Ekbis

Harga Rumah Makin Mahal, Gaji Milenial Tak Kuat Bayar Cicilan

21
×

Harga Rumah Makin Mahal, Gaji Milenial Tak Kuat Bayar Cicilan

Sebarkan artikel ini
FOTO/Muhammad Luthfi Rahman

posaceh.com, Jakarta – Memiliki rumah masih menjadi impian besar bagi banyak generasi milenial di Indonesia. Namun di tengah kenaikan harga properti, tingginya bunga kredit, dan pendapatan yang dinilai belum mampu mengimbangi harga rumah, impian tersebut semakin sulit diwujudkan.

Fenomena ini sejalan dengan hasil survei terbaru di Amerika Serikat yang menunjukkan sebagian generasi muda mulai menyerah untuk membeli rumah.

Survei Home Affordability Survey 2025 yang dilakukan Bankrate menemukan satu dari enam calon pembeli rumah tidak berhasil menemukan hunian yang sesuai kemampuan finansial mereka dalam periode 2020-2025 hingga akhirnya mengurungkan niat membeli rumah.

Di Indonesia, meski belum ada survei serupa, persoalan keterjangkauan rumah juga menjadi tantangan besar. Bahkan, laporan terbaru The Economist menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan harga hunian paling tidak terjangkau di dunia.

Berdasarkan daftar tersebut, Indonesia berada di peringkat keenam negara dengan hunian paling tidak terjangkau setelah Filipina, Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan.

Warga Jakarta, Abel Anita (33 tahun) mengaku memiliki rumah masih menjadi impian yang ingin diwujudkan. Namun realitas harga rumah saat ini membuat banyak orang harus berpikir berkali-kali sebelum membeli.

Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini membuat sebagian masyarakat memilih menunda pembelian rumah dan tetap mengontrak sambil mengumpulkan tabungan.

“Kalau untuk menyerah mungkin enggak ya. Cuma melihat kondisi ekonomi sekarang yang makin ke sini makin parah, jadi kebanyakan orang memilih kontrak dulu sambil nabung atau investasi,” ujarnya.

Abel menilai pendapatan sekitar Rp8 juta hingga Rp 10 juta per bulan menjadi batas minimal untuk mulai memikirkan pembelian rumah. Namun besarnya kebutuhan hidup sehari-hari membuat upaya mengumpulkan uang muka rumah tetap menjadi tantangan.

Ia juga menyoroti beban kredit pemilikan rumah (KPR) yang kerap memberatkan masyarakat, terutama ketika bunga kredit berubah mengikuti kondisi pasar.

“Rumah di Jakarta masih mahal walaupun KPR. Sekitar Rp 500 juta, tapi bunganya floating yang naik setiap tahun. Itu yang bikin kebanyakan orang jual rumah karena enggak kuat cicilannya,” kata dia.

Keluhan serupa disampaikan warga Depok, Ghina Nanda (32 tahun). Menurutnya, rumah masih menjadi impian generasi muda, tetapi kemampuan membeli semakin tergerus oleh tingginya harga properti.

“Dalam ekonomi sekarang, kayaknya punya rumah masih jadi impian. Kalau pendapatan masih berpatokan pada UMR, agak sesak buat generasi sekarang beli rumah,” ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Menurut Ghina, program rumah terjangkau maupun subsidi dari pemerintah kerap menghadapi persoalan lokasi yang jauh dari pusat kegiatan ekonomi dan tempat kerja.

“Rumah subsidi pro rakyat sekarang sudah jauh. Masa saya cari rumah subsidi sudah ke arah sana, menuju Bandung. Kalau tempat tinggal jauh dari tempat kerja, ongkos bertambah, capek juga karena tua di jalan, harus ada kerja lebih dari satu pendapatan biar tercukupi cicil rumah,” kata ia yang bekerja di Jakarta.

Ia mencontohkan harga rumah di kawasan Depok yang menurutnya terus meningkat. Bahkan rumah yang berada di dalam gang kini banyak ditawarkan dengan harga mendekati Rp1 miliar.

“Di Depok saja rumah masuk gang sudah Rp1 miliar, apalagi Jakarta,” katanya.

Sementara itu, Doni (33 tahun), warga Jakarta Utara, menilai memiliki rumah tetap menjadi cita-cita hampir semua orang. Namun harga rumah yang terus meningkat tidak sejalan dengan kemampuan finansial sebagian besar pekerja.

“Impian banget semua orang, apalagi rumah di Jakarta,” kata Doni.

Menurutnya, besaran upah minimum yang diterima banyak pekerja saat ini masih sulit digunakan untuk mengejar harga rumah yang terus naik.

“Susah karena kondisi UMR saat ini minim. UMR itu diperuntukkan untuk yang bujang, bukan untuk yang sudah berkeluarga,” ujarnya.

Bagi banyak milenial Indonesia, masalahnya bukan lagi soal keinginan memiliki rumah. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana mengejar harga properti yang terus melambung di tengah biaya hidup yang semakin tinggi.

Akibatnya, semakin banyak generasi muda yang memilih mengontrak, tinggal bersama keluarga lebih lama, atau mencari hunian di wilayah yang semakin jauh dari pusat kota demi mendapatkan harga yang lebih terjangkau.(Muh/*)