Tak ada ibukota kabupaten kota seindah Kota Jantho, boleh dibandingkan dengan kota manapun di 23 kabupaten kota di Aceh. Namun letaknya di luar garis Aceh Lhee Sagoe (Indrapurwa di Peukan Bada / Ujong Pancu sekitarnya, Indrapatra di Krueng Raya dan Indrapuri sagoe sekitarnya) membuat kota “bogornya” Aceh ini seakan “hidup segan mati tak mau”.
Berbanding luas dan letak kabupaten Aceh Besar yang terhampar mulai Seulawah sampai Geurute, posisi Kota Jantho memang kurang beruntung. Untungnya kabar baik pintu masuk Tol yang mengarah ke kota indah ini, terselip harapan besar akan kemajuan di masa hadapan.
Upaya Pimpinan Daerah menjadikan Kota Jantho “hidup” terus menyala, berbagai cara telah dicoba termasuk menghadirkan agenda provinsi seperti PORA XIII dan lainnya. Bupati Aceh Besar Ir Mawardi Ali, dikutip dari acehaktual, menegaskan, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar akan membangun Kota Jantho pada tiga keunggulan, yaitu sektor pariwisata, pendidikan dan olahraga.
Hal tersebut ditegaskan Ir Mawardi Ali ketika menjadi salah satu narasumber pada seminar sehari memperingati HUT Kota Jantho ke-34 di Aula Gedung Seni Kota Jantho, Rabu (2/5/2018).
Namun ini tentu tidak cukup, selama jumlah penduduk Kota Jantho tidak seimbang antara malam dan siang. Hal ini dikarenakan orang-orang yang beraktivitas di Kota Jantho hanya singgah di siang hari dan tidak tinggal di Kota Jantho.
Sejarah Kota Jantho
Sebelumnya Kabupaten Aceh Besar juga beribukota di Kotamadya Banda Aceh. Sehubungan dengan tuntutan dan perkembangan waktu tidak memungkinkan lagi kota yang s tersebut dari Kota Banda Aceh mulai dirintis sejak tahun 1969, lokasi awalnya dipilih Kecamatan Indrapuri yang jaraknya 25 km dari Kota Banda Aceh. Namun usaha tersebut belum terlaksana dengan baik. Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, selanjutnya tahun 1976 usaha survey ibu kota untuk kedua kalinya mulai dilaksanakan lagi dengan memilih lokasi lain yaitu di Kecamatan Seulimeum dengan arah mendaki ke kemukiman Jantho.
Perjuangan Panjang itu akhirnya berhasil dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1976 tentang Pemindahan Ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar dari wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Banda Aceh ke kemukiman Jantho di Kecamatan Seulimeum, Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar.
Kota Jantho segera bersolek pasca ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Daerah Aceh Besar yang baru. Secara resmi seluruh aktivitas perkantoran resmi dipindahkan dari Banda Aceh ke Kota Jantho pada tanggal 29 Agustus 1983, dan peresmiannya dilakukan oleh Bapak Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada masa itu, yaitu Bapak Soepardjo Rustam pada tanggal 3 Mei 1984.
Pengalaman Memimpin Di Kota Jantho
Penulis ketika menjabat Ketua Umum HMI Cabang Kota Jantho era tahun 2001 – 2002 atau sekarang bernama Cabang Aceh Besar, berupaya dapat meramaikan kota ini. Salah satu kegiatan yang kami gelar adalah Pekan Kreatifitas Anak Negeri di Kota Jantho yang berlangsung meriah. Tidak hanya itu, beberapa kali rapat HMI juga kami gelar di Kota Jantho. Pengalaman selama berada di kota ini selalu penuh kenangan dengan suasana alam yang memukau.
Harapan di Kota Jantho
Banyak keinginan dan harapan banyak orang akan kota paling indah di barat Sumatera ini. Letaknya sangat strategis di jalur penghubung Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Jaya. Apalagi setelah kehadiran Kampus Institut Seni Budaya Indonesia Aceh atau disingkat ISBI Aceh. Kampus ini merupakan salah satu Perguruan Tinggi Negeri Seni Budaya di Sumatera yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 6 Oktober 2014 di Surabaya. Saat ini ISBI Aceh memiliki lahan 30 Ha di Kota Jantho, yang nantinya akan dibangun kampus terpadu.
Kehadiran berbagai tempat wisata keluarga di Kota Jantho, termasuk destinasi Kruang Jalin dan puncak gunung nya yang Instagramable telah banyak mengundang wisatawan berkunjung ke kota ini. Beberapa waktu lalu juga Kota Jantho makin menarik dikunjungi dengan hadirnya kebun binatang taman Safari Gunung Putih Lestari (GPL). Kebun binatang di area seluas 60 hektare ini memiliki koleksi berbagai satwa unik.
Pintu Tol Sibanceh juga mengarah ke Kota Jantho, artinya lintasan penghubung antar kabupaten kota akan menjadi harapan di masa mendatang.
Ketika pintu tol terbuka, jalur Kota Jantho – Keumala Pidie mulus dan jalur Kota Jantho Lamno Aceh Jaya lancar, maka tidak berlebihan bila kita menyebut: kota masa depan itu ada di Kota Jantho. Dan suatu hari, penduduk Kota Jantho justru akan banyak di malam hari dan penuh di akhir pekan, sebagai tempat tinggal dan berlibur keluarga paling nyaman di Sumatera. (Hasnanda Putra)
