Internasional

Australia Kerahkan Pesawat Pengintai untuk Misi Keamanan di Selat Hormuz

27
×

Australia Kerahkan Pesawat Pengintai untuk Misi Keamanan di Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Pesawat pengintai E-71 Wedgetail milik Angkatan Udara Australia. FOTO/AFP

posaceh.com, Canberra – Australia akan mengerahkan sebuah pesawat pengintai berteknologi tinggi untuk mendukung upaya internasional dalam menjaga jalur pelayaran tetap terbuka di Selat Hormuz, yang terdampak perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Canberra menyebut misi multinasional itu akan fokus pada jalur pelayaran dan menurunkan risiko eskalasi konflik.

Menteri Pertahanan (Menhan) Australia Richard Marles, seperti dilaporkan SBS News dan dilansir Anadolu Agency, Rabu (13/5/2026), mengumumkan pengerahan pesawat Boeing E-7 Wedgetail setelah pertemuan virtual para Menhan dari lebih dari 40 negara pada Selasa (12/5) waktu setempat.

Pesawat pengintai itu sebelumnya telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah pada Maret lalu, sebagai bagian dari upaya untuk melindungi Uni Emirat Arab (UEA) dari serangan balasan Iran.

Pesawat Boeing E-7A Wedgetail dianggap sebagai salah satu platform pengintai udara tercanggih di dunia.

Misi multinasional, yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis itu, bertujuan untuk melindungi navigasi melalui Selat Hormuz yang strategis.

Marles mengatakan bahwa peran Australia dalam operasi tersebut akan tetap bersifat defensif. Dia juga menekankan bahwa pengerahan itu dimaksudkan untuk melengkapi upaya diplomatik dan mengurangi risiko eskalasi lebih lanjut.

Treasurer Australia Jim Chalmers memperingatkan bahwa ketidakstabilan yang berkepanjangan di Timur Tengah telah mempengaruhi harga energi global dan dapat membebani perekonomian Australia melalui tekanan inflasi serta tekanan pertumbuhan.

Ketegangan regional meningkat AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Iran juga secara efektif menutup jalur perairan vital Selat Homuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas, selama pertempuran berlangsung. AS merespons dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Teheran, dalam upaya menekan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Gencatan senjata diberlakukan sejak awal April lalu melalui mediasi Pakistan, yang kemudian diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang ditentukan. Perundingan damai yang digelar di Islamabad pada pertengahan April lalu gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.(Muh/*)