Daerah

Dari Daging Pala Abdya yang Terbuang Menjadi Minuman Bernilai

24
×

Dari Daging Pala Abdya yang Terbuang Menjadi Minuman Bernilai

Sebarkan artikel ini
Wakil Bupati Aceh Barat Daya Zaman Akli berfoto bersama masyakarat di Booth UMKM. FOTO/IST

posaceh.com, Banda Aceh – Di Aceh Barat Daya (Abdya), buah pala tumbuh sebagai salah satu komoditas perkebunan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, tidak seluruh bagian buah itu memperoleh nilai ekonomi yang sama.

Daging buah pala, misalnya, selama ini masih banyak yang terbuang di tingkat petani.

Dari persoalan tersebut, muncul upaya untuk mengolahnya menjadi produk yang dapat dikonsumsi dengan bentuk berbeda: minuman pala alami dan fermentasi.

Upaya itu dilakukan usaha rumahan yang bernaung dalam Perseroan Perorangan PalaQI Iskandar Tsani atau QiPa.

Produk olahan pala tersebut diperkenalkan kepada masyarakat Banda Aceh melalui agenda peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Ikatan Masyarakat Aceh Barat Daya (IKAMABDYA) bersama Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Aceh Barat Daya (Hipelmabdya), Sabtu (19/9/2026), di UCC Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA).

Bagi QiPa, kegiatan itu bukan sekadar berbagi minuman. Ada upaya yang lebih panjang untuk memperkenalkan bahwa hasil perkebunan Abdya dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah dan dipasarkan di luar daerah.

Owner QiPa, Sarah Artsila Arafah, mengatakan selama ini daging buah pala masih banyak terbuang sehingga pihaknya berupaya membeli bahan baku langsung dari petani.

“Sejauh yang kami tahu, selama ini daging pala banyak terbuang di tingkat petani. Jadi, kami membeli dari petani langsung. Beberapa ada di Babah Lhok, ada juga di Lembah Sabil serta di beberapa desa lain. Semoga tindakan yang kami kerjakan ini bisa sedikit membantu petani. Yang selama ini dagingnya dibuang, kini bisa menambah nilai ekonomis,” katanya.

Pala, dengan nama ilmiah Myristica fragrans Houtt, merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Abdya.
Nilai pala sesungguhnya telah dikenal sejak berabad-abad lalu.

Pada masa perdagangan rempah, termasuk era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pala bukan sekadar hasil perkebunan biasa.

Komoditas ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu rempah yang mendorong bangsa-bangsa Eropa mencari sumbernya di Nusantara.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pala sejak lama memiliki nilai ekonomi. Namun, dalam perkembangannya, pemanfaatan buah pala di tingkat masyarakat masih memiliki ruang untuk dikembangkan, terutama pada bagian daging buah.

QiPa mencoba mengambil ruang tersebut melalui pengolahan menjadi minuman.
Dengan pendekatan itu, pala tidak berhenti sebagai komoditas yang dipanen dan dijual sebagai bahan baku, tetapi mulai diproses menjadi produk yang dapat dikonsumsi langsung.

Pengolahan tersebut sekaligus membuka kemungkinan bagi bagian buah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan untuk masuk ke dalam rantai nilai ekonomi.

Membawa Rasa Abdya ke Banda Aceh

Kehadiran minuman pala di Banda Aceh juga memiliki dimensi lain.

Banda Aceh menjadi tempat bermukimnya masyarakat Abdya yang merantau untuk menempuh pendidikan, bekerja, maupun menetap bersama keluarga.

Karena itu, memperkenalkan produk olahan pala di ibu kota provinsi tersebut sekaligus menjadi cara mempertemukan hasil alam daerah asal dengan masyarakat Abdya di perantauan.

“Kami sangat senang bisa berbagi kepada perantau Abdya yang saat ini berdomisili di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang serta daerah sekitarnya. Hasil alam Abdya bisa dinikmati perantau Abdya meski tidak di kampung halaman,” ujar Sarah.

Di tangan para pengolah, buah yang dipanen dari kebun di Abdya kemudian hadir dalam bentuk yang berbeda. Bukan lagi sekadar buah atau rempah, melainkan minuman yang dapat dinikmati di luar wilayah asalnya.

Bagi masyarakat perantauan, kehadiran produk tersebut juga menjadi semacam pengingat terhadap daerah asal.

Hasil alam yang tumbuh di kampung halaman dapat kembali ditemui, meskipun telah melalui proses pengolahan dan hadir dalam bentuk baru.

Nilai Tambah untuk Petani

Bagi QiPa, pengembangan produk pala tidak hanya berkaitan dengan perluasan pemasaran.

Ada persoalan lain yang ingin disentuh, yakni bagaimana proses pengolahan dapat memberikan nilai tambah pada bahan baku sekaligus membuka manfaat bagi petani.

Selama daging buah pala masih dibuang, bagian tersebut praktis belum memberikan kontribusi ekonomi yang optimal bagi rantai produksi. Ketika diolah menjadi produk, bagian tersebut memiliki peluang untuk menjadi sumber nilai baru.

Sarah berharap pola pengolahan semacam itu dapat terus berkembang.

“Kami berharap ke depan semakin banyak hasil alam Abdya yang bisa diolah dan memiliki nilai tambah. Bukan hanya untuk kami sebagai pengolah, tetapi juga bisa memberikan manfaat kepada petani yang menjadi sumber bahan baku,” katanya.

Menurutnya, pengembangan produk berbahan dasar pala membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Tujuannya agar komoditas lokal tidak berhenti sebagai hasil perkebunan, tetapi dapat berkembang menjadi produk olahan dengan jangkauan pasar yang lebih luas.

Perjalanan pala dari kebun di Abdya menuju meja masyarakat di Banda Aceh dengan demikian bukan sekadar perpindahan produk dari satu daerah ke daerah lain.

Di dalamnya terdapat upaya untuk mengubah cara melihat komoditas lokal: dari hasil perkebunan menjadi bahan baku industri rumahan, dari bagian yang selama ini terbuang menjadi produk bernilai, dan dari sesuatu yang hanya dikenal di daerah asal menjadi produk yang diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas.(Muh/*)