Banghas

Kisah Kapal Andalusia

3365
×

Kisah Kapal Andalusia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kapal pasukan Thariq dibakar (google)

Di atas bukit Gibraltar, Thariq memerintahkan seluruh kapal yang membawa mereka untuk dibakar, kejadian terjadi pada penyerangan Spanyol di April 711 M.

Thariq bin Ziyad (670 – 720) sebagaimana ditulis wikipedia, dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto (Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jenderal dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

“Wahai seluruh pasukan, ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian laut, dan di depan kalian adalah musuh,” kata Thariq berapi-api dihadapan ribuan pasukannya, sedangkan di seberang gunung ratusan ribu pasukan musuh sedang bersiap menggempur.

“Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya. Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak lebih buruk daripada nasibku…”. Lanjut Sang Panglima Thariq.

Strategi ini dianggap tidak biasanya. Membakar kapal-kapal.

Cara itu dipilih Jenderal Muslim ini dengan maksud agar pasukannya tidak lari dari medan tempur. Pasukannya berhadapan dengan pasukan Raja Roderic, Hispania terkenal bengis dan kejam.

Pro kontra tentang kisah dibakarnya kapal tetap ada, namun kita dapat mengambil hikmah dari sikap ini sebagai landasan filosofi sebuah strategi masa depan.

Apa maksud Thariq bin Ziyad selain untuk mencegah pasukannya mundur?

Pertama, bila ingin memenangkan pertempuran atau persaingan jangan pernah berencana untuk lari dari gelanggang. Sekali layar terkembang surut kita berpantang. Tandang ke gelanggang meskipun seorang.

Tidak ada hal tanpa permasalahan. Persaingan adalah menguji kemampuan kita bertahan. Seberat apapun tantangan yang ada harus kita hadapi dengan kepala tegak. Ombak gelombang adalah cara laut melahirkan pemenang, karena pelaut ulung takkan lahir dari laut yang tenang.

Pemimpin hebat takkan lahir dari sebuah situasi tanpa rintangan dan tantangan. Hadapi dengan kesatria, penuh perhitungan Semua butuh proses, dan yang melewati seleksi alamiah inilah yang keluar sebagai pemenang.

Kedua, beralih dari comfort zone. Jangan seperti katak di dalam tempurung, merasa diri paling baik dan terbiasa dengan kenyamanan. Tidak akan ada kata sukses bila tidak berani keluar ‘tempurung’.

Ilustrasi Panglima Thariq (wikipedia)
Ilustrasi Panglima Thariq (wikipedia)

Comfort zone adalah sebuah situasi di mana kamu merasa nyaman dan aman dengan keadaanmu sekarang.

Bila kapal tetap tersedia, mental bertempur pasukan tentu akan bimbang. Boleh jadi sebagian pasukan akan berpikir bahwa ada kapal yang bisa membawa lari, jadi tidak perlu terlalu ambil resiko.

Ketersediaan kapal akan mengurangi semangat bertempur, maka menjauhkan kapal dari akses pasukan adalah cara jitu membuat semangat pasukan bersikap berani. Tidak ada pilihan mundur, kecuali sebuah kemenangan.

Dunia terus berubah dengan cepat. Tantangan yang kita hadapi juga makin berat dan kompleks. Kita hidup berbeda dengan zaman para pendahulu, begitupun generasi kedepan akan mengalami masa berbeda dengan saat ini.

Zaman akan melindasmu, segeralah bertindak, tinggalkan kapalmu dan hadapilah persoalan dengan penuh keberanian.(Hasnanda Putra)