Daerah

Pemulihan Pascabencana di Aceh Tengah, Air Bersih jadi Fokus Utama

13
Tim dari FTUI membangun fasilitas air bersih di Huntara Aceh Tengah. FOTO/Istimewa

posaceh.com, Takengon – Penyediaan akses air bersih menjadi salah satu prioritas dalam pemulihan kehidupan warga terdampak bencana di Desa Gewat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Infrastruktur tersebut disiapkan untuk mendukung kebutuhan 11 keluarga yang akan menempati hunian sementara (huntara) setelah bangunannya selesai didirikan.

Persoalan air bersih menjadi perhatian karena sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat berada cukup jauh dari kawasan huntara.

Jaraknya sekitar 1,5 kilometer sehingga diperlukan jaringan distribusi khusus agar kebutuhan air penghuni dapat terpenuhi.

Tim Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) yang dipimpin Dr.-Ing. Ir. Sucipta Laksono, S.T., M.T., ASEANEng., Kamis (5/11/2026) kemudian membangun jaringan distribusi sekaligus instalasi pengolahan air untuk kawasan tersebut.

Upaya ini menjadi bagian dari penanganan pascabencana yang tidak hanya berfokus pada pembangunan tempat tinggal, tetapi juga pemenuhan infrastruktur dasar bagi masyarakat terdampak.

Sebelum membangun jaringan distribusi, tim FTUI melakukan survei untuk menentukan sumber air yang memenuhi aspek kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

Selama ini, masyarakat Desa Gewat mengandalkan mata air pegunungan yang ditampung terlebih dahulu sebelum dialirkan ke rumah-rumah warga.

Namun, sumber air tersebut menghadapi persoalan kualitas ketika musim hujan tiba.

Tingkat kekeruhan air meningkat cukup tinggi sehingga masyarakat kerap harus menggunakan air dengan kualitas kurang baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penyediaan air bagi penghuni huntara tidak cukup hanya dengan menghubungkan sumber mata air ke kawasan hunian.

Diperlukan pula proses pengolahan agar air yang digunakan memenuhi kebutuhan higiene dan sanitasi.

Setelah mengidentifikasi sumber air potensial, tim FTUI melakukan perhitungan hidraulis untuk merancang jaringan distribusi menuju kawasan huntara.

Pemetaan dan simulasi aliran dilakukan agar air dapat menjangkau seluruh unit hunian dengan memanfaatkan energi gravitasi.

Sistem ini memungkinkan distribusi air berlangsung tanpa bergantung pada pompa listrik.

Dengan demikian, infrastruktur yang dibangun diharapkan dapat beroperasi secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Air dari sumber mata air juga melewati instalasi pengolahan sebelum didistribusikan kepada penghuni.

Sistem filtrasi yang digunakan mengandalkan media karbon aktif dan iron removal filter untuk membantu mengurangi zat pencemar, terutama kandungan logam yang terdeteksi pada sumber air.

Instalasi tersebut memiliki kapasitas produksi 1.500 liter per jam. Adapun debit air yang dialirkan ke masing-masing unit huntara mencapai 0,3 liter per detik.

“Kami berharap, bantuan terkait akses air bersih ini dapat menjaga kualitas air agar tetap memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dalam berbagai kondisi musim, terutama bagi para calon penghuni Huntara,” ujar Dr. Sucipta Laksono selaku ketua tim FTUI bagian penyediaan air bersih di Huntara.

Infrastruktur Dasar Jadi Bagian Pemulihan Pascabencana

Setelah seluruh jaringan dan instalasi selesai dibangun, tim FTUI melakukan commissioning untuk menguji kinerja sistem sekaligus memastikan air dapat mengalir dengan baik menuju setiap unit huntara.

Pembangunan infrastruktur tersebut turut melibatkan Kepala Desa Gewat atau Reje bersama masyarakat setempat.

Warga bergotong royong membantu pelaksanaan pekerjaan selama tim berada di lokasi.

Pembangunan huntara bagi 11 keluarga terdampak bencana di Desa Gewat sendiri telah memasuki tahap penyelesaian setelah delapan bulan sejak peletakan batu pertama.

Ketersediaan air bersih diharapkan membuat hunian sementara tersebut lebih layak ditempati.

Sebab, pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan penyediaan tempat tinggal, tetapi juga memastikan warga memiliki akses terhadap air bersih, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya.

Infrastruktur tersebut menjadi bekal penting bagi masyarakat untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari sembari membangun kehidupan setelah bencana.(Muh/*)

Exit mobile version