Banghas

Kisah Kecil di HMI

2903

Himpunan Mahasiswa Islam yang gencar berada di garis terdepan dalam setiap momentum kebangsaan, kerap menginspirasi saya waktu kecil untuk menjadi seorang kader anggotanya. Saya mengenal organisasi kader mahasiswa tertua ini awalnya di Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka yang dibawa pulang Bapak saya ke rumah kami di Gampong Pulo Masjid 1, Tangse.

Selain itu paman kami yang kuliah di Banda Aceh kerap membawa pulang majalah-majalah, seperti Tempo yang tulisan atau beritanya juga sering “membicarakan” HMI. Dalam berbagai literatur yang ada, nama Nurcholish Madjid dan Akbar Tanjung menjadi mantan Ketua Umum PB HMI yang paling saya kenal.

Ketika berada di bangku SMA, saya menjadikan pustaka ruang kelas kedua, hingga banyak buku saya pinjam dan sebagian besar bacaan yang paling saya minati adalah sejarah. Padahal saat itu saya mengambil jurusan Fisika.

Memasuki tahun 1995 ketika duduk di bangku kelas 3, sekolah kami kedatangan abang-abang mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Tangse (IMATA sebelum berubah nama menjadi FOKUSMATA). Para senior SMA Tangse ini memberi motivasi kami untuk kuliah sekaligus membahani tes try out UMPTN untuk masuk perguruan tinggi negeri. Dalam sebuah pemaparan motivasi itu, Ketua rombongan yang juga orang kampung saya, Fadhlullah TM Daud ikut memperkenalkan HMI.

Serambi Mekkah

Berada di Kampus Universitas Serambi Mekkah sejak 1996 saya mulai menemukan bakat dan minat di sini. Buku-buku yang banyak saya baca sejak bangku SMP dan berlanjut hobi korespondensi di SMA, cukup membantu menemuka ide mengasah ketrampilan menulis. Surat pembaca di Harian Serambi Indonesia menjadi wadah menulis saya pertama sekali, sekaligus mengasah minat menulis di media.

Reformasi 1998

Dalam beberapa perjalanan aksi ke Jakarta pasca Mei 1998, saya intens berdiskusi dengan Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Abulyatama, Islamuddin. Dari obrolan itu, Bang Islamuddin mendorong saya untuk masuk HMI. Dan di tahun 1999 saya dan beberapa kawan mendaftar sebagai calon anggota HMI di kampus Universitas Abulyatama (Unaya).

Siang itu di tahun 1999, saya datang bersama Ismet Tanjong, Syawal, Yusuf dan dua mahasiswi Fitriani dan Lenny. Disambut Bang Islamuddin di kantin Unaya, kami sedikit dibekali informasi untuk mengikuti screening test sebagai ujian masuk mengikuti Basic.

Akhirnya kami menjalani screening tes yang diawali tes baca Al Qur’an dan pengetahuan organisasi lainnya serta latar belakang menjadi anggota HMI.

Seterusnya setelah dinyatakan lulus screening, selama lebih seminggu kami mengikuti basic training. Para instruktur dan para senior yang ikut memberi materi diantaranya Fadhlullah TM Daud, Irwan Yasin dan lainnya.

Dari lingkungan training itu kemudian saya juga mulai mengenal senior HMI Kota Jantho lainnya, antara lain Bang Hariyanto, Bang Safriadi Ibrahim, Bang Tarmizi MSi, Bang Aliman Selian, Bang Marah Sutan Rangkuti dan beberapa nama lainnya.

Membangun komisariat di Serambi Mekkah adalah langkah penting kami selanjutnya dengan mencari calon kader dan mengirimnya mengikuti LK-I di Cabang Persiapan Kota Jantho. Setelah ada beberapa kader, kami membentuk Komisariat HMI pertama sekali di kampus peninggalan Pahlawan Nasional Mr Mohammad Hasan ini.

Jenjang Training dan Karir HMI

Perjalanan training selanjutnya adalah mendapat kesempatan mengikuti Intermediate Training atau LK II di Kota Pekanbaru, Riau di akhir tahun 2000.

Perkenalan berlanjut dan saya mendapat kesempatan mengikuti Musyawarah Cabang HMI Cabang Persiapan Kota Jantho, di awal tahun 2000. Dalam pemilihan yang dimenangkan oleh Safriadi Ibrahim, saya mendapat amanah menjabat Ketua bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP).

Dalam Konferensi Cabang di tahun 2001 saya terpilih sebagai Ketua Umum Cabang Kota Jantho. Bang Safriadi Ibrahim termasuk paling berjasa mengantar saya menjadi ketua umum, dan dukungan dari Bang Islamuddin serta senior lainnya.

Akhirnya perjalanan waktu mengantar saya menjadi HMI, dari perkenalan sejak bangku sekolah SMP dan berinteraksi dengan banyak kadernya dalam pergerakan aksi mahasiswa ketika reformasi 1998.

Di HMI juga saya menemukan cinta, seorang kader Kohati Diana yang menjadi ibu dari anak-anak tercinta kami. Allah telah titipkan amanah bagi kami, tiga putra dan satu putri. Sebuah keluarga insan cita, HMI. Selamat Milad HMI ke 74, 5 Februari 2021. (Hasnanda Putra).

Exit mobile version