Pendidikan

Melalui Hardikda ke-62 Revitalisasi Pendidikan Vokasi

1825
×

Melalui Hardikda ke-62 Revitalisasi Pendidikan Vokasi

Sebarkan artikel ini

Kepala SMK Penerbangan Aceh, Baihaqi, SPd, MPd

posaceh.com Banda Aceh – Dunia pendidikan Aceh khususnya sekolah vokasi atau kejuruaan – keahlian, dinilai mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Namun pergerakkan untuk mencapai terus kemajuan masih lamban.

Oleh karena itu, Hardikda ke-62 (2 September 2021) diharapkan menjadi momen untuk merevitalitasasi pendidikan Aceh, khususnya kejuruan sehingga mutu dan kualitas bisa terus lebih baik.

“Melihat keadaan pendidikan vokasi atau kejuruan di Aceh sekarang ini ada perubahan, tetapi masih sangat lamban,” sebut Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan Aceh, Baihaqi, SPd, MPd yang ditanya posaceh.com, Jumat (3/9/2021).

Menurutnya, berkaitan dengan mutu dan kualitas pendidikan ada pergerakkan, namun masih belum representatif dengan anggaran yang diberikan atau dialokasikan.

Apalagi, katanya, sekarang ini anggaran pendidikan banyak, tapi tidak diperuntukkan untuk pendidikan itu sendiri. Anggaran itu ada di kotak empat segi di dalam kelas, namun lebih banyak untuk fisik seperti membuat bangunan, pagar dan macam – macam, tetapi untuk pembelajaran masih kurang.

Karena itu, sebutnya, momen Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) ke-62 tahun ini, bisa  dimanfaatkan untuk rekontruksi, termasuk bidang pendidikan vokasi. “Kalau bahasa kami di SMK, pendidikan direvitalisasi,” katanya.

Harapannya, untuk meningkatkan terus mutu dan kualitas pendidikan ini ke depan, juga harus serius dan maksimal menyiapkan sumber daya manusia (SDM).

Perhatian dan Pikirkan Bersama

Kecuali itu, katanya, banyak komentar terhadap pendidikan Aceh, yang menyebutkan mutu masih sangat rendah. Tetapi di satu sisi, masyarakat, para stakeholder dan pihak yang berkepentingan terkait dengan pendidikan masih belum ada yang bisa memberikan solusi, bagaimana pendidikan Aceh ke depan.

“Masih berkutat begitu saja, saling kritik, tidak ada pandangan dan solusi terbaik. Misalnya bagaimana guru-guru sekolah kejuruan ini dapat dipenuhi peralatan, dapat standar dan SMK unggulan di Aceh bisa bertambah,” katanya.

Baihagi mengatakan, Hardikda menjadi momentum adanya perhatian semua pihak untuk dunia pendidikan. “Saya berharap perhatian kita semua terhadap dunia pendidikan, karena pendidikan juga human investmen atau investasi masa depan,” ujarnya.

“Mari kita sama-sama memikirkan, terutama dunia pendidikan vokasi atau kejuruan, karena anak SMK kita siapkan jauh lebih bagus memasuki dunia kerja. Kami berharap,  pemerintah mengalokasikan anggaran 20 persen memang memang betul-betul untuk kemajuan sekolah kejuruan,” ujarnya.

Solusi Belajar di Masa Pandemi Covid-19

Sementara ditanya kegiatan belajar dan mengajar di sekolah yang dipimpinnya di masa pandemi corona virus desease 2019 (Covid – 19) ini, disebutkannya, menghadapi sesuatu yang dilematis.

Sekolah Menengah Kejuruan Penerbangan yang berlokasi di Gampong Data, Blang Bintang, Aceh Besar ini yang merupakan sekolah boarding (siswanya diasramakan), kadang harus memulangkan siswa – siswinya dan belajar daring dari rumah, jika daerah tersebut dalam status zona merah.

Di suatu sisi, sebutnya, apapun cerita, pendidikan kejuruan di daringkan sangat tidak efektif. “Begitupun, kami di SMK Penerbangan, sudah dua kali mencoba belajar daring ketika zona merah. Pada saat itu kami pulangkan anak – anak dan belajar secara daring,” katanya.

Belajar praktek tentang pengenalan, perawatan dan perbaikan mesin, elektro dalam dunia penerbangan yang sangat penting bagi siswa-siswi sekolah ini, sehingga belajar secara virtual dirasakan tidak efektif.

Siswa SMK Penerbangan sedang praktek aero modelling. Foto : Istimewa.

“Kami, anak – anak dan orang tua tetap ingin belajar tatap muka, karena belajar daring tidak efektif di SMK. Kami terus mencoba mencari solusi. Mencari aplikasi yang cocok dan lebih bagus untuk anak-anak,” ujar Baihaqi yang akrab disapa Pak Boy ini.

Banyak Instansi,TNI, Polri dan Pilot

Kecuali itu, diakuinya, minat lulusan SLTP untuk masuk SMK Penerbangan cukup tinggi. Rata-rata yang masuk SMK ini banyak, anak-anak yang suka menjadi militer. Bahkan ada imej SMK penerbangan semi militer.

Lulusan sekolah ini memang berpeluang diterima masuk TNI, Polri, dan banyak instansi pemerintah/BUMN. Termasuk masuk sekolah pilot lebih diutamakan.

“Minat banyak, cuma fasilitas sangat terbatas, sehingga penerimaan tahun ini saya batasi,” ujarnya.

Sebutnya, kebanyakan para siswa-siswi yang sekolah di SMK ini dari Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Sumatera Utara. Dari Aceh Besar tidak begitu antusias.

“Sedangkan Seleksi penerimaan siswa/siswi meliputi tinggi, berat badan, kesehatan, juga kemampuan matematika, karena kami harus memikirkan kondisi kalau siswa itu lulus nanti,” katanya.

SMK Keunggulan Nasional 

Meskipun para siswa fokus belajar tiori maupun praktek tentang penerbangan, namun SMK ini juga mampu meraih prestasi juara literasi tingkat Aceh pada 2021.

“Selama ini saya masih benahi hal fisik, agar sekolah lebih indah. Sekolah ini juga terpilih sebagai SMK pusat keunggulan nasional, sehingga ada dua SMK Penerbangan, satu di Aceh dan Bali,” ujarnya.

Untuk program ke depan, ia mencoba melakukan revitalisasi. “Saya akan mengajak para pihak untuk programkan kembali sekolah ini. Mulai dari pemenuhan sarana, prasana dan guru ditatarkan kembali,” katanya.

Menyangkut ketersediaan tenaga pengajar atau guru, Baihaqi menyebutkan, ada lima guru PNS untuk pelajaran pesawat terbang, dan beberapa guru honor dan kontrak. “Guru mencukupi dan menjadi perhatian kita terus meningkatkan kualitasnya,” katanya. (Sudirman Mansyur).