NewsOlahraga

Tangis Bahagia Albiceleste atau La Furia Roja

66
×

Tangis Bahagia Albiceleste atau La Furia Roja

Sebarkan artikel ini
Wartawan Olahraga Media Pos Aceh : Sudirman Mansyur

Catatan : Sudirman Mansyur
Wartawan Olahraga Media Pos Aceh

MetLife Stadium akan menjadi altar penobatan juara dunia. Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB, laga final partai ke104 Piala Dunia 2026 mempertemukan dua raja benua: juara bertahan Argentina kontra kampiun Eropa, Spanyol.

Laga ini bukan sekadar perebutan trofi, akan tetapi duel ambisi, prestise, dan dua filosofi yang bertolak belakang, sehingga menarik perhatian publik sejagat.

Albiceleste bak aktor utama dalam drama India, seolah-olah tumbang di paruh awal, namun selalu menemukan jalan untuk berdiri tegak sebagai pemenang di akhir cerita.

Perjalanan Argentina menuju final adalah lorong penuh tikungan maut. Di fase gugur, jantung Tango terus dipompa adrenalin. Butuh nafas extra time untuk menaklukkan kuda hitam Tanjung Verde 3-2.

Pada 16 besar, Lionel Messi dkk sudah dikubur hidup-hidup saat tertinggal 0-2 dari Mesir hingga menit ke-79, lalu bangkit dari liang kubur untuk menang 3-2.

Laga perempat final, dengan 10 prajurit, Argentina mengoyak Swiss 3-1 di ujung laga. Pada semifinal, Inggris sempat mematikan lampu harapan lewat gol Anthony Gordon, sebelum Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez menyalakannya kembali.

Apakah drama yang sama akan terulang. Akankah Tim Tango kembali berpura-pura tumbang di awal untuk kemudian mencuri kemenangan di tikungan terakhir atas Spanyol?.

Keraguan itu saja bisa sirna, karena Argentina adalah maratonis yang tak kenal lelah. Fisik baja, lari bagai kijang, koordinasi antar lini seperti orkestra yang rapi, dan ritme permainan yang cukup baik.

Dalam penampilan itu, ada sang dirigen Lionel Messi, dengan ujung tombak yang haus gol yaitu Julian Alvarez, Enzo Fernandez, dan Lautaro Martinez.

Argentina datang ke New Jersey dengan satu ambisi: mengukir bintang keempat dan mempertahankan mahkota yang direbut di Qatar 2022.

Namun pasukan Lionel Scolani juga punya kelemahan yakni pertahanan yang sering tertidur di menit awal dan membiarkan gawang kebobolan lebih dulu.

Orkestra Tak Terduga

Jika Argentina adalah film drama, Spanyol adalah simfoni yang mengalun pelan namun mematikan.

Tak banyak yang menjagokan Spanyol di awal event. La Roja atau Si Merah bahkan memulai dengan nada sumbang, ditahan 0-0 oleh Tanjung Verde di Grup H. Tapi setelah itu, menghabisi semua lawannya.

Anak asuh Luis de la Fuente mengamuk, menggilas Arab Saudi 4-0 dan mengunci puncak grup lewat kemenangan 1-0 atas Uruguay.

Pada fase gugur, Tim Matador ini menjelma algojo yang dingin, melibas Austria 3-0, memadamkan Portugal 1-0, menyingkirkan Belgia 2-1, hingga meredam dan favorit juara Prancis di semifinal.

Spanyol adalah tim yang solid, perpaduan darah muda dan senior yang menari di atas bola. Ada Pedri sang arsitek, Mikel Merino sang supersub, dan Lamine Yamal si bocah ajaib.

Lini depan ada Baena dan Oyarzabal menjadi mata pisau yang siap menikam kapan saja pertahanan dan mengoyak jala lawan.

La Roja tidak bergantung pada satu bintang, kekuatan tim ini adalah kolektivitas. Menekan dengan tempo tinggi, merangkai serangan pendek dan panjang, mengurung lawan dalam penguasaan bola, dan menyerang balik dengan tajam.

Spanyol mengusung misi merebut takhta dunia untuk kedua kalinya, mengulang romansa indah Afrika Selatan 2010. Sudah 16 tahun lamanya La Furia Roja menanti, Piala Dunia 2026 ini dengan generasi barunya Yamal dkk yang ingin menulis bab keduanya sendiri, ingin kembali berkuasa.

Namun di balik keanggunan itu, Spanyol kadang lengah. Saat sudah di atas angin, pagar pertahanan tim ini kerap membiarkan pintu sedikit terbuka. Celah yang bisa menjadi undangan bagi lawan untuk menyamakan kedudukan dan memenangkan laga.

Ini adalah pertarungan dua kutub, kontrol yang kuat, kolektivitas yang menari melawan determinasi dan magis individu yang membara.

Jika Spanyol bisa mengunci pintu lebih awal dan memanfaatkan kebiasaan Argentina yang start lambat, piala akan berlayar ke Iberia. Namun jika Argentina kembali memainkan lakon sang penyintas, jangan kaget jika MetLife kembali menjadi panggung air mata bahagia Albiceleste.