Nasional

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 19 Juli 2026

43
×

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 19 Juli 2026

Sebarkan artikel ini
BPBD Kabupaten Jember mendistribusikan air kersih kepada warga terdampak kekeringan di Desa Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jawa Timur, pada Sabtu (18/7/2026). FOTO/BPBD Kabupaten Jember

posaceh.com, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum laporan bencana pada periode Sabtu hingga Minggu, 18-19 Juli 2026.

Pada musim kemarau ini, Mayoritas peristiwa signifikan dari beberapa daerah di Indonesia berupa kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Terdapat anomali kejadian yaitu banjir bandang di Kabupaten Agam, serta adanya konflik sosial di Adonara Timur.
Laporan kejadian bencana signifikan pertama datang dari Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, berupa bencana akibat konflik sosial di Kecamatan Adonara Timur.

Peristiwa konflik antar kelompok warga terjadi antara masyarakat Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan masyarakat Desa Narasaosina pada Sabtu (18/7/2026), pukul 06.15 WITA.

Konflik kekerasan antar warga ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan tujuh orang mengalami luka.

Kerugian material tercatat antara lain 20 unit rumah terdampak, satu unit bangunan usaha, dan satu unit sepeda motor.
Wakil Bupati Flores Timur dan unsur Forkopimda, diantarnya Ketua DPRD, Dandim 1624 Flores Timur, Wakil Kapolres Flores Timur, Sekretaris Daerah, anggota DPRD Kabupaten  Flores Timur), bersama personel Kodim 1624 Flores Timur dan Polres Flores Timur sekitar pukul 07.30 WITA langsung bergerak ke lokasi konflik dan melakukan upaya persuasif untuk menghentikan konflik.

Kondisi saat ini, Minggu (19/7), masih dalam pemantauan dan pengendalian aparat keamanan guna menjaga situasi tetap kondusif.

Hari sebelumnya, pada Kamis (16/7/2026), Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Wakil Bupati Flores Timur mengunjungi Kecamatan Adonara Barat untuk meresmikan bangunan hunian tetap dan sumur bor pascakonflik antar warga di Desa Bugalima.

Kepala BNPB turut menjadi saksi ikrar damai dengan pertukaran cinderamata berupa sarung antara tokoh masyarakat Desa Bugalima dan Desa Ilepati di Kantor Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (16/7/2026).

Selanjutnya, laporan bencana signifikan dari Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Banjir bandang  terjadi di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, pada Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 19.45 WIB. Banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi dan pendangkalan aliran Sungai Batang Tumayo hingga permukiman warga.

Berdasarkan data asesmen oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, sebanyak 90 Kepala Keluarga (KK) terdampak. Ketika kejadian, sebanyak 450 warga mengungsi sementara waktu. Menjelang dini hari banjir dilaporkan berangsur surut dan sebagian pengungsi kembali ke rumah masing-masing.

Selain dua kejadian bencana signifikan di atas, BNPB juga menerima laporan kejadian bencana kekeringan yang mendominasi sejumlah kabupaten/kota di Pulau Jawa dan karhutla di wilayah Pulau Sumatra dan Kalimantan.

Dari wilayah Jawa Timur, Kabupaten Jember dan Pasuruan dilanda kekeringan sejak awal Juli 2026.

Sebanyak 870 KK di Desa Sumber Jeruk, Kecamatan Kalisat, dan Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, Jember mengalami kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih.
Pada Sabtu (18/7), BPBD Kabupaten Jember mendistribusikan total 9.000 liter bantuan air bersih ke desa terdampak.

Sementara itu, di Kabupaten Pasuruan, kekeringan melanda Desa Petung, Gerbo, dan Winongan. Total warga terdampak dari ketiga desa tersebut mencapai 615 KK. Pada Sabtu (18/7) BPBD Kabupaten Pasuruan telah melakukan pendistribusian air bersih di Dusun Precet, Dusun Tegal di Desa Petung sebanyak 2 ritase.

Di Jawa Tengah, 10.688 warga Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten mengalami kesulitan mendapatkan air bersih karena debit sumber air surut. BPBD Kabupaten Klaten menyalurkan bantuan air bersih dengan total mencapai 285 tangki atau 1.425.000 liter pada periode 15 Juni hingga 18 Juli 2026.

Hal serupa terjadi di Kabupaten Kudus, Boyolali, Banyumas, dan Pemalang di Jawa Tengah.

Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, wilayah terdampak kekeringan meluas hingga mencapai 33 desa di 17 kecamatan. Total warga terdampak mencapai 43.451 jiwa.

Gubernur Jawa Barat telah mengeluarkan Surat Nomor 360/Kep.307-BPBD/2026 Tentang Status Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 yang berlaku sejak 1 Juli hingga 30 September 2026.

Pada Sabtu (18/7), BPBD Kabupaten Bogor melakukan pengiriman air bersih sebanyak 5.000 liter (1 ritase) di wilayah Kecamatan Kemang (Desa Pabuaran) , 5.000 liter (1 ritase) di Kecamatan Ciampea (Desa Cibanteng), 5.000 liter (1 ritase) di Kecamatan Jasinga (Desa Curug) dan 5.000 liter (1 ritase) di Kecamatan Leuwisadeng (Desa Sadeng Kolot), 5.000 liter (1 ritase) di Dusun Leuwisadeng, 15.000 liter (3 ritase) di Dusun Tenjo Kecamatan Tenjo.

Pada masa musim kemarau tahun ini  pemerintah tidak hanya fokus dalam penanganan karhutla di enam provinsi prioritas karhutla yaitu Provinsi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

Namun pemerintah pusat juga memantau wilayah lain yang berpotensi mengalami karhutla akibat kenaikan suhu udara yang signifikan, seperti di wilayah Aceh.

Pada hari Jumat (17/7/2026), pukul 13.30 WIB, Pos Damkar Meureubo dan BPBD Kabupaten Aceh Barat menerima informasi ada kebakaran lahan yang berdekatan dengan rumah warga di Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo.

Empat hektare lahan terbakar dengan rincian 0,5 hektare di Kecamatan Meureubo, Gampong Gunung Kleng dan 3,5 hektare di Kecamatan Johan Pahlawan.

Hingga Sabtu (18/7/2026) BPBD Kabupaten Aceh Barat bersama tim Damkar melakukan penanganan di lapangan dengan melibatkan dua armada water station dari Armada Damkar Mako dan Armada 011 Pos Meureubo.

Api di lokasi Gampong Gunong Kleng telah tertangani 95% sedangkan si jago merah di lokasi Gampong Lapang masih dalam penanganan.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering di masa musim kemarau saat ini.

Isi cadangan air saat pasokan masih tersedia, gunakan air sesuai kebutuhan, perbaiki keran atau pipa yang bocor, dan gunakan kembali air bekas yang masih layak (misalnya air cucian sayur untuk menyiram tanaman).

BNPB juga mengimbau agar masyarakat juga tetap waspada terhadap kemungkinan bencana geologi seperti gempabumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah kesiapsiagaan dan senantiasa memantau pembaruan informasi dari sumber resmi dan terpercaya seperti BNPB, BPBD dan BMKG,(Muh/*)