Posaceh.com, Banda Aceh – Era media cetak (print) kini mulai redup. Tiras koran atau surat kabar besar dilaporkan kini terus menurun. Bahkan, tak sedikit di antaranya kini tak terbit lagi, bangkrut. Fenomena ini tidak saja di Indonesia, tapi juga di luar negeri banyak media cetak yang gulung tikar. Ya, patut diakui, media cetak memang kalah bersaing dengan media siber (online).
Di tengah senjakala usia media cetak itulah Media Pos Aceh dengan motto informatif, kreatif dan aspiratif lahir. Dua belas tahun lalu, tepatnya pada 20 Oktober 2012, edisi perdana tabloid mungil ini hadir di tengah khalayak pembaca di Aceh. Tidak heboh dan tidak ada upacara seremonial menyambut kehadirannya ketika itu.

Sebagian orang melihat kehadiran media baru ini sebagai hal yang biasa-biasa saja, tidak istimewa. Bahkan ada pula yang mencibir dan memandang pesimis sambil bergumam “paling terbit satu atau dua edisi, setelah itu hilang tak berbekas”. Namun sebagian melihatnya sebagai satu terobosan berani di tengah senjakala usia media cetak.
Media Pos Aceh lahir berawal dari suatu pemikiran atau ide bagaimana adanya sebuah media yang diterbitkan di Tanah Rencong, manajemen dan redaksinya dikelola oleh jurnalis putra-putri Aceh. Edisi perdana Media Pos Aceh dicetak di sebuah perusahaan percetakan pers di Medan, Sumatera Utara.
Nama Media Pos Aceh dimaknai bahwa Aceh adalah tempat para jurnalis berkarya dan menjalankan tugas dari fungsi media pers yakni menginformasikan, kontrol sosial, hiburan, dan pendidikan.

Kehadiran media ini juga ingin ikut mengisi ruang sesuai fungsinya meski di tengah atmosfir pertumbuhan dan kompetitifnya media cetak serta perkembangan teknologi yang kian canggih. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan baik dari segi manajemen perusahaan dan keredaksian, media ini mampu terbit rutin.
Dalam perjalanannya, keterbatasan dan kekurangan itu, makin terasa payah bagi media ini untuk bisa bertahan, sehingga harus terbit dengan kondisi hidup Senin-Kemis atau boleh dibilang bak kata pepatah, hidup segan mati tak mau. Namun, tekad sekali layar terkembang surut berpantang, sehingga upaya selalu dilakukan agar media ini tetap bisa terbit, meski tidak dengan manajemen orang yang melahirkannya.
Berganti Manajemen
Memasuki usianya yang ke-6 pada 2018, Media Pos Aceh pun berganti manajemen agar bisa tetap eksis terbit rutin sepekan sekali. Dengan manajemen baru, ada darah segar untuk bangkit dan bisa berfungsi sebagai layaknya sebuah media, terbit rutin sepekan sekali.
Berbagai perbaikan pun dilakukan, hingga berupaya menjadikan Media Pos Aceh sebagai media penerbitan pers yang legal dengan mendaftarkan ke Dewan Pers. Alhamdulillah, media ini bersamaan memasuki usia ke-12, pada 2024 ini telah terverifikasi administratif dan faktual oleh Dewan Pers.
Media Pos Aceh mengusung visi-misi yang informatif, kreatif dan aspiratif, memiliki konten informasi sosial-masyarakat, politik, hiburan, ekonomi, pemerintahan dan olahraga dengan segmen pembaca untuk umum.
Di tengah perkembangan teknologi yang terus gencar, media-media siber yang tumbuh menjamur, sehingga Meedia Pos Aceh pun melakukan terobosan dengan membuka media online posaceh.com.
Melalui media online, Pos Aceh dapat meng-update secara cepat informasi dan berbagai berita peristiwa terkini. Krue seumangat Pos Aceh! (Sudirman Mansyur)











