BanghasDaerah

Ketika Tgk Chik Di Tiro Menantang Belanda dengan Sepucuk Surat

24
×

Ketika Tgk Chik Di Tiro Menantang Belanda dengan Sepucuk Surat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Tgk Chik Di Tiro menulis surat ultimatum kepada Belanda (Ai)

Perang Aceh tidak selalu berlangsung dengan bedil dan pedang. Kadang, sebuah surat justru mampu menjadi senjata yang memperlihatkan keberanian, keyakinan, dan kecerdasan seorang pejuang.

Pada 1885, di tengah berkecamuknya perang melawan Belanda, Tgk Chik Di Tiro atau Syekh Saman Di Tiro mengirim surat kepada Asisten Residen Belanda di Kutaraja, Van Langen. Surat itu bukan surat biasa. Isinya adalah tawaran perdamaian yang sekaligus mengandung tantangan keras kepada pemerintah kolonial.

Syaratnya bahkan terdengar sangat sederhana: Belanda harus memeluk Islam. Surat ini terdapat dalam buku Atjeh karangan H.C. Zentgraaff.

Setelah itu tulis Tgk Chik Di Tiro, barulah perdamaian dapat dilakukan dan orang-orang Belanda bisa hidup rukun dengan masyarakat Aceh. Jika tidak, Syekh Saman mengingatkan bahwa mereka akan menghadapi perlawanan dan pada akhirnya terusir dari Aceh.

Bagi pembaca masa kini, isi surat tersebut mungkin terdengar tidak lazim. Tetapi jika ditempatkan dalam suasana Aceh pada akhir abad ke-19, surat itu memperlihatkan dengan jelas cara berpikir seorang ulama pejuang yang melihat perang bukan semata-mata sebagai persoalan politik dan kekuasaan.

Syekh Saman berbicara dengan keyakinan seorang ulama sekaligus ketegasan seorang pemimpin perang.

Ia mengingatkan Belanda bahwa kehidupan mereka di Aceh tidak akan pernah benar-benar aman. Mereka akan terus dibayangi peperangan, dikejar, melarikan diri melewati sawah, saluran pengairan, hutan dan jalan besar. Bahkan, ia memperkirakan suatu saat Kompeni harus meninggalkan seluruh Aceh.

Namun yang menarik, ancaman tersebut tidak berdiri sendiri. Syekh Saman justru menawarkan jalan keluar.

Jika Belanda bersedia memeluk Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW., ia menjanjikan keselamatan, kehormatan dan kehidupan yang lebih tenang. Mereka tidak lagi menjadi musuh yang harus diperangi, tetapi dapat diterima dan hidup bersama orang Aceh.

Di sinilah kecakapan diplomasi Syekh Saman terlihat.

Ia memahami bahwa seorang lawan tidak selalu harus dihadapi hanya dengan kekuatan. Surat dapat menjadi ruang untuk menyampaikan posisi, memberikan pilihan, sekaligus memperlihatkan bahwa pihak Aceh tidak kehilangan kendali atas arah perjuangannya.

Lebih jauh, surat itu menunjukkan bahwa Syekh Saman tidak memisahkan perjuangan duniawi dengan keyakinan agama. Ia berbicara tentang keselamatan bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Ia mengingatkan Belanda mengenai surga, neraka dan hukuman Tuhan.

Bahkan gambaran tentang kenikmatan surga disampaikan panjang lebar. Bagi Syekh Saman, persoalan yang sedang dihadapi Belanda bukan hanya soal menang atau kalah dalam perang, tetapi juga tentang pilihan hidup dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Tuhan.

Karena itu, surat tersebut menjadi dokumen yang menarik dalam sejarah Perang Aceh. Ia memperlihatkan wajah lain seorang pejuang yang selama ini lebih sering dikenang melalui keberaniannya di medan tempur.

Syekh Saman ternyata bukan hanya orang yang mampu menggerakkan perlawanan bersenjata. Ia juga mampu menggunakan bahasa sebagai alat perjuangan.

Pedang digunakan untuk menghadapi kekuatan kolonial. Pena digunakan untuk menyampaikan keyakinan dan sikap.

Keduanya bertemu dalam diri seorang ulama yang memahami bahwa perjuangan tidak hanya membutuhkan keberanian untuk melawan, tetapi juga kecerdasan untuk berbicara kepada lawan.

Surat kepada Van Langen itu akhirnya menjadi potret kecil dari semangat besar Perang Aceh. Sebuah perang yang bukan hanya berlangsung di medan pertempuran, tetapi juga di ruang-ruang diplomasi, dalam surat-surat, dan dalam keyakinan para pejuangnya.

Dan dari sepucuk surat itu kita kembali melihat sosok Tgk Chik Di Tiro secara lebih utuh: seorang ulama, pejuang, sekaligus diplomat yang berani menawarkan damai kepada lawan—tetapi dengan syarat yang lahir dari keyakinannya sendiri. (Hasnanda Putra)