Banghas

Amarah di Kampung Mugo: Sebuah Kisah dari Pesisir Barat

254
×

Amarah di Kampung Mugo: Sebuah Kisah dari Pesisir Barat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi sebuah kisah perempuan-perempuan di pantai barat (Ai)

Sekitar tahun 1930-an, ketika Aceh masih berada dalam bayang-bayang pemerintahan kolonial dan kehidupan masyarakatnya diwarnai kuatnya hukum adat, angin asin dari pesisir barat berembus perlahan menyapu rimbun kelapa dan ladang-ladang yang menguning di Kampung Mugo. Pada masa itu, kampung kecil tersebut berdiri sebagai komunitas yang menjunjung tinggi marwah—harga diri yang tak ternilai, lebih mahal dari harta, bahkan nyawa.

Di sanalah tinggal seorang panglima yang disegani, Panglima Ulee Heue. Namanya dikenal luas; keberaniannya di medan laga dan ketegasannya dalam memimpin membuatnya dihormati. Namun, setinggi apa pun kedudukan seorang lelaki, satu cela dapat menjatuhkannya ke jurang kehinaan.

Kabar perselingkuhan sang panglima menyebar seperti api di ilalang kering. Awalnya berbisik dari dapur ke dapur, dari sumur ke meunasah. Lalu ia menjadi desas-desus yang tak lagi bisa dibendung. Bagi masyarakat Aceh kala itu, aib bukan sekadar persoalan rumah tangga; ia mencoreng nama satu keluarga besar. Luka yang dirasakan seorang istri adalah luka kolektif.

Sang istri, yang selama ini hidup dalam bayang kehormatan suaminya, mendapati dirinya berdiri di antara cinta yang pernah ia miliki dan rasa perih yang menyesakkan dada. Ia tidak menangis di hadapan orang banyak. Ia memilih diam—diam yang berisi api. Dalam adat Aceh, perempuan bukan makhluk lemah. Ketika marwahnya diinjak, ia dapat menjelma kekuatan yang tak terduga.

Ia mendatangi para perempuan dalam keluarganya: saudari, sepupu, bibi, dan kerabat dekat. Mereka berkumpul dalam satu rumah kayu sederhana, membicarakan aib yang telah menjalar ke seluruh kampung. Suara mereka rendah, tetapi keputusan yang lahir dari musyawarah itu tegas: kehormatan harus ditegakkan.

Pada suatu siang yang terik, ketika Panglima Ulee Heue berada di rumah tanpa senjata, rombongan perempuan itu datang. Langkah mereka tidak tergesa, tetapi pasti. Awalnya sang panglima mengira mereka sekadar bertamu. Namun dari sorot mata dan wajah yang mengeras, ia menyadari nasib yang tengah menunggunya.

Ia mencoba melawan, tetapi tak siap menghadapi kemarahan kolektif. Dalam kekisruhan itu, tangan dan kakinya dipegang erat. Amarah yang telah lama terpendam menemukan jalannya. Peristiwa yang terjadi kemudian berakhir tragis—sebuah akhir yang meninggalkan jejak kelam dalam ingatan kampung.

Kisah ini dicatat dalam buku Atjeh karya H.C. Zentgraaf, seorang penulis Belanda yang merekam berbagai fragmen kehidupan dan budaya Aceh pada masa lampau. Dalam catatannya, peristiwa itu menjadi gambaran betapa dahsyatnya pembalasan ketika harga diri perempuan dianggap tercabik.

Menurut penuturan sejarah lokal, Kampung Mugo yang disebut dalam kisah tersebut diyakini berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Gampong Muga Rayeuk dan Mugo Cut, di Kecamatan Panton Reu, bagian dari Kabupaten Aceh Barat. Kini wilayah itu tenang—hamparan sawah menghijau, anak-anak bermain di pematang, dan masyarakat hidup berdampingan dalam kedamaian.

Waktu telah mengubah banyak hal. Hukum adat yang dahulu dijalankan dengan tangan sendiri kini berdampingan dengan sistem hukum negara dan nilai-nilai keadilan yang lebih terukur. Namun kisah Kampung Mugo tetap menjadi cermin tentang kuatnya solidaritas perempuan dan betapa tinggi posisi marwah dalam budaya Aceh.

Cerita ini bukan untuk memuliakan kekerasan, melainkan untuk memahami konteks zaman. Ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat tradisional, kehormatan adalah fondasi sosial yang tak boleh digoyahkan. Di balik tragedi itu tersimpan pesan tentang tanggung jawab, kesetiaan, dan konsekuensi dari pengkhianatan.

Di pesisir barat yang kini damai, angin tetap berembus seperti dahulu. Ia membawa gema cerita lama—tentang cinta yang berubah menjadi murka, tentang perempuan yang bangkit membela harga dirinya, dan tentang sebuah kampung kecil yang pernah menjadi saksi bagaimana marwah dipertaruhkan hingga titik akhir. (Hasnanda Putra)