posaceh.com, Banda Aceh – Fenomena asusila dan maraknya judi online dinilai bukan lagi sekadar persoalan pelanggaran hukum, melainkan telah berkembang menjadi ancaman serius terhadap ketahanan moral generasi muda. Kondisi ini menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, ulama, hingga pemerintah.
Pandangan tersebut disampaikan Tuanku Muhammad, S.Pd.I., M.Ag, Ketua Himpunan Dai Muda Indonesia (HDMI) Provinsi Aceh sekaligus Wakil Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh, dalam Kajian Aktual TASTAFI yang mengangkat tema “Menjaga Moral Generasi Aceh di Tengah Gelombang Budaya Digital”.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh TASTAFI Banda Aceh, DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, dan DPW Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Aceh tersebut berlangsung di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, Senin (27/6/2026) malam.
Dalam pemaparannya, Tuanku Muhammad menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital menghadirkan manfaat besar, namun pada saat yang sama membuka ruang yang semakin luas bagi penyebaran konten asusila serta praktik judi online yang menyasar berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan remaja.
Menurutnya, ancaman terbesar bukan semata-mata pada kemajuan teknologinya, tetapi pada melemahnya pengawasan, pendidikan karakter, dan kontrol sosial di tengah keluarga serta lingkungan.
“Judi online dan perilaku asusila tidak hadir begitu saja. Ia tumbuh ketika ruang-ruang pendidikan akhlak mulai kosong, sementara ruang digital dipenuhi konten yang merusak nilai-nilai moral,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa upaya penanggulangan tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan hukum dan penindakan aparat. Pencegahan harus dimulai dari penguatan ketahanan keluarga, optimalisasi pendidikan agama, serta pembinaan generasi muda melalui masjid, dayah, dan lembaga pendidikan.
Lebih lanjut, Tuanku Muhammad mengajak masyarakat Aceh agar tidak memandang persoalan moral hanya sebagai kesalahan individu, melainkan sebagai tanggung jawab bersama untuk menjaga kualitas generasi yang akan memimpin daerah di masa depan.
Kajian berlangsung interaktif dan dihadiri berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Hadir pula Ketua Umum DPP ISAD Aceh, Tgk. Mustafa Husen Woyla, yang memberikan dukungan terhadap terselenggaranya forum ilmiah-keagamaan tersebut sebagai ruang edukasi publik dalam menjawab berbagai persoalan aktual masyarakat.
Koordinator kegiatan, Tgk. Alwy Akbar Al Khalidi, SH., MH., menyampaikan bahwa Kajian Aktual TASTAFI diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara ulama, akademisi, dan pemangku kebijakan dalam memberikan solusi terhadap tantangan sosial yang dihadapi masyarakat Aceh.
Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bahwa menjaga moral generasi bukan hanya tugas keluarga atau lembaga pendidikan, melainkan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Sebab, kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan teknologi, tetapi juga dari kualitas akhlak generasi yang akan menentukan arah masa depannya.(Mar)
