Banghas

Pocut Gambang, Perempuan yang Memilih Mati Terhormat

10
×

Pocut Gambang, Perempuan yang Memilih Mati Terhormat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Pocut Gambang, putri Cut Nyak Dien yang menolak bantuan marsose ketika terluka parah dalam pertempuran di hutan Tangse (Ai)

Sejarah Aceh melahirkan banyak perempuan luar biasa, tetapi sedikit yang keberaniannya diakui bahkan oleh musuh yang memeranginya. Salah satunya adalah Pocut Gambang, putri tercinta Cut Nyak Dien. Kisahnya bukan sekadar tentang perlawanan, melainkan tentang harga diri yang tak dapat dibeli, ditundukkan, ataupun dirampas. Bahkan ketika peluru telah merobek tubuhnya, ia memilih menghadapi maut dengan diam dan kepala tegak daripada menerima belas kasihan penjajah.

Kisah ini dicatat dalam buku Atjeh karya H.C. Zentgraaff. Ia mengawali tulisannya dari pengakuan para perwira dan komandan pasukan Belanda yang telah bertempur di berbagai penjuru Kepulauan Indonesia—bahwa tidak ada bangsa yang lebih pemberani dan fanatik dalam peperangan selain bangsa Aceh. Bahkan, menurut mereka, kaum wanita Aceh melampaui perempuan bangsa lain dalam keberanian dan ketidaktakutan menghadapi maut. Mereka kerap melebihi kaum lelaki Aceh sendiri, yang telah dikenal bukan sebagai lelaki lemah, dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama.

Ia bukan perempuan biasa

Di tengah hutan-hutan lebat Tangse, saat pasukan kolonial memburu tanpa henti, perempuan Aceh tidak tinggal di balik dinding rumah. Mereka berjalan di garis depan—mengandung, melahirkan, lalu kembali menggenggam senjata. Di antara mereka, Pocut Gambang berdiri sebagai wajah paling keras dari keberanian itu. Putri dari Teuku Umar dan darah perjuangan dari Cut Nyak Dien, ia mewarisi bukan hanya nama besar, tetapi juga sumpah yang tak bisa ditarik kembali: melawan atau mati.

Menurut penulis Belanda H.C. Zentgraaff, perempuan Aceh yang berjuang di jalan sabil Allah tidak mengenal kompromi. Dalam peperangan, mereka hanya mengenal dua pilihan: membunuh musuh atau gugur di tangan musuh. Baginya, tidak ada sosok yang lebih tepat menggambarkan watak perempuan Aceh yang pantang menyerah dan memandang rendah penjajah selain Pocut Gambang, istri Teungku Mayet di Tiro.

Dalam satu pengejaran panjang sekitar tahun 1910, pasukan marsose akhirnya menemukan jejak rombongan keluarganya. Serbuan datang cepat. Suaminya, Teungku Majet di Tiro, berhasil lolos dari kepungan. Namun Pocut Gambang tertinggal—jatuh dengan luka tembak di tubuhnya.

Tatkala pasukan mengadakan pembersihan medan, mereka menemukan perempuan itu—Pocut Gambang. Ia mengenakan celana dan baju hitam khas Aceh, tubuhnya tegap, berusia sekitar tiga puluh tahun. Ia terbaring dengan luka tembak parah di perutnya; darah mengalir, napasnya berat. Namun dalam keadaan segawat itu, wajahnya tetap menyimpan penolakan yang angkuh. Tidak ada jerit, tidak ada rintih. Ia menahan seluruh sakitnya dalam diam, seolah maut yang mendekat pun tak layak disambut dengan keluhan.

Ketika Schmidt, perwira marsose itu kemudian mendekatinya sambil membawa air minum. Dengan bahasa Aceh yang sopan, ia bertanya apakah perempuan itu bersedia lukanya diperban. Dengan sisa tenaga, ia mendesis dalam bahasa Aceh, “Bek kamat kee, kaphe budo…” — “Jangan sentuh saya, kafir kurap.” Baginya, lebih mulia mati di tanah itu daripada hidup dari tangan musuh yang ia hinakan.

Pocut Gambang memilih mati—bukan karena putus asa, tetapi karena keyakinan. Hidup, baginya, bukan sekadar bernapas. Hidup adalah kemerdekaan, kehormatan, dan kesetiaan kepada agama serta bangsanya. Ketika semua itu terancam dirampas, kematian justru menjadi jalan yang ia pandang lebih mulia.

Di sinilah kita menemukan salah satu wajah paling agung dari perempuan Aceh. Keberanian Pocut Gambang bukan lahir dari kebencian, melainkan dari keyakinan yang tak dapat ditawar dan kehormatan yang tak sudi dipertukarkan dengan apa pun. Apa yang ditulis H.C. Zentgraaff bukan sekadar catatan kolonial, tetapi sebuah pengakuan: bahwa perempuan Aceh bukan hanya pendamping perjuangan. Mereka adalah pejuang itu sendiri.

Lebih dari satu abad telah berlalu, tetapi nama Pocut Gambang tetap berdiri sebagai lambang keberanian yang melampaui zamannya. Ia mengajarkan bahwa kehormatan bukanlah sesuatu yang diminta, melainkan dipertahankan, bahkan dengan harga nyawa.

Dan dalam sejarah Aceh, Pocut Gambang akan selalu dikenang sebagai perempuan yang memilih mati terhormat daripada hidup dalam kehinaan. (Hasnanda Putra)