Banghas

Nurdin A. Rachman, Memori Seorang Bupati

3827
×

Nurdin A. Rachman, Memori Seorang Bupati

Sebarkan artikel ini

Sebuah foto kecil di tahun1989 saya kirimkan ke Nova Eliza, aktris cantik di Ibukota. Gambar gedung “8 sagoe” landmark kampus Universitas Jabal Ghafur, di Gle Gapui Sigli.

Saya berdiri bersama seorang Guru SD Mane dalam kunjungan belajar melihat sebuah “maha karya” seorang pemimpin, Nurdin A. Rachman.

Nova mengirim stiker sedih, putri sang Bupati ini mungkin terkenang masa kecil, mengingat sosok sang ayah.

Berawal dari obrolan WhatsApp itu, kami kemudian sepakat melanjutkan pembicaraan lebih serius. Membahas sebuah diskusi tentang seorang Nurdin sang bupati Pidie yang kesohor.

Komunikasi berlanjut dengan tokoh muda Pidie, Teuku Syawal. Gayung bersambut
, Ketua KNPI Pidie ini sepakat untuk menggagas sebuah diskusi tentang rekam jejak sang bupati ini.

Maka jadilah hari itu, sabtu 27 Juni 2020, sebuah diskusi digelar “diatas” langit Gle Gapui. Nova Eliza “hadir” bersama narasumber lain Wakil Bupati Pidie Fadhlullah TM Daud dan Anggota DPRA H Ihsanuddin MZ. Saya kebagian peran, pemantik diskusi, sementara moderator langsung ditangani Teuku Syawal langsung dari Kantor KNPI.

Diskusi berlangsung meriah dan menarik, waktu yang awalnya direncanakan 1 jam 30 menit, bergeser menjadi 2 jam lebih. Semua bicara kenangan dan pandangan tentang sosok Bupati teladan ini.

Bagaimana sosok Bupati Nurdin di mata mereka?

Wakil Bupati Pidie Fadhlullah TM Daud melihat sosok Bupati ini sangat luar biasa, penuh terobosan dan cocok dengan karakteristik Pidie.

“Ada yang menyebut Bupati kribo karena unik, multi talenta dan sangat merakyat,” kata Fadhlullah.

Tokoh muda yang dikenal aktif di sejumlah organisasi nasional ini kemudian memaparkan kisah kecil yang direkamnya waktu masih pelajar. Menurutnya, selain humoris, keseharian Nurdin A Rachman mudah ditemui dan sering menyapa warga kecil.

“Sosok ini sangat luar biasa, dekat dengan orang kecil dan disegani orang-orang besar, kalau pidato sangat berisi dan menunjukkan kelasnya sebagai orang Pidie yang pintar dan cerdas,” lanjut Fadhlullah.

Dia mencatat sejumlah terobosan yang dilakukan Bupati yang menjabat dua periode ini antara lain, pembangunana kampus Unigha, mengajak warga membuat pagar rumah dari bambu dan memperbaiki jalan-jalan lorong di gampong.

“Terobosannya di waktu itu membuat Gubernur Aceh sangat segan dan hormat kepadanya, malahan rapat Kepala Daerah tidak akan dimulai sebelum Bupati Nurdin tiba,” kenang Fadhlullah.

Begitulah sosok besar yang tercatat dalam sejarah Pidie, menjadi inspirasi untuk pembangunan Pidie di masa depan.

Sosok Nurdin A Rachman di Mata Ihsanuddin MZ

Tokoh muda yang juga Anggota DPR Aceh Ihsanuddin MZ SE MM memiliki kenangan khusus dengan almarhum Nurdin A Rachman semasa mendiang menjadi Bupati Pidie.

“Bupati yang dikagumi banyak orang, itu kenangan saya ketika masih pelajar ikut bersama orang-orang tua menyambut beliau di Ulim,” kata Ihsanuddin, dalam Dialog Daring KNPI Pidie, Sabtu (27/6/2020).

Dialog itu diselenggarakan oleh DPD KNPI Pidie, dengan moderator Teuku Syawal, pemantik diskusi Hasnanda Putra dan dua nara sumber lainnya adalah Wakil Bupati Pidie Fadhlullah TM Daud dan Aktris cantik sekaligus putri sang bupati, Nova Eliza.

Ihsan melanjutkan, meski seorang Bupati dan memiliki nama besar, hal itu tidak menjadikan Nurdin menjadi sosok yang elit. Malahan kadang ketika berada di tengah warga hampir tidak ada perbedaan dan selalu santai di mana saja.

“Menyambut Bupati Nurdin seperti kita sedang menunggu hari lebaran tiba, ramai dan meriah sekali,” kenang Ihsan.

Saat itu menurutnya ketika beliau berkunjung ke Ulim, sambutan masyarakat sangat luar biasa dan setiap pidatonya di aplaus dengan meriah.

” Betul-betul saya terkesima sosok luar biasa ini, hampir semua warga Pidie memiliki kenangan tersendiri terhadap beliau,” kata Ihsan.

Mantan Ketua DPD KNPI Aceh ini juga menyebutkan bahwa mendiang Bupati ini mampu membaca karakter seseorang dan kerap ini menjadi pembicaraan awal ketika beliau menyapa yang bersangkutan.

“Beliau memiliki pribadi yang mudah disukai dan chemistry sangat bagus,” kata Ihsan.

Kenangan lain yang disampaikan Ihsanuddin MZ adalah program pembuatan pagar bambu di setiap rumah warga di Kabupaten Pidie.

“Pageu trieng itu cukup bagus terlihat dan itu menunjukkan sebuah identitas tersendiri di depan rumah warga, saya waktu kecil ikut serta membuat pagar itu,” pungkas Ihsanuddin, mengenang sosok bupati kharismatik Nurdin A Rachman.

**
Begitulah, sebuah kenangan tersimpan rapi. Gajah mati meninggalkan gading, manusia pergi meninggalkan nama.

Sang Flamboyan itu telah lama pergi, namun memori tentangnya terus saja memikat hati. (Hasnanda Putra).

 

 

Penulis waktu kecil, tahun 1989, depan Gedung Lapan Sagoe, landmark Unigha Gle Gapui Sigli.