Parlementaria

Cut Azharida, SH: DP3AP2KB Terus Berusaha Turunkan Stunting

2249
×

Cut Azharida, SH: DP3AP2KB Terus Berusaha Turunkan Stunting

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Cut Azharida, SH FOTO/ ABDUL MUIZ

posaceh.com, Banda Aceh – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Cut Azharida, SH, menegaskan terus berusaha menurunkan prevalensi stunting di Kota Banda Aceh seperti target Pemerintah Indonesia.

 

Ia optimis, angka stunting di Kota Banda Aceh mampu turun hingga 14 persen seperti yang ditargetkan oleh Presiden Joko Widodo.

“Dengan kerja sama stake holder, kita yakin angka stunting bisa turun sesuai dengan target Pemerintah Pusat yaitu 14 persen,” katanya, Rabu (27/4/2022).

 

Lebih lanjut ia mengatakan, sesuai dengan amanah Presiden RI dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2021 Tentang percepatan penurunan stunting. Makanya persoalan stunting menjadi prioritas utama sebagai upaya mempersiapkan generasi penerus yang lebih baik.

 

“Persoalan stunting bukan hanya soal gizi, tapi lingkungan atau sanitasi juga harus diperhatikan. Persoalan stunting saat ini menjadi prioritas. Jadi diperlukan kerjasama semua pihak dan stakeholder untuk sama-sama bekerja untuk menurunkan angka stunting sesuai dengan yang kita harapkan,”

 

Menurutnya, target tersebut menjadi pekerjaan besar yang harus dituntaskan guna mewujudkan generasi emas di Kota Banda Aceh.

“Memang ini tugas yang berat untuk direalisasikan, tapi dengan kerja sama yang baik semua pihak kami akan terus berusaha memenuhi target tersebut, tentu ini menjadi harapan bersama bahwa Kota Banda Aceh mampu melahirkan generasi emas tanpa stunting,” ujarnya.

 

Cut Azharida, menjelaskan, stunting merupakan sebuah kondisi gagal pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Stunting ditandai dengan pertumbuhan yang tidak optimal sesuai dengan usianya. Anak yang tergolong stunting biasanya pendek walau pendek belum tentu stunting serta gangguan kecerdasan.

“Probematika stunting akan menyebabkan kesenjangan kesejahteraan yang semakin buruk bahkan stunting dapat menyebabkan kemiskinan antar generasi yang berkelanjutan,” ucapnya.

 

Selain itu stunting dapat menyebabkan meningkatnya resiko kerusakan otak dan menjadi pemicu penderitanya terkena penyakit metabolik seperti diabetes dan penyakit yang berkaitan dengan jantung di masa dewasa si anak.

“Dengan ancaman kesehatan dan kecerdasan, maka generasi yang terkena stunting akan mengalami berbagai permasalahan dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin beragam kedepannya,” terangnya.

 

Cut Azharida juga mengatakan, persoalan stunting adalah persoalan bersama. Pemerintah tidak akan berhasil melakukan penurunan stunting jika tidak didukung oleh peran serta semua komponen masyarakat.

“Peran generasi milenial di Aceh justru menjadi kunci pelibatan secara aktif. Para mahasiswa harus menjadi mahasiswa pasti atau peduli stunting, warga Kota Banda Aceh adalah bagian utama dari usaha penurunan angka stunting, jadi semuanya harus memiliki komitmen yang sama untuk atasi stunting,” pungkasnya.(Adv)