Internasional

Kapal Rusia Diam-diam Kirim Nuklir ke Korut, Dalih Bawa Penutup Got

28
×

Kapal Rusia Diam-diam Kirim Nuklir ke Korut, Dalih Bawa Penutup Got

Sebarkan artikel ini
Kapal kargo Rusia Ursa Major. FOTO/AFP/HANDOUT

posaceh.com, Jakarta – Sebuah kapal kargo Rusia diduga membawa sejumlah reaktor nuklir untuk dikirim diam-diam ke Korea Utara (Korut).
CNN melakukan investigasi terhadap kapal dengan nama Ursa Major usai meledak dan tenggelam dalam kondisi misterius.

Kapal tersebut ditemukan tenggelam pada 23 Desember 2024. Beberapa waktu setelah insiden, sejumlah aset militer Amerika Serikat (AS) dan Rusia mendatangi bangkai kapal yang berada jauh di dasar laut.

Berdasarkan investigasi CNN, kapal Ursa Major pertama kali berlayar dua bulan setelah Korea Utara mengirim pasukan militer ke Rusia untuk berperang melawan Ukraina.

Saat itu, kapal tercatat membawa sejumlah barang, yakni 129 kontainer kosong, dua derek Liebherr besar, dan dua penutup lubang got (manhole cover) besar.
CNN mencurigai ada kejadian janggal terhadap Ursa Major ketika kapal meledak dan berakhir tenggelam sekitar 60 mil dari Spanyol.

Pasalnya, Ursa Major mengalami sejumlah ledakan sebelum kandas dan beberapa ledakan lagi setelah karam.
Menurut penyelidikan Spanyol, kapal kemungkinan meledak karena serangan torpedo langka menembus lambung kapal. Serangan ini diduga kuat diluncurkan Amerika Serikat karena saat itu perang di Ukraina mencapai puncaknya dan menguntungkan Rusia.

Ketika itu merupakan periode terakhir mantan Presiden AS Joe Biden. CNN menduga ada keinginan kuat dari Washington untuk tidak langsung bersitegang dengan Moskow.

Kapal Ursa Major, yang juga dikenal sebagai Sparta 3, tercatat berlayar dengan tujuan Vladivostok, timur jauh Rusia. Kapal ini dikawal dua kapal militer Rusia, yakni Ivan Gren dan Aleksandr Otrakovsky.

Kapal bergerak menyusuri pantai Prancis sebelum pesawat dan kapal Angkatan Laut Portugal melacaknya di perairan mereka.

Pada 22 Desember 2024, kapal tiba di perairan Spanyol. Kapal sempat melambat secara drastis hingga mendorong tim penyelamat Spanyol menghubungi melalui radio dan memeriksa apakah kapal dalam keadaan darurat.

Awak kapal saat itu mengaku baik-baik saja.

Namun, 24 jam kemudian, kapal menyimpang tajam dari jalurnya. Pada pukul 11.53 UTC, kapal mengeluarkan panggilan darurat.

Tiga ledakan terjadi di sisi kanan lambung, kemungkinan di dekat ruang mesin. Dua awak tewas dalam insiden tersebut.

Kapal penyelamat Spanyol meluncur untuk mengevakuasi 14 awak kapal yang selamat. Setengah jam kemudian, kapal militer Rusia yang mengawal Ursa Major memerintahkan kapal-kapal di dekatnya menjaga jarak dua mil laut dan mengembalikan awak kapal yang diselamatkan.

Otoritas Spanyol menolak karena ingin menyelamatkan kapal beserta awak. Helikopter pun dikirim ke Ursa Major untuk memeriksa adakah korban lain yang masih terjebak.

Saat tim berhasil menaiki kapal, Ursa Major tampak stabil dan tidak mungkin tenggelam dalam waktu dekat. Namun, pada pukul 21.50 waktu setempat, kapal militer Rusia Ivan Gren menembakkan serangkaian suar merah ke lokasi dan terjadi ledakan keempat.

Empat sinyal seismik yang tercatat pada waktu tersebut yang polanya menyerupai ancaman bawah laut. Pada pukul 11.10, Ursa Major tenggelam.

Belasan awak kapal yang merupakan warga Rusia dibawa ke Cartagena untuk diinterogasi oleh polisi dan penyelidik Spanyol.

Sang Kapten saat itu enggan berbicara mengenai dugaan isi kapal karena khawatir akan keselamatannya.

Penyelidik kemudian menekannya hingga akhirnya mengakui bahwa barang-barang yang tercatat dalam manifes bukan yang sebenarnya.

“Dia akhirnya mengakui bahwa barang-barang itu komponen dua reaktor nuklir mirip dengan yang digunakan di selam. Menurut kesaksiannya, dan tanpa dapat dikonfirmasi, komponen tersebut tidak berisi bahan bakar nuklir,” demikian hasil penyelidikan, yang Merujuk pada dua penutup lubang yang didapat.

Kapten bernama Igor Anisimov tersebut juga mengatakan bahwa ia yakin akan pergi ke pelabuhan Rason di Korea Utara untuk mengantarkan komponen reaktor tersebut.

Seminggu kemudian, menurut sumber yang mengetahui penyelidikan tersebut, militer Rusia kembali ke lokasi tenggelam. Kapal Yantar, yang secara resmi merupakan kapal penelitian Rusia, berada di atas bersama Ursa Major selama lima hari.

Empat ledakan kemudian terdeteksi lagi, yang kemungkinan menargetkan sisa-sisa kapal di dasar laut.

Pertemuan-ledakan pasca kejadian ini diyakini bukti bahwa Rusia ingin menghilangkan barang yang dibawa Ursa Major.

Hal ini juga memperkuat spekulasi bahwa barang yang dibawa Ursa Major benar-benar reaktor nuklir.

Militer AS sempat mengerahkan pesawat pendeteksi deteksi ke lokasi tenggelamnya Ursa Major, yakni WC135-R.

Pemilik kapal, Orobonlogistik; militer Rusia; dan Spanyol tidak memberikan komentar mengenai laporan ini. Pentagon juga menolak berkomentar.(Muh/*)