Sepakbola bukan hanya soal 11 pemain di lapangan akan tetapi adalah soal sejarah, migrasi dan identitas.
Pertemuan Prancis dengan Maroko pada partai pertama perempat final Piala Dunia 2026, di Stadion AT& T, Dallas, Jumat (10/7) pukul 03.00 WIB, menjadi partai menarik karena nyaris memiliki asal talenta yang sama.
Menurut Ketua Perhumas Provinsi Aceh, Amal Hasan, bahwa Prancis suatu kekuatan terbesar sepakbola dunia yang dasar pemain-pemainnya berasal dari Maroko.
“Satu fakta besar talenta-talenta berdarah Maroko sangat signifikan dalam membangun kedigdayaan Les Bleus,” ujar Amal Hasan yang mengirimkan ulasannya kepada posaceh.com, empat jam menjelang laga perempat final, Prancis versus Maroko.
Tokoh masyarakat Aceh Jaya ini mengatakan, Prancis punya hubungan panjang dengan Maroko di lapangan hijau. Sejarah mencatat, Prancis adalah negara yang sejak lama menjadi rumah bagi diaspora Afrika Utara. Dari situlah lahir sederet pesepakbola kelas dunia yang membesarkan nama tim Le Coq Gaulois atau ayam jantan ini.
Mulai dari era Zinedine Zidane yang berdarah Aljazair, hingga generasi modern seperti Kylian Mbappe, Karim Benzema, N’Golo Kante. Namun secara khusus, talenta asal Maroko dan keturunannya punya porsi yang tak bisa diabaikan.
Bahkan, sebutnya, skuat tim nasional Prancis saat ini ada pemain asal Maroko. “Kita bisa menemukan pemain-pemain yang memiliki darah Maroko. Mereka tumbuh di akademi Prancis, lalu menjadi tulang punggung juara dunia,” sebut Amal Hasan yang juga Ketua IKA USK ini.
Katanya, darah Maroko yang mengalir di tubuh Les Bleus, membuat tim berkarakter, pekerja dan mental pantang menyerah.
Karakter itu, katanya, membuat kombinasi antara teknik Eropa, fisik dan mental Afrika Utara melahirkan pemain-pemain yang komplet. Kuat secara fisik, cerdas secara taktik, dan punya determinasi tinggi di laga-laga besar.
Tidak berlebihan jika dikatakan, tanpa kontribusi talenta keturunan Maroko, wajah sepakbola negara fashion hari ini akan sangat berbeda.
Lalu bagaimana dengan Maroko sendiri. Menurut mantan Ketua Hapkido Aceh ini,
Inilah ironinya yang indah. Ketika “darah Atlas” membantu Prancis menjadi juara dunia, kini giliran Maroko sendiri yang sedang menulis sejarahnya sendiri.
Sejak Piala Dunia 2022 di Qatar, Maroko membuktikan bukan lagi tim pelengkap. Dengan gaya main disiplin, transisi cepat, dan semangat nasionalisme tinggi, Singa Atlas berhasil menembus semifinal. Prestasi pertama bagi negara dari Afrika ini.
“Dan kini, ambisi itu semakin nyata, Maroko ingin menjemput takdirnya sendiri sebagai juara dunia,” ujar Mantan bankir dan pengamat ekonomi Aceh ini.
Ketika Prancis berjaya, ada Maroko di dalamnya dan ketika Maroko berjaya nanti, itu adalah pembuktian bahwa talenta mereka selama ini memang berkelas dunia.(Sdm).











