Namanya hampir tidak dikenal dalam literasi sejarah, dan tidak ada pembahasan siapa sosok pemberani ini. Kisah heroik dalam perlawanan ini adalah aksi Ahmat Leupon, seorang warga Aceh biasa yang berhasil membunuh Kapten Schmid, seorang perwira marsose Belanda, di Lhoksukon.
Ahmat Leupon disebut “pungo”, atau istilah Belanda Atjeh Moorden (pembunuhan gila gaya orang Aceh seorang diri).
Kapten Charles Emile Schmid, Komandan Divisi V Marsose di Lhoksukon, Aceh Utara, jejak rekamnya dikenal sebagai pembantai para pejuang Aceh keturunan terakhir Tgk Chik Di Tiro di Tangse. Sosok marsose yang disebut lancar berbahasa Aceh ini juga yang menyerang Cut Gambang, putri tercinta Cut Nyak Dien, sampai syahid.
Kapten Marsose ini suatu hari, senin 10 Juli 1933, seperti biasa menggelar apel seluruh pasukannya. Dia memimpin upacara dan latihan baris-berbaris para bawahannya. Catatan kisah ini banyak ditulis dalam postingan para sejarawan dan buku-buku sejarah perang Aceh, salah satunya seperti dalam buku Perkuburan Belanda Peutjuet Membuka Tabir Sedjarah Kepahlawanan Rakyat Atjeh (1972).
Dikisahkan, ketika Schmid masih serius memperhatikan prajuritnya berlatih berbaris lewatlah seorang warga di dekatnya. Dia memberi hormat tabik, mengangkat tangan melekatkan jari ke keningnya kepada perwira marsose itu.
Kapten Schmid membalas mengangkat tangan tabik, tiba-tiba dengan sebuah gerakan cepat sebilah rencong telah dihujamkan ke tubuhnya. Schmid jatuh bersimbah darah.
Warga pemberani yang nekat melakukan pembunuhan itu bernama Amat Leupon.
Suasana berubah panik, sebagian menyelamatkan Schmid dan lainnya menyerang Amat yang hanya seorang diri. Ahmat Leupon benar-benar menujukkan keberanian seorang Aceh dengan rencong di tangan, dan terus memberikan perlawanan.
Perkelahian tidak seimbang, diantara tebasan pedang, seorang Marsose bernama Asa Baoek berhasil membunuh Amat Leupon yang seorang diri.
Apa yang dilakukan Amat Leupon itu oleh Belanda disebut sebagai Aceh moorden (pembunuhan), tulis Iskandar Norman, sering dimaknai sebagai Aceh gila alias Aceh pungo. Orang Aceh sendiri menyebutnya hamok, mengamuk dan membunuh lawan di mana saja jumpa. Satu nyawa Belanda sudah cukup bagi orang Aceh untuk menebus kematiannya sendiri.
Atas ketangkasan menghentikan Amad Leupon setelah tersungkurnya Kapten Schmid itu, Asa Baoek mendapat anugerah bintang salib perunggu dari Pemerintah Belanda.
Kapten Schmid dengan luka parah diboyong ke rumah sakit. Namun pembunuh putri Cut Nyak Dien dan putra Tgk Chik Di Tiro ini, mati dalam perjalanan di Lhoksukon.
Jenazah Schmid kemudian dibawa ke Kutaraja, dimakamkan di kompleks perkuburan Belanda, Kerkhof Peucut.
Komplek Kerkhof Peucut di Banda Aceh, perkuburan militer Belanda terbesar di Hindia Belanda, terbujur jasad sekitar 2.200 prajurit asli Belanda, maupun pasukan bayarannya dari suku Jawa, Batak dan Ambon yang tergabung dalam marsose.
Aksi heroik Ahmad Leupon menunjukkan bahwa semangat perlawanan rakyat Aceh tidak mudah dipadamkan, meskipun Belanda telah mengerahkan pasukan elit mereka. Kematian yang menjemput para komandan marsose ini adalah bukti bahwa pejuang Aceh tetap berjuang dengan berbagai cara sampai titik darah penghabisan, biarpun disebut gila! (Hasnanda Putra)











