Ekbis

Pajak Mobil di RI Dicap Paling Mahal Sedunia, Avanza 30 Kali Lipat Dibandingkan Thailand

871
×

Pajak Mobil di RI Dicap Paling Mahal Sedunia, Avanza 30 Kali Lipat Dibandingkan Thailand

Sebarkan artikel ini
Pajak tahunan mobil Toyota Avanza di Indonesia dan Thailand berbeda jauh. FOTO/TAM

posaceh.com, Jakarta – Pajak kendaraan bermotor di Indonesia kembali menjadi sorotan, karena nilainya terlalu tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara

Pajak kendaraan di Thailand disebut jauh lebih rendah dibandingkan di Indonesia, termasuk untuk mobil sejuta umat Toyota Avanza. Ketika pajak Avanza di Indonesia mencapai jutaan rupiah atau sampai 30 kali lipat dibandingkan kewajiban pajak di Thailand hanya ratusan ribu per tahun

“Saya ngecek sama teman-teman yang punya brand, iya pajak tahunannya Rp 150 ribu per tahun yang setara Avanza lah,” kata Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara usai diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin), dikutip Selasa (26/8/2025).

Sebaliknya, pajak kendaraan di Indonesia bisa mencapai 30x lipat lebih tinggi dibandingkan di Thailand. Pasalnya pajak mobil seperti Toyota Avanza di Indonesia mencapai jutaan rupiah per tahun, seperti dikutip dari CNBC, Senin (1/9/2025).

“Avanza kalau dibuka lagi pajak Rp 5 juta sekian tahun lalu. Yang ngomong orang Amerika Serikat dari Otomotif Council bilang ke saya pajak di negara kamu paling tinggi di dunia,” ujar Kukuh.

Ia mendapatkan informasi tersebut ketika mengikuti seminar di negara lain. “Saya diundang dalam seminar di Vietnam beberapa tahun lalu, ada delegasi AS yang bilang pajak mobil tertinggi ada di Indonesia,” katanya beberapa waktu lalu. Pajak kendaraan di Indonesia juga berkali-kali lipat dibandingkan negara tetangga Malaysia.

“Belakangan kita bedah, masyarakat mau membeli kendaraan tapi harganya masih mahal. Misalnya saja Toyota Avanza dibuat di Indonesia bayar pajak tahunan Rp 5 juta, produk yang sama di Malaysia pajaknya Rp 500 ribu. Begitu besar pajak makanya stagnan, ini yang harus kita lihat sekarang,” ujar Kukuh.(Muh/*)