Air itu datang tanpa suara, hanya dengan deru hujan yang tak kunjung reda. Dalam hitungan jam, sungai-sungai yang selama ini menjadi nadi kehidupan berubah menjadi batas tipis antara ketenangan dan petaka. Dari Aceh Tamiang hingga Aceh Barat, dari Pidie Jaya hingga Gayo Lues, banjir kali ini bukan sekadar luapan musiman — ia berubah menjadi salah satu peristiwa paling luas dan merusak yang diingat orang Aceh dalam beberapa dekade terakhir.
Di banyak gampong, warga menyebutnya dengan kalimat yang sama: “Seumur hidup kami, belum pernah begini besarnya.”
Kisah ini adalah upaya untuk merekam pengalaman itu—dengan menengok arsip lama, suara para saksi, dan jejak sejarah yang selalu mengingatkan bahwa Aceh adalah tanah yang akrab dengan bencana, namun juga kuat dalam bangkit.
Air yang Menyapu, Ingatan yang Terbangkit
Di Aceh Tamiang, salah satu wilayah terdampak terparah, seorang warga berdiri di depan rumah panggung yang lantainya tampak menguning oleh bekas lumpur. Ia berkata pelan, seolah masih sulit percaya, “2006 memang besar banjirnya, tapi tahun ini lain—air lebih cepat naik, lebih tinggi, dan lebih lama surutnya.”
Laporan-laporan resmi BPBA dalam beberapa tahun terakhir telah berulang kali menyebutkan meningkatnya frekuensi hujan ekstrem dan banjir bandang di Aceh. Dalam publikasi tahunannya, BPBA mengingatkan bahwa daerah aliran sungai di Aceh, terutama DAS Tamiang, Krueng Aceh, Peusangan, dan Jambo Aye, telah mengalami tekanan besar akibat perubahan tutupan hutan dan aktivitas hilir yang padat.
“Kerentanan meningkat setiap tahun. Perubahan iklim mempercepat intensitas, sementara kerusakan hulu mempercepat aliran air,” demikian kutipan dari dokumen Penilaian Risiko Bencana edisi terbaru.
Dan kali ini, semua peringatan itu seakan menemukan puncaknya.
Hujan Ekstrem, Tanah Lelah, Sungai Menyerah
Hasil prakiraan cuaca BMKG menjelang peristiwa banjir menunjukkan anomali curah hujan yang lebih dari dua kali lipat rata-rata bulanan. Tekanan monsun, laut yang menghangat, dan awan konveksi yang bertahan berhari-hari menjadi pemicu yang tak terhindarkan.
Di Pidie Jaya, seorang petani sawah mengelus beberapa ikat padi yang gagal panen. “Biasanya hujan itu baik untuk kami, tapi kali ini… sawah tenggelam semua. Tak ada sisa.”
Di wilayah dataran tinggi seperti Gayo Lues dan Aceh Tengah, hujan ekstrem memicu longsor yang menutup akses jalan utama, membuat beberapa desa terisolasi.
“Kami alhamdulillah selamat setelah terjebak banjir bandang yang tiba-tiba datang dan terpaksa bermalam di hutan,” tulis Fauzul Iman, Kepala BNNK Gayo Lues lewat WA -nya kepada penulis.
“Kami seperti pulau-pulau kecil yang terputus satu sama lain,” lanjutnya, kemudian jaringan komunikasi handphone terputus.
Jejak Sejarah: Aceh dan Siklus Bencana
Meski banjir kali ini dirasakan sebagai salah satu yang terbesar, sejarah Aceh menunjukkan bahwa wilayah ini sejak lama dibentuk oleh fenomena air.
• Arsip kolonial Belanda mencatat banjir besar di Aceh Timur pada 1882 dan 1924 yang menyebabkan ratusan rumah hanyut.
• Dalam Babad Aceh dan catatan lisan masyarakat pedalaman, kisah banjir besar yang merusak ladang kopi di abad ke-19 juga disebutkan berulang kali.
• Setelah tsunami 2004, publikasi ilmiah menyebutkan bahwa banyak sungai di Aceh mengalami perubahan morfologi—melebar, berubah jalur, atau menyempit akibat sedimentasi.
“Air adalah bagian dari sejarah kami seperti juga perang dan perdagangan,” tulis Prof. Anthony Reid dalam salah satu esainya tentang Aceh dan lingkungan.
Dengan kata lain, Aceh tidak asing pada bencana. Namun, skala banjir tahun ini mengingatkan bahwa siklus itu kini semakin kuat dan semakin sering.
Dampak Nyata: Dari Rumah Tergenang hingga Harga Melonjak
Berdasarkan laporan darurat yang dihimpun kabupaten/kota, puluhan ribu warga sempat mengungsi. Rumah, sawah, jembatan, hingga puskesmas rusak berat. Listrik padam di sejumlah kawasan. Sekolah diliburkan.
Di sebagian wilayah, harga kebutuhan pokok melonjak karena distribusi terhambat. Sejumlah warung mulai menutup usahanya karena harga sembako melambung tinggi.
“Kami terpaksa menyerah, penjual nasi goreng dan martabak sudah tutup, dan kami mungkin besok tidak sanggup lagi jualan,” keluh pedagang Mie Aceh di Warkop Ali Kupi, Banda Aceh.
Mengapa Bisa Sebesar Ini?
Beberapa arsip resmi dan analisis teknis yang dibuka ke publik dalam lima tahun terakhir sering mengulang faktor-faktor utama:
1. Hutan hulu semakin tergerus, membuat air hujan langsung turun tanpa hambatan.
2. Sungai-sungai mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.
3. Curah hujan ekstrem meningkat—fenomena yang secara global dihubungkan dengan perubahan iklim.
4. Kawasan permukiman yang meluas ke bantaran sungai menambah risiko.
Seorang ahli hidrologi dari Unsyiah pernah menulis dalam jurnal lokal, “Kita tidak sedang menghadapi satu bencana besar, melainkan puncak dari akumulasi perubahan bertahun-tahun.”
Dan banjir kali ini seakan menjadi bukti nyata dari analisis itu.
Penutup: Aceh Pernah Bangkit, dan Akan Bangkit Lagi
Sejarah Aceh penuh badai—dari perang kolonial, konflik panjang, hingga tsunami raksasa. Dan setiap kali, Aceh menemukan jalannya untuk bangkit.
Banjir besar tahun ini adalah peringatan keras bahwa alam sedang berubah, dan manusia pun harus berubah. Namun selama Aceh masih punya daya juang, kebersamaan, dan ingatan panjang tentang bagaimana nenek moyang bertahan di tanah penuh air ini, maka selalu ada harapan bahwa bencana bukan akhir, melainkan babak baru untuk membangun dengan lebih arif. (Hasnanda Putra)











