Banghas

Jejak Pocut Meurah Intan: dari Padang Tiji ke Blora

948
×

Jejak Pocut Meurah Intan: dari Padang Tiji ke Blora

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Pocut ketika bertempur dengan gagah berani seorang diri melawan Belanda di Padang Tiji (AI)

Kabut pagi turun perlahan di Blora, tanah subur di jantung Pulau Jawa. Di sebuah rumah sederhana, seorang perempuan tua duduk bersila, mengusap sebuah rencong kecil yang kini lebih banyak disimpan daripada dihunus. Dialah Pocut Meurah Intan dulu singa betina dari Aceh, kini seorang asing di tanah orang.

Waktu telah jauh bergulir sejak ia berdiri gagah di bawah bayang Gunung Seulawah, memimpin rakyatnya melawan pasukan Belanda. Ia adalah nyala yang menyala di tengah gelap perang. Tapi segalanya berubah sejak 1902, saat darahnya tumpah dalam perlawanan terakhir, dan tubuhnya yang luka ditangkap lalu dibuang jauh ke Blora oleh pihak kolonial.

Lahir dalam keluarga Uleebalang yang disegani, Meurah Intan tumbuh bukan hanya dengan cerita syair dan pantun adat, tapi juga dengan gelegar meriam dan derap kuda perang. Ayahnya, mendidiknya tidak seperti perempuan kebanyakan. Ia diajarkan membaca strategi perang, memanah, dan menunggang kuda. Ketika Aceh mulai bergolak dan tanah-tanah dirampas penjajah, Meurah Intan tidak tinggal diam.

Sampai suatu ketika seperti tersebut dalam Prominet Women in The Glimpse of History, pada awal tahun 1900, Pocut Meurah Intan—yang dikenal juga sebagai Pocut Di Biheue—terpergok seorang diri oleh 18 serdadu Marsose di jalanan sepi kawasan Padang Tiji, Pidie.

Alih-alih melarikan diri, ia berdiri tegak, menggenggam erat pedang dan rencong di tangan. Dihadapkan pada pasukan patroli yang dipimpin Letnan TJ Veltman, ia tak gentar. Dengan suara lantang, ia berteriak, “Kalau sudah begini, biarlah saya mati!”

Tanpa ragu, Pocut menyerang. Ayunan pedangnya mengenai beberapa anggota patroli. Namun perlawanan itu harus dibayar mahal. Ia disabet berkali-kali; luka menganga di kepala dan bahunya, urat keningnya pun putus. Tubuhnya akhirnya rebah di tanah, bersimbah darah sekarat, tapi tidak tunduk.

Ketika laporan peristiwa itu sampai ke telinga Kolonel Scheuer, seorang opsir Belanda, ia dikabarkan menyampaikan kekaguman. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai pribadi tangguh yang layak dihormati. Scheuer menyatakan bahwa Pocut Meurah Intan menunjukkan keberanian langka, bahkan di antara para prajurit laki-laki.

“Perempuan itu,” ucapnya dalam catatan resmi militer, “bertempur sendirian seperti seorang perwira. Bangsanya patut bangga.”

Dari medan sekarat itulah Pocut dibawa, tak sekadar sebagai tawanan, tapi sebagai pejuang yang diam-diam diakui oleh lawannya sendiri.

Hari demi hari di Blora, Belanda memperhatikan seksama. Mereka mendapati Pocut tidak menyebarkan kebencian, tapi semangat—kepada perempuan, anak-anak, bahkan kepada orang Jawa yang awalnya tak tahu siapa dia.

“Aku tidak mengajar mereka untuk membenci,” kata Pocut kepada seorang Belanda, dalam percakapan suatu sore, “Tapi untuk percaya bahwa harga diri tak perlu dijajah.”

Orang-orang Belanda tercenung. Tak pernah sebelumnya ia membayangkan seorang perempuan yang ditaklukkan di medan perang, bisa menang di medan hati dan martabat.

Blora pun berubah. Warga menyebutnya “Mbah Tjut”, bukan lagi tawanan, tapi sesepuh. Ia ajarkan anak-anak mengaji, perempuan menenun, dan laki-laki agar tidak takut pada masa depan.

Dan ketika Pocut Meurah Intan meninggal dunia pada 19 September 1937, tubuhnya memang wafat, tapi semangatnya tak ikut mati. Ia dimakamkan di Desa Temurejo, sesuai wasiat, dan Blora pun mencatat nama besarnya dengan agung.

Kini, bila kita berjalan di antara pohon jati di Blora, dan mendengar desir angin di senja hari, barangkali itu bisikan dari seorang perempuan Aceh yang tidak pernah tunduk kepada tanah, kepada kekuasaan, atau bahkan kepada sejarah. (Hasnanda Putra)