Pada suatu senja yang lembab di Samahani, sekitar tahun 1900, ketika kabut turun perlahan dari perbukitan dan aroma mesiu masih menggantung di udara, seorang perempuan Aceh melangkah menuju bivak Kompeni. Tahun-tahun itu adalah masa paling getir dalam Perang Aceh—ketika patroli marsose menyisir kampung, dan pengkhianatan maupun kesetiaan sama-sama bisa berujung maut.
Perempuan itu datang tanpa gentar. Cantik, tutur tubuhnya anggun, tatapannya lurus dan dingin. Ia bukan tawanan. Ia datang sebagai penawar informasi. Kepada serdadu Belanda, ia menyampaikan tawaran yang mengejutkan: ia sanggup menunjukkan tempat persembunyian suaminya sendiri—seorang pimpinan pejuang terkenal dari L. Ara Tunong, VII Mukim Baet. Alasannya terdengar sederhana sekaligus menggetarkan: suaminya berlaku curang, tidak setia. Dan bagi perempuan Aceh yang merasa harga dirinya diinjak, hukuman yang pantas adalah kematian.
Kisah ini dicatat oleh H.C. Zentgraaff dalam bukunya, Atjeh. Dalam gaya reportase kolonial yang dramatik, ia menempatkan perempuan itu sebagai sosok misterius—perpaduan antara keindahan dan ancaman.
Dari Samahani, perempuan tersebut dibawa ke Indrapuri untuk menghadap Overste Joannes Benedictus van Heutsz, salah satu komandan penting dalam operasi militer Belanda di Aceh. Di ruangan pertemuan itu hadir pula sejumlah opsir tinggi. Mayor Otken—demikian dicatat—terpukau oleh kecantikannya. Seorang letnan bahkan berbisik dalam bahasa Prancis, “Chaque femme une reine.” Setiap perempuan adalah ratu.
Namun perempuan itu bukan datang untuk menjadi ratu di mata penjajah. Ia menetapkan syarat: hanya akan berbicara langsung kepada Van Heutsz; seorang komandan perang Belanda paling terkenal dan penerjemah bernama Boon cukup menjembatani bahasa. Rencana pun disusun dengan rapi. Ia akan kembali ke kampungnya. Pada malam gelap tanpa bulan, ia akan menunggu patroli marsose dan memandu mereka menuju tempat persembunyian suaminya. Serangan akan dilakukan secara mendadak. Cepat. Senyap. Mematikan.
Bagi Belanda, ini peluang emas. Informasi dari “orang dalam” adalah senjata paling ampuh dalam perang gerilya. Bagi perempuan itu, entah apa yang berkecamuk di dadanya—amarah, cemburu, kehormatan yang ternoda, atau mungkin siasat yang lebih dalam.
Malam yang dijanjikan pun tiba. Patroli bergerak menyusuri jalur sunyi. Tetapi sesuatu telah bocor. Serangan mendadak yang dirancang rapat-rapat ternyata diketahui pihak pejuang. Ketika pasukan marsose mendekat, tembakan lebih dulu menyambar dari kegelapan. Kekacauan tak terelakkan. Dalam baku tembak yang sengit, 28 prajurit Belanda tewas.
Perempuan itu tak pernah muncul di titik temu. Ia tak kembali untuk memandu. Ia tak tertangkap. Ia lenyap.
Apakah ia sungguh hendak mengkhianati suaminya, lalu berubah pikiran pada detik terakhir? Ataukah sejak awal ia memainkan peran ganda—menguji, memperdaya, bahkan menjebak Belanda dalam perangkap maut? Versi kolonial menyebut kemungkinan kebocoran berasal dari seorang kenalan Aceh; ada pula desas-desus bahwa rahasia bocor dari dalam tangsi sendiri. Tetapi tak ada kepastian.
Yang tersisa hanyalah catatan samar dalam arsip perang dan kesan mendalam di mata para marsose tentang perempuan cantik yang berani datang sendirian ke bivak musuh. Perempuan pemberani dari Samahani.
Dalam lanskap sejarah Aceh, perempuan bukan sekadar pelengkap. Dari medan laga hingga dapur logistik, dari pengintai hingga pengobar semangat, mereka hadir sebagai kekuatan yang tak jarang menentukan arah pertempuran. Kisah perempuan Samahani ini—apakah ia pengkhianat, korban harga diri, atau pejuang yang menyamar—menunjukkan betapa kompleksnya posisi perempuan dalam pusaran perang kolonial.
Di tengah perang yang panjang dan kejam, cinta dan cemburu pun bisa menjadi bahan bakar strategi. Dan di Samahani, pada suatu senja yang jauh di masa lalu, seorang perempuan telah mengajarkan bahwa dalam perang, yang paling sulit ditebak bukanlah arah peluru—melainkan isi hati manusia. (Hasnanda Putra)
