup terpencil (masuk daerah tertinggal, terdepan dan terluar atau 3T), dan mengalami keterbatasan infrastruktur dasar selama puluhan tahun.
Desa ini hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua. Kondisi itu membuat petugas PLN kesulitan membawa tiang-tiang baja listrik menuju lokasi tersebut.
Hingga akhirnya terpaksa mengangkat menggunakan tangan sendiri.
Zulfan menjelaskan, upaya penyambungan tiang listrik ke sana membutuhkan waktu dan kerja ekstra.
Karena, di titik awal pemasangan yakni dari Desa Kuta Batu hingga sampai ke Desa Guha memiliki jarak sekitar 27,8 kilometer.
Sehingga, PLN harus memasang banyak tiang baja, diantaranya, 22 batang tiang baja sembilan meter, dan 62 batang tiang baja 12 meter.
Meski harus bekerja keras, pemasangan akhirnya berhasil menyelesaikan tanggung jawab hingga 100 persen.
“Berdasarkan data evaluasi, status pengerjaan untuk seluruh lokasi pada tahun 2025, termasuk Aceh Singkil telah selesai 100 persen,” tegas Zulfan.
Selain itu, Zulfan juga menjelaskan terkait kondisi kelistrikan di daerah 3T di Aceh. Di mana, secara umum Rasio Desa Berlistrik (RDB), telah mencapai 100 persen, dan Rasio Elektrifikasi (RE) 99,96 persen.
Untuk penyediaan akses listrik di wilayah terisolasi 3T, lanjut dia, PLN lebih berkonsentrasi terhadap pengembangan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) setempat, seperti pembangunan PLTS Komunal atau PLTMH.
Ia menegaskan, secara administratif, 100 persen desa di Aceh (6.500 desa) telah teraliri listrik. Tinggal pada tingkatan dusun yang belum seluruhnya teraliri.
Maka dari itu, PLN telah memasang target perluasan ke 112 lokasi dusun selama periode 2025-2028, dan prioritas tertinggi untuk 2026 ini yakni di Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Utara, dan Gayo Lues.
Sejauh ini, sambung Zulfan, kendala utama PLN mengaliri jaringan listrik di Aceh karena keterbatasan akses jalan/jembatan menuju lokasi, dan proses perizinan kawasan hutan.
“Solusinya, berupa perluasan jaringan (grid extension) dan dukungan pemerintah daerah untuk menyiapkan lahan clean and clear, memfasilitasi perizinan, serta membangun infrastruktur dasar,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Zulfan kembali menegaskan, sesuai roadmap listrik desa tahun 2025-2028, PLN UID Aceh siap menjalankan penugasan pemerintah melalui KESDM untuk melaksanakan program listrik desa APBN 2026 guna mengakomodasi 112 lokasi dusun tersebut.
Hingga Oktober 2026, PLN UID Aceh telah melaksanakan pembangunan 76 lokasi. Serta, melakukan sinkronisasi data terhadap 73 usulan lokasi tambahan dari pemerintah daerah, dilanjutkan dengan survei lapangan dan validasi data langsung terkait kelayakan teknis hingga perizinan.
Lalu, karena Aceh baru tertimpa bencana, PLN UID Aceh berkomitmen untuk terus memastikan keandalan dan pemulihan pasokan listrik pascabencana, termasuk dan terutama di daerah 3T.
PLN menyadari bahwa ketersediaan listrik adalah kebutuhan esensial yang sangat krusial dalam masa pemulihan darurat bencana.
“Maka dari itu, seluruh personel dan ketersediaan material cadangan (material fast moving) selalu disiagakan guna memastikan sistem kelistrikan di wilayah terdampak dapat kembali menyala dalam waktu sesingkat mungkin,” demikian Zulfan M Jamil.(Muh/*)
