Ekbis

Perkuat Rantai Pasok Industri Otomotif Indonesia, Ini Strategi Toyota

28
×

Perkuat Rantai Pasok Industri Otomotif Indonesia, Ini Strategi Toyota

Sebarkan artikel ini
Perkuat Rantai Pasok Industri Otomotif Indonesia, Ini Strategi Toyota.FOTO/IST

posaceh.com, Jakarta – Industri otomotif Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan yang semakin kompleks.

Mulai dari stagnasi pasar domestik, gejolak geopolitik, hingga percepatan elektrifikasi, membuat seluruh pelaku industri untuk bisa beradaptasi lebih cepat

Dampaknya, tidak hanya dirasakan produsen kendaraan, tetapi juga perusahaan pemasok yang harus semakin fleksibel dan siap mengikuti perkembangan teknologi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menggelar TMMIN Supplier Convention 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Pantai Indah Kapuk, Senin (20/4/2026).

Ajang ini menjadi forum strategis guna memperkuat kolaborasi dengan seluruh ekosistem rantai pasok demi menjaga dan meningkatkan daya saing industri otomotif nasional.

Dijelaskan Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto, tantangan industri ke depan semakin kompleks, sehingga kolaborasi menjadi kunci.

“Untuk itu, kami terus memperkuat rantai pasok yang adaptif dan kompetitif melalui berbagai upaya, antara lain sinergi dengan pemerintah, penerapan pendekatan multi-pathway untuk menjawab kebutuhan konsumen yang semakin beragam, pengembangan biofuel dan hidrogen, serta penguatan human resources dan research and development (R&D),” ujar Nandi.

Mengusung tema ‘Stronger Together: Building Resilient, Competitive and Supply Chain Transformation’, acara ini juga menghadirkan pengumuman pemasok baru dalam ekosistem elektrifikasi Toyota serta pameran kendaraan hasil kolaborasi dengan supplier.

Industri otomotif sendiri masih menjadi salah satu pilar utama ekonomi nasional, khususnya dalam penyerapan tenaga kerja.

Toyota Indonesia tercatat berkontribusi terhadap lebih dari 360.000 tenaga kerja di seluruh rantai nilai.

Sejak berkembang pada 1970-an, industri ini telah bertransformasi dari importir menjadi produsen kendaraan utuh dengan tingkat kandungan lokal yang kini melampaui 80 persen, didukung ekosistem rantai pasok yang telah terbangun sejak 1977.

Kontribusi Sektor Otomotif

Kontribusi sektor otomotif juga terlihat dari sisi ekonomi, baik melalui investasi, penerimaan pajak pusat seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), maupun pajak daerah seperti Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

Selain itu, performa ekspor terus menunjukkan tren positif dengan total 3 juta unit kendaraan utuh yang telah dikirim ke lebih dari 100 negara.

Penguatan rantai pasok turut mendukung transformasi menuju elektrifikasi, termasuk ekspor kendaraan hybrid seperti Toyota Innova Zenix HEV dan Yaris Cross HEV yang secara gabungan telah menembus lebih dari 56.000 unit hingga kuartal I 2026.

Hal ini menegaskan kesiapan industri otomotif nasional dalam memasuki era mobilitas berkelanjutan.

“Industri otomotif memiliki kontribusi besar terhadap ekspor dan penyerapan tenaga kerja nasional. Momentum ini perlu terus dijaga dan dikembangkan melalui kolaborasi yang erat antara industri dan pemerintah agar memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian Indonesia,” tambah Bob Azam, Wakil Presiden Direktur TMMIN.

Saat ini, TMMIN bekerja sama dengan lebih dari 240 pemasok tier 1 serta 520 pemasok tier 2 dan tier 3. Kolaborasi ini berperan penting dalam memperkuat ekosistem industri, meningkatkan kemandirian, mengurangi ketergantungan impor, serta mendorong pertumbuhan Industri Kecil dan Menengah.(Muh/*)