Banghas

Malam Berdarah di Tangse, Kisah Kelam dalam Perang Aceh

39
×

Malam Berdarah di Tangse, Kisah Kelam dalam Perang Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi detik-detik pembunuhan seorang isteri mata-mata Belanda oleh pejuang Aceh di Tangse (Ai)

Keuchik Maha duduk di bangku kayu itu sambil mengangkat kaki yang masih berlumur lumpur. Di hadapannya, seorang perempuan Aceh jongkok dengan kepala tertunduk. “Keringkan dengan rambutmu,” katanya pendek.

Perempuan itu menurut. Rambutnya diurai perlahan, lalu disapukan ke kaki lelaki bersenjata rencong tersebut. Bukan karena hormat. Bukan pula karena tunduk. Ia melakukannya karena paham benar: malam itu, hidup dan mati sedang dipertaruhkan.

Beberapa detik kemudian, rencong itu menusuk matanya dengan kejam.

Malam berdarah di Pulo Seunong, Tangse, pada Juli 1910, menyisakan satu pelajaran penting: perang tidak selalu melahirkan pahlawan tanpa cela. Kisah yang terekam dalam buku Atjeh karya H.C. Zentgraaff ini menunjukkan sisi lain perang Aceh—bahwa di balik keberanian, kadang hadir pula kekerasan yang sulit dibedakan dari musuh yang sedang dilawan.

Kisah itu bermula dari pengkhianatan—atau setidaknya apa yang dianggap sebagai pengkhianatan. Seorang lelaki bernama Sibanta dituduh menjadi mata-mata pemerintah kolonial Belanda. Dalam perang Aceh yang telah berlangsung puluhan tahun, tuduhan seperti itu hampir selalu berarti hukuman mati.

Di kampung-kampung pedalaman Aceh, rahasia sulit disimpan. Informasi bergerak lebih cepat daripada peluru. Mata-mata Kompeni sering memperoleh uang, perlindungan, atau kedudukan tertentu. Tetapi begitu identitas mereka terbuka, umur mereka biasanya tidak panjang.

Keuchik Maha, pemimpin gerombolan bersenjata yang cukup disegani di kawasan Tangse, datang malam itu untuk menghukum.

Rumah pertama yang didatangi ternyata hanya dihuni istri Sibanta. Kemarahan berubah menjadi pertunjukan kuasa. Perempuan yang tak memegang senjata itu dijadikan sasaran. Setelah dibunuh, tubuhnya dicincang oleh pengikut-pengikut Keuchik Maha.

Lalu rombongan bergerak menuju rumah kedua.

“Agam, turun!”

Panggilan itu sengaja memakai bahasa Melayu agar terdengar seperti pasukan kolonial yang membutuhkan jasanya. Sibanta tertipu. Saat turun dari rumah panggung, senapang lantak menghantam kakinya hingga roboh. Setelah itu, penyiksaan dimulai.

Tangan dipotong. Kaki dipotong. Kepala dipisahkan dari badan.

Potongan tubuhnya berserakan di halaman.

Pada malam yang sama, kepala kampung Pulo Seunong juga dibunuh. Istrinya mengalami nasib serupa. Ketika pasukan marsose tiba beberapa waktu kemudian, mereka tidak menemukan mayat utuh—yang ada hanya bagian-bagian tubuh yang harus dikumpulkan kembali.

Di dekat cincangan mayat wanita isteri mata-mata Kompeuni itu, para pasukan marsose bersumpah, bahwa Keuchik Maha akan mati seperti itu pula.

Perang Aceh menyisakan banyak kisah menarik antara pengkhianatan dan kepahlawanan, dan tetap saja ada sisi yang tidak bisa disembunyikan dalam sejarah, bahwa adakala para pejuang Aceh tidak jauh kejamnya dari para marsose.

Pasukan marsose kolonial memang terkenal keras: membakar kampung, melakukan ekspedisi penghukuman, dan menjalankan operasi-operasi brutal. Namun medan perang panjang juga mengubah banyak kelompok gerilya menjadi sama kerasnya. Kekejaman menjadi bahasa sehari-hari.

Pengkhianat dibunuh bukan sekadar untuk menghilangkan musuh, tetapi untuk mengirim pesan.

Di sinilah sejarah sering terasa tidak nyaman.

Karena mengakui kekejaman sebagian pejuang Aceh bukan berarti membenarkan kolonialisme.

Pulo Seunong menyimpan ironi itu.

Di sana, antara rencong, sumpah balas dendam, dan tubuh-tubuh yang tercerai-berai, sejarah menunjukkan wajahnya yang paling manusiawi sekaligus paling gelap: bahwa keberanian dan kebrutalan kadang berjalan beriringan.

Dan mungkin, justru karena itulah kisah seperti ini perlu terus diceritakan. (Hasnanda Putra)