News

Dodok, Negeri di Atas Awan

2796
×

Dodok, Negeri di Atas Awan

Sebarkan artikel ini

Kendaraan yang kami tumpangi seperti mengeluarkan tenaga esktra untuk mendaki Gunong Bran. Sesekali “nafas” kendaraan Inova ini hampir tersengal-sengal, beruntung sang supir yang juga pemilik Faisal atau akrab dipanggil Pak Kapus cukup lihai memainkan setir mobil. Perjalanan ke salah satu tempat tertinggi di Tangse ini kami lakukan di pagi hari jum’at (30/10).

Tebing terjal dan jalanan sempit membuat deru kendaraan tidak stabil, beberapa kendaraan peladang dan petani berpapasan di jalan pendakian itu membuat nyali kami kadang turun naik.

Sepanjang jalan kami melihat kopi liberika atau kopi panah tumbuh subur di antara tanaman lainnya. Jenis kopi unik ini memang sudah lama menjadi tanaman asli di Tangse sejak dibawa Belanda era 1900, selain jenis kopi robusta dan arabika.

Perlahan mulai terlihat aura kesuburan di tanah tinggi yang mendekati awan ini. Tanaman tumbuh subur dengan udara sejuk.

Saya bertanya pada Pak Kapus berapa kira-kira ketinggian tanah ini.

“Kalau di Tangse bawah sekitar 600 – 800 mdpl, di sini ketinggiannya bisa mencapai 1000-1200 mdpl,” kata Faisal.

Mukas Abu atau juga dikenal Abu Kasem yang ikut dalam rombongan ikut nimbrung diskusi dalam kendaraan ini.

“Luar biasa subur Dodok, saya kadang ingin punya rumah di sini, masa-masa tua rasanya ini tempat paling indah beristirahat,” kata Abu.

Kami mendaki Dodok bersama Tim Transit Tangse, selain Pak Kapus dan Abu, ikut juga Bakhtiar atau Ian Pumesta Ketua Pemuda Tani Pidie, Muhammad Yunus atau Maunoh dan pria kecil yang lucu Salman.

Setelah mendaki penuh perjuangan lebih kurang 40 menit, kendaraan yang kami tumpangi sukses tiba di puncak Dodok, Kawasan transmigrasi lokal di Tangse, Pidie. Terletak di Gampong Paya Guci, permukiman baru ini dibuka beberapa tahun lalu.

“Katrok u nanggroe lupie, negeri di atas awan,” kata Maunoh.

Dengan ketinggian mencapai 1000-1200 mdpl, Dodok menjadi kawasan permukiman tertinggi di Tangse, dan juga di Pidie. Ketinggian ini membuat hawa di sana cukup sejuk. Awan-awan terlihat dekat, seolah kita berjalan di samping dan di atasnya.

Salman yang dari tadi berdecak kagum melihat Translok Dodok, segera bersiap memainkan kamera smartphone nya. Pria kecil yang cekatan di media sosial ini segera membuat suasana meriah dengan ucapan pembukanya yang terkenal, “Saya Salman Uwau Sawadikhap kembali di Dodok Tangse,”

Transmigrasi Lokal ini merupakan program unggulan pemerintah untuk pemerataan penduduk juga penciptaan lapangan kerja baru. Diharapkan juga dapat meningkatkan perbaikan kehidupan masyarakat serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Dimulai sejak 2013, Translok ini perlahan mulai ramai. Pada awalnya hanya 50 KK namun perlahan makin menarik bagi warga lainnya untuk tinggal di Dodok.

Saat ini Translok Dodok dihuni 90 KK dengan 340 jiwa, dibagi dalam tiga blok yaitu blok 1, blok 2 dan blok 3.

Kawasan ini memang masih rawan dari kedatangan “Pomeurah” atau gajah, terlihat kotoran hewan besar ini di beberapa titik. Memang Gajah liar dalam beberapa waktu terakhir terlihat banyak sekali berkeliaran di hutan Tangse. Sahabat hutan ini kadang mendekati kebun warga, ada yang merusak namun sebagian cuma singgah. Alam dan lingkungan butuh keseimbangan untuk tidak saling mengganggu, keserakahan sebagian manusia kerap mendatangkan bencana kepada warga lain yang tidak terlibat sama sekali dalam merusak hutan sebagai rumah hewan-hewan.

“Kita hidup sama-sama, jadi perlu keseimbangan bersahabat dengan hewan tidak saling mengganggu. Prinsipnya kalau kita baik pada alam sebenarnya kita berbuat baik untuk diri sendiri,” kata Ian Pumesta.

Setelah berkeliling beberapa rumah dan jalan sekitarnya, kami mengambil momen cantik penuh keindahan dengan awan-awan yang terasa sangat dekat. Tidak berlebihan kami menyebut Dodok adalah sebenar-benar negeri di atas awan.

“Sudah cukup, kita shalat jum’at di bawah atau kalau terkejar waktu kita sampai ke Masjid Cot Batei saja,” kata Faisal mengingatkan kami.

Kami pun bergegas naik kendaraan meluncur kembali ke bawah. Sebuah perjalanan berkesan sampai di puncak Tangse telah kami lakukan. Translokal Dodok menyuguhkan pemandangan indah menawan, sebuah lanskap negeri di atas awan. (Hasnanda Putra).