posaceh.com, Banda Aceh – Wakil Rektor III Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh Prof Mustanir menilai sistem silvofishery dapat menjadi solusi merawat dan menjaga ekosistem mangrove di kawasan pesisir seperti Aceh.
“Sistem ini (silvofishery) menawarkan jalan di mana mangrove dapat pulih, sementara kegiatan akuakultur tetap berjalan secara berkelanjutan untuk mendukung ekonomi lokal,” kata Prof Mustanir, di Banda Aceh, Selasa (28/4/2026).
Pernyataan itu disampaikan Prof Mustanir dalam kegiatan workshop Internasional Silvofishery Berkelanjutan dan Karbon Biru di Hutan Mangrove di Indonesia yang dilaksanakan oleh Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) USK, di Aula Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) USK Banda Aceh.
Kegiatan dengan tajuk “Dari Restorasi Menuju Keberlanjutan: Integrasi Mangrove dan Akuakultur melalui Sistem Silvofishery” itu turut diisi oleh oleh peneliti dari Kangwon National University Korea Selatan, Prof Min Kyu Moon, dan Dr Myeong Jun Kim dari CEO, Forest Environment & GeoSpatial Technology Research Institute.
Prof Mustanir menjelaskan, silvofishery sendiri merupakan jembatan strategis yang menghubungkan restorasi dengan produktivitas, konservasi dengan nilai ekonomi, serta ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Ia menyampaikan, mangrove bukan sekedar pepohonan di pesisir, melainkan jadi pelindung alami, penyerap karbon, pusat keanekaragaman hayati, sekaligus pondasi penghidupan masyarakat pesisir.
Namun saat ini, ekosistem penting ini menghadapi ancaman serius, mulai dari alih fungsi lahan, pencemaran, perubahan iklim, hingga praktik akuakultur yang tidak berkelanjutan.
Kondisi ini memberikan pesan bahwa semua pihak tidak bisa memisahkan aspek ekologi dari ekonomi, membutuhkan solusi yang mampu memulihkan ekosistem sekaligus menjaga keberlanjutan penghidupan masyarakat.
“Di sinilah sistem silvofishery menjadi sangat relevan. Silvofishery bukan sekedar pendekatan teknis, sistem ini menawarkan jalan di mana mangrove dapat pulih,” ujarnya.
Sebagai universitas pesisir, lanjut dia, USK Banda Aceh memiliki tanggung jawab sekaligus peluang besar, karena Aceh kaya akan sumber daya pesisir, tetapi juga rentan terhadap degradasi lingkungan.
“Karena itu, peran kita tidak boleh berhenti pada produksi pengetahuan semata. Kita harus memastikan bahwa riset menjadi aksi, data menjadi kebijakan, dan inovasi menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan,” katanya.
Maka dari itu, Prof Mustanir mendorong agar forum ini dapat menghasilkan tiga hal utama, yakni memperkuat strategi berbasis ilmiah untuk restorasi mangrove yang efektif.
Kemudian, mengembangkan praktik akuakultur berkelanjutan yang meningkatkan produktivitas tanpa merusak ekosistem. Ketiga, memastikan bahwa masyarakat pesisir menjadi penerima manfaat utama dari seluruh upaya ini.
Ia menegaskan, masa depan wilayah pesisir sangat ditentukan oleh pilihan yang diambil hari ini. Jika hanya mengejar keuntungan jangka pendek, maka dapat menghadapi risiko kerugian jangka panjang.
“Namun, jika kita mampu mengintegrasikan restorasi dengan keberlanjutan, maka kita akan menciptakan ketahanan bagi ekosistem, ekonomi, dan generasi mendatang,” demikian Prof Mustanir.(Muh/*)











