ParlementariaPemko Banda Aceh

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Musriadi: Pendidikan Aceh Tak Boleh Kehilangan Jati Diri

20
×

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Musriadi: Pendidikan Aceh Tak Boleh Kehilangan Jati Diri

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, M.Pd saat menjadi irup di SMAN 8 Banda Aceh, Senin (31/8/2026). FOTO/ M HERIZAL

posaceh.com, Banda Aceh — Pendidikan tidak sekadar urusan mencetak generasi berpengetahuan, tetapi juga menentukan wajah Aceh pada masa mendatang. Karena itu, pendidikan harus menjadi fondasi untuk membangun generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak, sekaligus memiliki jati diri.

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, M.Pd., menegaskan pendidikan merupakan jalan damai menuju peradaban yang mulia. Menurutnya, kemajuan pendidikan harus berjalan seiring dengan penguatan karakter, nilai keislaman, budaya, dan kearifan lokal Aceh.

Hal tersebut disampaikan Musriadi melalui rilis pers kepada sejumlah redaksi media massa, Kamis (3/9/2026), dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh yang diperingati setiap 2 September.

“Pendidikan adalah jalan damai menuju peradaban yang mulia. Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga harus membentuk karakter, akhlak, integritas, dan kepedulian sosial,” ujar Musriadi.

Ia mengatakan pendidikan Aceh memiliki kekhususan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Pasal 216 menegaskan hak masyarakat Aceh memperoleh pendidikan yang bermutu dan Islami dengan tetap menjunjung nilai Islam, budaya, kemajemukan, demokrasi, dan keadilan.

Amanat tersebut juga diperkuat Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015.

Menurut Musriadi, tantangan pendidikan semakin besar di tengah perkembangan teknologi digital. Sekolah dan madrasah tidak cukup hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga harus membangun literasi digital, kemampuan berpikir kritis, etika, dan integritas peserta didik.

Ia meminta pemerintah memperkuat pemerataan akses pendidikan, meningkatkan kualitas guru, menyediakan sarana yang memadai, serta memastikan anggaran pendidikan benar-benar berdampak terhadap mutu pembelajaran.

“Pendidikan adalah investasi peradaban. Kalau kita ingin melihat wajah Aceh 20 atau 30 tahun ke depan, lihatlah bagaimana kita mendidik anak-anak Aceh hari ini,” tegasnya.

Musriadi mengajak guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat membangun ekosistem pendidikan yang maju tanpa tercerabut dari akar nilai dan identitas Aceh.

“Bangun pendidikan Aceh yang maju tanpa kehilangan jati diri, modern tanpa meninggalkan nilai luhur, serta cerdas tanpa kehilangan akhlak. Dari pendidikan yang berkualitas, kita membangun generasi; dari generasi berkarakter, kita membangun peradaban Aceh yang mulia,” pungkasnya.(Zal/*)