Belanda dengan susah payah tiba di dataran Tangse di ketinggian 600-1200 mdpl. Tidak hanya itu, tentara Kolonial juga sampai di Mane dan Geumpang serta menaklukan Gunong Puet Sago di ketinggian 2431mdpl.
Dari catatan yang ada, baik di buku sejarah maupun dokumentasi foto sumber digitalcollections.universiteitleiden.nl, diperkirakan sejak tahun1900 Belanda telah mulai membangun tangsi-tangsi di Tangse dan sarana lainnya seperti jembatan di Cot Kuala.
Menariknya, Belanda tidak hanya sekedar membangun tangsi atau asrama biasa di Tangse, namun juga rumah perwira dengan fasilitas kolam bertingkat di sekitar alur Krueng Muko, Keude Tangse.
Dengan kenderaan Gajah, Marsose Belanda juga menjelajahi hampir seluruh titik-titik objek penting di hutan yang sekarang disebut Kawasan Ulu Masen.
Harus diakui perjalanan ini sangat berat, makanya Belanda menggunakan jasa orang-orang Nusantara yang “dibayar” dengan menjadi Tentara khusus Marsose.
Korps Marechaussee te Voet atau Marsose, suatu satuan militer yang dibentuk oleh KNIL satuan militer Hindia Belanda untuk menghadapi perlawanan gerilya pejuang Aceh.
Jejak-jejak Marsose terlihat jelas, antara lain di Gampong Blang Malo yaitu sebuah bangunan tempat duduk yang disebut Panteu Marsose. Bangunan ini dibangun sekitar tahun 1925. Tempat tersebut sekarang di sebut Dusun Kuala Panteu, jelang pendakian ke lembah Tangse.
Di pustaka digital Leiden, masih bisa dilihat bukti-bukti Tentara Marsose menjelajahi Tangse dan sebagian bangunan masih tersisa sampai sekarang, seperti Panteu Marsose dan Asrama Belanda di Keude Tangse.
Dari banyak foto lama yang masih tersimpan digital dan beredar di banyak sosial media, membuktikan ekspedisi Belanda penuh perhitungan dan mereka menduduki tanah-tanah pendalaman ini tidak hanya sekedar mengejar Pejuang-pejuang Aceh namun juga faktor ekonomi dan kesinambungan kehidupan sekaligus menutupi kerugian besar Belanda dalam Perang Aceh.
Ekspedisi besar sekaligus membuka jalan tembus ke Tangse dari Lamlo, terlihat jelas dari dokumentasi Belanda yang membelah Glee Meulinteung, pendakian ke Keumala Dalam.
Kopi dan Emas
Perkebunan kopi yang dibuka Belanda di Tangse, antara lain di wilayah Kebun Nilam, Ulee Gunong sampai Blang Dhod.
Jenis kopi Robusta, Arabika dan Liberika yang khas dan masih tumbuh sampai sekarang di Tangse sebagian di antaranya adalah peninggalan Belanda.
Sampai sekarang beberapa perkebunan Belanda masih bisa dilihat di Dusun Cot Lombo, Ulee Gunong. Nama Cot Lombo sendiri berasal dari bahasa Belanda yaitu Landbouw atau tanah pertanian.
Selain membuka pertanian kopi, Belanda juga membuka banyak pertambangan emas secara rahasia. Beberapa tempat penambangan liar saat ini di Krueng Tangse dan kawasan hutan disebut-sebut sebelumnya telah dijelajahi Belanda. Pernah ada cerita dari bekas supir Belanda, seorang warga Tangse, dulunya pernah bercerita bahwa Belanda memiliki Peta Tambang Emas di Tangse.
Keseriusan Belanda untuk membuka jalur penambangan emas dibuktikan dengan membangun sebuah jembatan besi kokoh sekitar tahun 1920 di atas sungai besar tempat bertemunya dua aliran sungai yaitu Krueng Tangse dengan Krueng Geumpang di Cot Kuala, perbatasan Tangse Mane.
Sebuah perjalanan penuh rintangan telah dilalui Bangsa Eropa di Tangse, untuk menaklukan negeri di atas awan ini. Tentu Belanda tidak sekedar datang, singgah dan membangun bangunan begitu saja. Pastinya mereka telah melakukan survei dan penelitian potensi alam dataran tinggi ini.
Dengan demikian daerah ini begitu istimewa bagi bangsa Eropa ini, dan sangat mungkin Tangse adalah Koetaradja kedua bagi Hindia Belanda di Aceh. (Hasnanda Putra).
