Banda Aceh, Kota Emas Gerbang Dunia

  • Bagikan

Banda Aceh telah berusia 817 tahun dalam catatan kelahiran atau pendirian kota ini pada tanggal 22 April 1205 di Gampong Pande. Sejarah panjang ibukota Aceh telah lama sekali dan berbanding kota propinsi lainnya, Banda Aceh termasuk kota paling tua di Indonesia.

Dalam beberapa dekade kepemimpinan, sejarah Banda Aceh tidak bisa dipisahkan dari para Sultan di kerajaan Aceh. Raja-raja Aceh menjadikan Banda Aceh atau Kutaradja sebagai kota atau istana, sehingga dikenal istilah Dalam atau keraton di kerajaan Nusantara lainnya.

Di mana letak Dalam atau istana kerajaan Aceh sebenarnya? Invasi militer Belanda pertama sekali ke daratan Aceh pada april 1873 adalah mencari titik istana, dan Belanda sempat bingung untuk persoalan ini. Kerja mata-mata atau intelijen sempat dipertanyakan setelah mesjid raya terbakar karena dugaan kawasan ini adalah inti istana. Kesalahan strategi ini harus dibayar mahal oleh Belanda, sang panglimanya Johan Herman Rudolf Köhler tewas dengan sangat memalukan.

Mata uang yang digunakan negeri ini dulunya adalah koin-koin emas. Pembayaran atas setiap perdagangan yang berkembang pesat di Kota Aceh selain koin, juga digunakan emas batangan asli. Di mana letak tambang emas yang menghasilkan devisa begitu besar bagi kerajaan Aceh?

Kota Penuh Masjid Dan Pedagang Asing

Banda Aceh atau kota Achin, ditulis oleh William Dampier dalam catatan perjalanannya pada tahun 1688-1689 sebagaimana ditulis Anthony Reid dalam Sumatera Tempo Doeloe, sebagai ibukota kerajaan yang terdiri dari 7.000 atau 8.000 rumah, dan di dalamnya ada banyak sekali pedagang asing, misalnya Inggris, Belanda, Denmark, Portugal, Cina, Gujarat, dan lain-lain.

Kota ini punya banyak masjid, tulis Dampier kemudian, umumnya berbentuk bujur sangkar dan ditutupi genteng, tetapi ukurannya tidak besar juga tidak tinggi. Melihat catatan ini, nampaknya masjid yang dilihat penjelajah dunia ini adalah seperti bentuk masjid tua Indrapuri atau masjid lama Tgk Dianjong.

Tambang Emas, Sawah dan Budak-budak

Dalam berdagang, penduduk kota membayar dengan koin dari emas atau emas yang belum ditempa yang nilainya setara dengan koin emas. Para pedagang asing lebih suka dibayar dengan emas asli daripada koin emas, karena sebagian penduduk pribumi suka menipu dalam membuat koin.

Mereka mendapatkan emas dari gunung, yang letaknya disebutkan lebih dekat ke pantai barat daripada ke Selat Malaka. Dampier menambahkan bahwa letak tambang emas itu di dataran tinggi, dengan gunung emas yang dipenuhi penambang.

Uniknya yang boleh pergi ke gunung emas ini adalah yang beragama Islam. Di beberapa tempat menuju pergunungan itu, sekelompok prajurit kerajaan akan memeriksa badan orang-orang untuk mencegah yang tidak dikhitan meneruskan perjalanan.

Kalau melihat gambaran letak ini, kemungkinan besar wilayah pertambangan emas zaman kerajaan ini, berada di antara daerah Tangse dan Geumpang, di Pidie.

Tambang-tambang emas itu kondisinya tidak berbeda dengan saat ini, kumuh dan tidak sehat. Disebutkan setengah dari mereka yang datang tidak pernah kembali.

Orang-orang kaya di kota mengirimkan banyak sekali budak ke pertambangan. Sebagaimana ibukota sebuah kerajaan, para budak-budak dipelihara untuk melayani para penguasa dan pengusaha setempat.

Di kota Aceh mereka juga berperan dalam pertanian, sehingga model bercocok tanam di Aceh sebagiannya adalah yang ditinggalkan para budak. Orang-orang di kota Aceh dan sekitarnya pada zaman tersebut disebutkan sangat bergantung pada budak-budak, hingga pekerjaan yang ringan saja tidak mau mereka kerjakan. Penjelajah dunia menyebut penduduk lokal, sangat malas dan tidak mau menanam benih padi. Dampier malah menulis dalam catatannya itu, padi-padi ini bisa tumbuh subur di kota, tetapi penduduknya sangat angkuh dan pantang bagi mereka untuk bekerja. Mereka tidak pernah mengurus sawah sendiri, melainkan membiarkannya diurus budak-budak mereka.

Beras lebih mahal dari emas

Adakalanya emas ditukar dengan beras, namun persediaan beras yang sedikit tidak sebanding dengan jumlah emas yang banyak. Kebutuhan beras harus dipenuhi dari luar negeri, hingga harga pasar kebutuhan pokok itu bergantung dari kedatangan kapal dari Gujarat atau India.

Dampier menulis, karena satu mas bisa dipakai untuk membeli 14 atau 15 cupak (potongan bambu) beras. Ketika persediaan beras sedikit, anda akan kesulitan mendapatkan lebih dari tiga atau empat cupak dengan satu mas. Cupak adalah wadah kecil tertutup yang ukurannya, seingat Dampier, tidak lebih dari setengah galon (kurang lebih 2,2 liter). Dengan begitu, harga emas beras naik-turun seiring dengan kapal yang datang kemari.

Begitulah gambaran kecil kota Aceh atau Banda Aceh, dalam sebuah catatan penjelajah dunia. Kota tua ini dulunya dikenal sebagai kota kosmopolitan, tempat berbagai peduduk dunia tinggal dan berdagang. Beragam bangsa dunia dan hubungan yang terjalin, telah ikut mempengaruhi peradaban Aceh untuk beberapa waktu kemudian. Banda Aceh adalah kota emas pada masanya dan gerbang dunia, pintu masuk negeri-negeri Nusantara. (Hasnanda Putra)

  • Bagikan