Banghas

Papua Kita

2259
×

Papua Kita

Sebarkan artikel ini
(Hasnanda Putra)
Hasnanda Putra bersama seorang Pemuda asal Papua yang menjadi pengurus DPP KNPI. FOTO/ DOK PRIBADI

Burung besi besar itu turun perlahan di antara hembusan angin dan hujan yang mengguyur tanah Cendrawasih.

Sebuah kolam raksasa membiru di ujung gunung, rimbun pohon menghijau di sekeliling tanah membukit itu. Itulah Danau Sentani di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops, antara Kota Jayapura dan Sentani.

“Pace, selamat datang di Papua,” sapa nya ramah.
Beberapa pemuda berjas biru, menyambut kami, Rabu sore 25 Februari 2015.

Ya akhirnya kami tiba di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, mengikuti Kongres XIV Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Perjalanan di udara selama 5 jam 15 menit lumayan melelahkan, namun pemandangan ketika memasuki Pulau Papua yang rimbun dengan gunung-gunung rasanya terbayarkan sudah. Apalagi ketika pesawat yang kami tumpangi memutar Kota Sentani yang indah dari langit Papua.

Tanah Papua kaya dengan hasil alam yang sangat melimpah, juga menyimpan pesona alam dengan kekhasan budaya yang unik dan berbeda dengan daerah lainnya.

Dari banyak hal, orang-orang Papua merasa senasib dengan warga Aceh. Sama-sama berada di ujung ke ujung, pernah berkonflik sampai merasa dipinggirkan adalah beberapa sebab kedua daerah ini cenderung merasa dekat.

Saat berkunjung ke Jayapura, kami sempat menuju perbatasan, tepatnya di Skouw yang menjadi perbatasan antara Kota Jayapura dengan Wutung, Papua Nugini (PNG).

Untuk menuju perbatasan kita melalui perkampungan dan hutan-hutan kecil. Di sini kita akan terbiasa melihat babi perliharaan berkeliaran.

Sampai di perbatasan disambut personil TNI yang berjaga, mereka menyapa dengan cukup ramah. Mengetahui kami dari Aceh, beberapa aparat memberitahukan temannya yang berasal dari Aceh.

Di sini kita bisa menikmati berbagai kuliner khas Papua Nugini. Dari yang spesial daging domba, pisang goreng, kue-kue dan minuman lokal Papua Nugini.

Selepas berkeliling, kami ikut menikmati pemandangan pantai di Kota Jayapura. Lautan yang menghadap ke Samudera Pasifik menyuguhkan pemandangan yang luar biasa, kami sempat juga menjelajahi beberapa kampung di perbukitan dalam ibukota propinsi paling ujung timur Indonesia ini.

Ketika magrib tiba, gema azan bergema di seluruh kota ini. Penduduk Kota Jayapura, sekitar 404.351 jiwa. Dengan populasi ini sekitar 43,42% beragama Islam. Maka dengan kondisi ini kita lebih mudah menemukan masjid atau mushala di kota ini. Secara umum toleransi beragama cukup baik, sejumlah sekolah Islam di bawah lembaga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah berkembang pesat. Kami sempat mengunjungi sebuah perguruan tinggi Islam di Kota Jayapura.

Tradisi Makan Pinang

Bagi kita masyarakat Aceh, makan sirih itu berarti mengunyah daun sirih dengan pinang muda yang dipotong kecil. Yang lebih modern adalah pajoh ranup mameh, pinang disatukan dalam daun sirih.

Tradisi makan sirih dalam budaya Aceh merupakan warisan turun temurun.

Begitu juga kebiasaan mengunyah pinang di Jayapura. Dalam arena Kongres Pemuda saat itu tidak ayal di beberapa sudut lantai atau di jalanan kita menemukan ludahan sirih yang berwarna merah. Mereka biasanya membuang ludah hasil kunyahan pinang pertama, baru kemudian dicocol ke kapur sirih.

Tradisi menikmati pinang di Kota Jayapura dan daerah lain di Papua sudah berjalan turun temurun juga. Pinang dan sirih juga menjadi lambang keakraban warga Papua.

Makan pinang tidak hanya orang tua saja, anak-anak muda juga menjadikan tradisi ini sebagai santapan pencuci mulut. Malahan orang menyebut, pinang ibarat permennya orang Papua.

Begitulah kisah kecil yang sempat penulis rasakan selama beberapa waktu berada di Tanah Papua, berkunjung dari paling ujung barat ke negeri paling timur.

Papua adalah kita, Indonesia.

Helem foi Papua, Terima Kasih saudara dari Timur.
(Hasnanda Putra)