Pendidikan

Kacabdindik Banda Aceh dan Aceh Besar: Tidak Boleh Ada Diskriminasi Dalam Dunia Pendidikan

1820
×

Kacabdindik Banda Aceh dan Aceh Besar: Tidak Boleh Ada Diskriminasi Dalam Dunia Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Foto: Kacabdindik Banda Aceh dan Aceh Besar:

posaceh.com, Banda Aceh – Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) ke-62 tahun ini, 2 September 2021, secara umum dunia pendidikan Aceh saat ini mengalami peningkatan.

Terbukti pada 2021 Aceh menduduki peringkat ke delapan secara nasional terkait kelulusan siswa ke Perguruan Tinggi favorit di Indonesia meskipun ditengah pandemi.

Namun ditengah kondisi pandemi seperti ini pendidikan memiliki dampak yang signifikan.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar Disdik Aceh, Mohd Iqbal yang ditanya posaceh.com, Kamis (9/9/2021) tentang program dan kemajuan pendidikan sehubungan Hardikda ke-62,  mengatakan, dampak paling signifikan hari ini adalah proses pembelajaran, pembelajaran secara daring tentu belum menjamin bahwa pendidikan berjalan dengan baik, maka perlu formula yang tepat untuk menyelenggarakan pendidikan yang tepat agar tidak terjadi lost generation.

“Untuk saat ini kami sedang melakukan proses panjaringan guru terbaik disetiap daerah, yang nantinya akan kita persiapkan untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi siswa sekolah,” katanya.

Disampaikan, bahwa tidak semua siswa memiliki fasilitas yang sama, apalagi ditengah pandemi yang juga menghancurkan sisi ekonomi, agar tidak terjadi diskriminasi untuk siswa dalam pendidikan.

“Dengan monentum Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-62 tahun 2021 ini, kita terus persiapan guru-guru terbaik yang siap melayani pendidikan secara maksimal di setiap wilayah baik di Aceh Besar maupun Kota Banda Aceh dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan menuju Aceh Carong,” terangnya.

Menurut Iqbal, saat ini pihaknya diinstruksikan untuk oleh Gubernur Aceh dan Dinas Pendidikan Aceh untuk terus menggenjot peningkatan mutu pendidikan dintingkat SMA, SMK dan SLB.

“Saat ini kami sedang fokus untuk peningkatan mutu pendidikan baik SMA, SMK dan SLB, untuk SMA alhamdulillah kita telah mendapat peringkat delapan secara nasional dan terus akan kita tingkatkan, kemudian untuk SMK saat ini kita diperintahkan untuk berkantor di SMK untuk memantau secara langsung, terkait perkembangan mereka,” ujarnya.

Khusus pendidikan SMK dan SMA, pihaknya terus menggelar bazar untuk menciptakan produk sendiri agar nantinya para murid setelah menyelesaikan studinya dapat mandiri. “Dengan menciptakan produk sendiri, menjadikan para alumni sekolah tingkat atas mampu menciptakan lapangan kerja sendiri dan mereka akan mandiri,” terangnya.

Ia juga menegaskan, bahwa pihaknya kini telah melakukan pendataan setiap sekolah untuk peningkatan guru di setiap sekolah, agar sekali lagi tidak terjadi diskriminasi pendidikan.

“Kita secara langsung turun ke setiap sekolah untuk meningkatkan mutu guru, supaya mutu guru merata dan tidak terjadi diskriminasi, anak bangsa harus memiliki hak pendidikan yang sama, tidak boleh ada perbedaan antara sekolah di kota dan di desa,” tegasnya.

Terkait dengan kesejahteraan guru dan kompetensi guru, menurut Iqbal, dua hal tersebut memang hingga saat ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) tersendiri.

“Ya, persoalan ini memang sering kami dengar, terkait guru sertifikasi dan guru non sertifikasi, ini menjadi kritik bagi kami, namun kami akan menyelesaikan masalah ini secara perlahan,” kata Iqbal.

Sebagai Solusi terkait dengan sertifikasi, Iqbal akan berdiskusi dengan semua pihak yang bersangkutan untuk penyelesaian hal ini, baik dari Dinas Pendidikan, maupun sekolah, sehingga letak persoalan jelas dan dapat solusi terbaik.

“Memang menjadi dilema, karena ini menyangkut dengan kesejahteraan, kita harus punya solusi yang adil, agar tidak ada yang menari diatas penderitaan orang lain, karena guru memiliki tanggung jawab yang sama untuk mendidik anak bangsa,” pungkas Iqbal mengakhiri wawancara.(Muiz)