Pagi tiba, mentari masih enggan menampakkan diri. Kabut masih saja melekat di bukit barisan Singgah Mata. Ibu-ibu bergegas menyiapkan menu makanan. Hidangan besar dan disusun rapi bertingkat, daun pisang menjadi pembatas, dan sebagian dimasukan kedalam sebagai tempat makanan nantinya.
Berbagai menu spesial telah masak dan siap disantap, dari kuah daging, keumamah, telur asin sampai mie hun dan juga buah-buahan.
Peringatan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW kerap dirayakan dengan sejumlah tradisi khusus dan istimewa di berbagai gampong di Pidie. Termasuk yang paling meriah dilakukan di Tangse, yang pada satu hari sebelumnya ikut menyajikan bakar leumang, makanan “wajib” di hari Maulid.
Di Pidie, leumang atau lemang merupakan makanan spesial hari-hari besar. Lemang berbahan utama beras ketan yang dicampur santan. Bahan tersebut kemudian dimasukan dalam seruas bambu yang di dalamnya telah terbungkus daun pisang.
“Selepas tamu menyantap makanan, baik di masjid dan meunasah atau di rumah-rumah, wajib bawa pulang leumang,” kata Bakhtiar, seorang warga Pulo Masjid I yang juga Ketua Pemuda Tani Indonesia HKTI Pidie ini bercerita kepada Banghas, Kamis (29/10/2020).
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang istimewa dan khas ini telah dilakukan turun temurun, menjadi hari-hari besar dalam “kalender” Aceh.
Gampong Pulo Masjid I di Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie ini merupakan desa tertua di Tangse. Desa di tengah lembah Singgah Mata ini dikenal juga sebagai “Gampong Wali”, karena Wali Negara terakhir dan para syuhada lainnya terkubur di gampong ini. Di gampong ini menjadi peristirahatan terakhir para syuhada antara lain Tgk Chik Mayed dan Tgk Chik Maad Muda sang Wali Negara terakhir dari trah Tiro.
Momentum Maulid atau Mulod dalam bahasa Aceh di gampong-gampong Tangse memiliki tradisi yang unik, sebagai penghormatan hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Perayaan Maulid selalu penuh dengan kemeriahan dan keakraban. Seakan seperti tiba hari besar atau hari raya.
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Masjid I selalu diperingati setiap tahunnya bertepatan tanggal 12 Rabiul Awal, disebut “Mulod Phon” atau Maulid Pertama.
Di Tangse dan Pidie pada umumnya, perayaan maulid tidak hanya dilakukan pada hari tanggal 12 Rabiul Awal saja, namun juga sampai 3 bulan lamanya.
“Mungkin Maulid di Aceh dengan perayaan terbesar dan terlama di dunia, pokoknya kenduri selalu dan ini bukti ada makan siang gratis di Aceh ,” kata Abu Kasem, tokoh Pemuda Aceh yang juga Jubir Transit Tangse sambil tersenyum.
Pelaksanaan tradisi perayaan maulid juga tercantum dalam kalender Aceh sampai 3 bulan lamanya. Mulai Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir dan Jumadil Awal disebut Mulod, Adoe Mulod dan Mulod Seuneulheuh menjadi bulan-bulan diperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW.
Tradisi kental perayaan Maulid ini tidak terlepas dengan model bungkusan makanan Idang Meulapeh (hidangan berlapis). Dikatakan demikian karena isinya berbagai macam makanan terbaik lengkap lauk pauk yang disusun rapi berlapis.
Seperti ketika Kenduri Maulid di Pulo Masjid I, terlihat puluhan hidangan diselimuti kain kuning diletakan rapi berjejer di dalam masjid. Kemudian beberapa saat segera diangkat ke balai-balai dalam komplek masjid untuk para tamu-tamu dari seluruh desa dalam kemukiman Pulo Masjid. Selanjutnya para tamu dari sejumlah gampong itu duduk mengitari Idang Meulapeh, menyantap aneka makanan sampai habis.
“Semua makanan harus habis, kalau tersisa ya kita bawa pulang, karena tradisi kita idang dibawa lengkap waktu pulang harus kosong, dan itu sebuah penghormatan,” timpal Faisal, warga Gampong Blang Dhod yang juga Kepala Puskesmas Tangse ini kepada Banghas, bercerita tentang perayaan Maulid di Gampong Blang Dhod yang juga dilakukan hari pertama 12 Rabi’ul Awal.
Gampong Blang Dhod, sebuah desa tua di Kemukiman Tanjong Bungong, Tangse. Menjadi desa di antara yang memperingati Maulid di bulan pertama tanggal 12 Rabi’ul Awal.
Begitulah cara orang-orang Pidie, khususnya di Tangse memeriahkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebuah tradisi istimewa di tanah para aulia. (Hasnanda Putra).
