Kamis pagi 12 Maret 1942 menjadi hari-hari terakhir Belanda di Aceh. Di Lhoknga, Belanda meninggalkan begitu saja bandara dan dengan mudah diambil alih oleh Jepang.
“Selama 69 tahun, Belanda tak henti-hentinya bertempur di Aceh dan ini sudah lebih daripada cukup”. Tulis Paul van’t Veer dalam bukunya De Atjeh-Oorlog (Perang Aceh).
Dalam perjalanan waktu, Tentara Jepang membangun pangkalan militernya di Lhoknga.

Selanjutnya ketika Jepang hengkang, lapangan udara ini dikuasai Pasukan Aceh lengkap dengan sebuah gudang senjata yang berperan besar memasok alutsista ke Perang Medan Area.
Untuk menguasai gudang senjata Jepang tidaklah mudah biarpun mereka telah kalah perang. Pertempuran hebat terjadi antara Tentara Jepang yang mempertahankan gudang senjata dengan pejuang Aceh yang datang dari berbagai kampung di Aceh Besar.
Seterusnya, siang hari pada selasa 15 Juni 1948 Presiden Sukarno menginjak kaki pertama sekali di Aceh setelah pesawat legenda Seulawah RI 002 mendarat dengan mulus di bandara udara Lhoknga tepi Samudera Hindia ini.
Terus di manakah letak bekas lapangan udara bersejarah ini sekarang?
Banyak kisah seputar lapangan terbang bersejarah ini, termasuk bagaimana cerita orang-orang Lampuuk di zaman Jepang yang berjasa membangun ulang lapangan terbang peninggalan Belanda ini sampai rela pindah kampung ke sekitar Lamkruet.

Lhoknga terus berubah dan selalu menjadi primadona di segala bidang, tidak hanya wisata namun juga pertambangan dengan kehadiran pabrik semen.
Pabrik semen di Lhoknga mulai dirintis oleh sebuah perusahaan swasta nasional yaitu PT. Rencong Aceh Semen dengan melakukan studi kelayakan sejak tahun 1976. Baru kemudian pada tanggal 2 Agustus 1983 pabrik ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia sebagai pabrik semen yang kedelapan di Indonesia.
Sebagai daerah di tepi Samudera Hindia dan jalur Barat Selatan Aceh, Lhoknga menyuguhkan pemandangan tak tertandingi.

Deretan pohon cemara berjajar memagari bibir pantai yang menawan. Tebing dan batu karang berdiri gagah di pinggir. Bukit-bukit seakan terpisah bertebaran, menghijau di antara biru laut yang memukau. Panorama gunung-gunung dan laut dengan gelombang yang terus menyapa tepi pasir putih keemasan ini ibarat dalam satu lanskap “surga” di Lhoknga.
Begitulah Lhoknga punya cerita, seperti banyak kenangan yang terbagi dalam keindahan yang tak pernah terganti. (Hasnanda Putra)











