Di Aceh, sejarah sering bersembunyi di balik julukan. Salah satunya adalah “Si Mata Siblah” atau jenderal mata satu, sebutan rakyat Aceh untuk seorang jenderal Belanda bernama Karel van der Heijden. Namanya terus hidup—sebagai bayang-bayang kelam Perang Aceh, simbol kekerasan kolonial yang meninggalkan luka panjang.
Julukan itu lahir bukan dari dongeng. Ia berasal dari satu peristiwa nyata: pertempuran di Samalanga (sebuah kecamatan dalam Kabupaten Bireuen sekarang ini), sebuah wilayah yang sejak lama dikenal sebagai pusat perlawanan rakyat dan ulama Aceh. Di sanalah Van der Heijden kehilangan satu matanya, terkena tembakan dalam pertempuran sengit melawan pasukan Aceh. Luka itu tidak hanya merenggut penglihatannya, tetapi juga mengubah jalan hidupnya.
Samalanga, bagi Belanda, hanyalah titik di peta perang. Tetapi bagi Aceh, ia adalah simbol kehormatan. Wilayah ini berkali-kali menolak tunduk, meski berhadapan dengan senjata modern dan pasukan terlatih. Dalam satu pertempuran yang kacau dan brutal, Van der Heijden terluka parah. Darah mengalir, dan satu matanya tak pernah bisa diselamatkan.
Namun yang menarik, justru setelah kehilangan matanya, peran Van der Heijden dalam Perang Aceh semakin besar. Ia tidak tersingkir, tidak dipulangkan sebagai perwira cacat. Sebaliknya, ia bangkit sebagai salah satu tokoh penting dalam strategi militer Belanda.
Namun Aceh bukan medan yang mudah ditaklukkan. Pengalaman paling pahit Van der Heijden terjadi pada 1877.
Sejarawan Muhammad Said mencatat peristiwa itu dalam Aceh Sepanjang Abad dengan kalimat yang dingin namun menghantam:
> “Van der Heijden mendapat luka-luka berat dan sebelah mata kirinya ditembus pelor ketika mereka mempergulatkan mati-matian untuk merebut Blang Timulir itu.”
Peluru tersebut tidak merenggut nyawanya, tetapi merampas mata kirinya. Van der Heijden selamat, namun tubuhnya tak pernah kembali utuh. Sejak saat itu, Aceh meninggalkan jejak permanen pada wajah dan sejarah hidupnya.
Sejak saat itu, ia dikenang sebagai jenderal bermata satu.
Ironisnya, luka tersebut tidak mengakhiri karier militernya. Pemerintah kolonial justru semakin mempercayainya. Pada 1878–1881, Van der Heijden diangkat sebagai Gubernur Militer dan Sipil Aceh, dengan pangkat jenderal mayor. Ia menjadi salah satu tokoh penting dalam strategi penaklukan Aceh—sebuah perang yang kian mengeras, kian brutal, dan semakin jauh dari harapan kemenangan cepat Belanda.
Banyak catatan kolonial menggambarkannya sebagai perwira tangguh dan berani. Tetapi ingatan rakyat Aceh menyimpan kisah berbeda. Setelah Samalanga, operasi-operasi militer yang melibatkan Van der Heijden dikenal semakin keras.
Bagi Aceh, mata yang hilang itu bukan tanda kepahlawanan, melainkan tanda bahwa penjajahan selalu dibangun di atas kekerasan.
Julukan “Si Mata Siblah” menyebar dari mulut ke mulut. Ia bukan sekadar penanda fisik, melainkan simbol. Dalam cerita orang-orang tua, jenderal bermata satu itu digambarkan sebagai sosok dingin, penuh dendam, dan tak pernah benar-benar memahami tanah yang ingin ia kuasai. Ia melihat Aceh dengan satu mata—mata kekuasaan—tanpa pernah melihat jiwa perlawanan rakyatnya.
Ironisnya, meski Belanda mengerahkan jenderal-jenderal terbaiknya, Aceh tak pernah benar-benar ditaklukkan. Perlawanan terus muncul: dari pegunungan, dari dayah-dayah, dari kampung-kampung kecil yang tampak sepele di peta militer. Van der Heijden, dengan satu mata yang tersisa, menyaksikan sendiri bahwa Aceh bukan sekadar wilayah, melainkan keyakinan.
Sejarah kolonial mungkin mencatat namanya sebagai bagian dari mesin perang Hindia Belanda. Namun dalam ingatan Aceh, ia adalah peringatan—bahwa penjajahan selalu menyisakan trauma, dan bahwa setiap luka yang ditorehkan akan diingat jauh lebih lama daripada kemenangan di atas kertas.
Hari ini, Samalanga tetap berdiri. Aceh tetap hidup. Sementara Van der Heijden tinggal sebagai nama dalam arsip dan cerita lisan, dikenang bukan karena kejayaannya, melainkan karena satu mata yang hilang—sebuah pengingat bahwa bahkan jenderal kolonial pun bisa dipatahkan oleh keberanian rakyat yang mempertahankan tanahnya.
Di Aceh, sejarah tidak selalu ditulis oleh pemenang. Kadang, ia disampaikan lewat julukan sunyi—seperti Si Mata Siblah—yang menyimpan misteri, luka, dan perlawanan dalam satu tarikan napas. (Hasnanda Putra)
