Banghas

Marsose dan Kisah Potong Kepala di Gayo Lues

96
×

Marsose dan Kisah Potong Kepala di Gayo Lues

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tragedi penyerangan pejuang terhadap marsose dan pembalasan potong kepala di Gayo Lues (Ai)

Di masa-masa awal pembentukan korps Marsose di Aceh, lahir sebuah semboyan yang terdengar sederhana, namun sarat makna kekerasan: “jangan tembak, biarkan kelewang saja yang bicara.” Dari semboyan itu, menggema pekik yang lebih tajam dan menggetarkan—“Potong kepala!” Sebuah ungkapan yang bukan sekadar retorika perang, melainkan praktik nyata di medan tempur yang brutal dan tanpa kompromi.

Pada fase awal tersebut, penggunaan senjata api justru kerap diabaikan. Para serdadu Marsose lebih mengandalkan kelewang—sejenis pedang pendek yang tajam dan mematikan dalam jarak dekat. Pertempuran menjadi sangat personal, nyaris primitif, di mana keberanian, refleks, dan kekuatan tangan menentukan hidup dan mati. Namun, pilihan taktik ini bukan tanpa konsekuensi. Mengabaikan senapan dalam pertempuran modern justru kerap memperburuk situasi, membuat pasukan lebih rentan dalam menghadapi serangan yang terorganisir.

Semboyan “potong kepala” bukanlah sekadar slogan kosong. Ia hidup dalam tindakan. Banyak kisah mencatat bagaimana para Marsose benar-benar menebas kepala lawan mereka di medan tempur. Salah satu peristiwa yang paling mencolok terjadi di Blangkejeren pada 7 Desember 1926. Seorang pejuang Aceh Gayo menyerang dan berhasil menewaskan dua serdadu Belanda, yakni Sersan Gent dan Sersan de Gruiter, tepat di depan tangsi militer.

Peristiwa itu segera memicu reaksi cepat. Sersan Van den Broek mengejar pelaku hingga ke lokasi kejadian. Tanpa ragu, dalam satu ayunan kelewang yang cepat dan presisi, ia memenggal kepala penyerang tersebut. Tubuh tanpa kepala itu, dalam gambaran yang mengerikan, masih sempat melangkah beberapa langkah dengan darah menyembur deras sebelum akhirnya roboh ke tanah. Sebuah adegan yang terasa seperti potongan kisah gelap dari dunia fiksi, namun justru nyata terjadi di tanah Aceh.

Seiring waktu, pendekatan tempur Marsose mulai berubah. Pengalaman di lapangan mengajarkan bahwa senjata api tidak bisa terus diabaikan. Senapan karaben mulai mendapat tempat yang lebih penting dalam strategi pertempuran. Pasukan kini menembak ketika diperlukan, sementara kelewang tetap dipertahankan sebagai senjata pamungkas dalam duel jarak dekat—pertarungan satu lawan satu yang menentukan secara instan.

Kisah penyerangan penuh keberanian seorang pejuang Gayo Lues terhadap Marsose pada 7 Desember 1926, boleh jadi bukan sekadar peristiwa spontan di medan tempur, melainkan simpul dari dendam panjang yang terpatri dalam ingatan kolektif. Ingatan itu merujuk pada tragedi ketika Marsose menggempur Kampung Penosan di Gayo Lues, membumihanguskan permukiman dan menewaskan ribuan jiwa. Peristiwa berdarah yang oleh para tetua dikenang sebagai tragedi Benteng Penosan pada 11 Maret 1904 itu, meninggalkan luka mendalam lintas generasi—luka yang mungkin menjelma menjadi keberanian nekat, bahkan pengorbanan diri, dalam setiap serangan balasan terhadap kekuatan kolonial.

Dalam hal penggunaan kelewang, para Marsose dikenal sangat terlatih. Mereka tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga teknik anggar yang terstruktur dan disiplin. Latihan-latihan intensif membuat mereka mahir dalam mengayunkan bilah tajam itu dengan kecepatan dan akurasi tinggi. Bahkan, dalam catatan kolonial, kemampuan ini disebut melampaui keterampilan sebagian pejuang Aceh sendiri—sebuah klaim yang tentu tak lepas dari sudut pandang dan bias penulisnya.

Kisah-kisah seperti ini ditulis dengan sangat hidup oleh H. C. Zentgraaf, seorang jurnalis perang Belanda yang juga pernah menjadi serdadu. Zentgraaf dikenal tajam dalam mendokumentasikan realitas perang di Aceh—tidak sekadar sebagai laporan militer, tetapi sebagai potret keras tentang benturan dua dunia yang saling menolak tunduk. Dari tangannya, kita melihat bagaimana perang tidak hanya berlangsung dengan peluru dan strategi, tetapi juga dengan simbol, semboyan, dan kekerasan yang membekas dalam ingatan sejarah.

Di balik setiap pekik “potong kepala”, tersembunyi wajah perang yang sesungguhnya—liar, dekat, dan tanpa jarak. Sebuah bab kelam yang mengingatkan bahwa dalam konflik panjang di Aceh, kemanusiaan sering kali tergilas oleh bilah kelewang yang berbicara lebih dulu daripada kata-kata. (Hasnanda Putra)