Daerah

FJL dan JGN Desak BKSDA Investigasi Menyeluruh Penyebab Kematian Gajah di Aceh

22
×

FJL dan JGN Desak BKSDA Investigasi Menyeluruh Penyebab Kematian Gajah di Aceh

Sebarkan artikel ini
Gajah sumatera jantan ditemukan mati di areal perkebunan sawit PT MPLI, Gampong Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, pada 9 Agustus 2026. FOTO/Ist

posaceh.com, Banda Aceh – Peringatan Hari Gajah Sedunia yang jatuh pada (12/8/2026) tahun ini diwarnai duka di Aceh. Dalam waktu yang berdekatan, dua individu gajah sumatera dilaporkan mati.

“Kita sangar menyesalkan ada peristiwa ini. Satu gajah jantan liar di Aceh Tamiang, dan seekor anak gajah jinak bernama Yuna di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar,” ujar Kepala Departemen Advokasi Forum Jurnalis Lingkungan, Hidayatullah, dalam pers rilisnya, Kamis (13/8/2026)

Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) dan Jaringan Gajah Nusantara (JGN) mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melakukan evaluasi dan investigatif menyeluruh dan membuka data kesehatan satwa secara transparan kepada publik.

Ia mengatakan, kejadian pertama terjadi pada 9 Agustus 2026. Bangkai gajah sumatera jantan ditemukan di areal perkebunan sawit milik PT MPLI, Gampong Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, sekitar pukul 12.00 WIB.

Gajah tergeletak di jalur perkebunan dengan kedua gading masih utuh dan tanpa luka di tubuhnya. Hasil pemeriksaan awal mengarah pada dugaan keracunan, dengan perkiraan gajah tersebut telah mati sekitar tiga hari sebelum ditemukan.

Dua hari berselang, giliran Yuna, gajah jinak berusia sekitar tiga tahun, yang mati. Pada Selasa (11/8) pagi, ia masih terpantau aktif seperti biasa. Namun menjelang sore, mahout (pawang) mendapatinya lemas, dengan mata dan wajah bengkak serta lidah pucat kebiruan.

Tim medis segera memberikan penanganan, tetapi kondisinya terus memburuk hingga akhirnya Yuna mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.48 WIB.

Dugaan sementara mengarah pada infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV), penyakit yang dikenal menyerang anak gajah dan dapat memburuk dengan sangat cepat.

Menurutnya, kematian gajah di Aceh Tamiang dan di PLG Saree sesungguhnya menyangkut satu persoalan besar yang sama, yaitu keselamatan populasi gajah sumatera yang kian terancam, baik yang hidup liar di alam maupun yang berada dalam pengelolaan manusia.

Yulham mendorong BKSDA Aceh untuk tidak hanya melakukan pemeriksaan internal, tetapi juga membuka ruang evaluasi independen yang melibatkan dokter hewan satwa liar, pakar gajah, akademisi, dan organisasi konservasi.

“Kematian gajah jinak Yuna dan gajah di Aceh Tamiang harus menjadi momentum, bukan sekadar duka yang berlalu begitu saja. Kami berharap BKSDA Aceh memperkuat sistem kesehatan dan biosekuriti, memperketat pengawasan di kawasan rawan konflik seperti perkebunan sawit, serta memastikan seluruh informasi terkait kondisi dan penanganan gajah dapat diakses publik secara terbuka,” pungkasnya.(Muh/*)