posaceh.com, Damaskus – Jet tempur Israel membombardir wilayah Suriah, termasuk Ibu Kota Damaskus dengan target menghancurkan gudang persenjataan, termasuk pusat penelitian senjata kimia pada Selasa (10/12/2024). Israel berdalih penghancuran itu untuk mencegah persenjataan Suriah dikuasai kelompok ekstremis.
Media Suriah, Selasa (10/2/2024) sempat melaporkan jet tempur Israel telah melakukan puluhan serangan di seluruh negeri, termasuk di ibu kota, Damaskus. Badan Pemantau Hak Asasi Manusia (SOHR) Suriah yang berbasis di Inggris mengatakan ada lebih dari 100 serangan terhadap sasaran militer.
Sebuah pusat penelitian yang diduga terkait dengan produksi senjata kimia termasuk di antara lokasi yang diserang, menurut laporan media lokal. Israel mengatakan pihaknya bertindak untuk menghentikan jatuhnya senjata ke tangan kelompok ekstremis setelah penggulingan rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad.
Dewan Keamanan (DK) PBB langsung melakukan pertemuan untuk membahas situasi di negara tersebut setelah jatuhnya Presiden Bashar al-Assad. “Dewan, menurut saya, harus bersatu mengenai perlunya menjaga integritas wilayah dan kesatuan Suriah, menjamin perlindungan warga sipil, memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke masyarakat yang membutuhkan,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia kepada wartawan.
Badan Pemantau HAM Suriah mengatakan ada ratusan serangan udara Israel dalam dua hari terakhir, termasuk di sebuah situs di Damaskus yang dikatakan telah digunakan untuk pengembangan roket oleh para ilmuwan Iran. Serangan itu terjadi ketika badan pengawas kimia PBB memperingatkan pihak berwenang di Suriah untuk memastikan simpanan senjata kimia aman.

Menurut pengawas kimia PBB, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), senjata kimia adalah bahan kimia yang digunakan untuk menyebabkan kematian atau bahaya yang disengaja melalui sifat racunnya, Penggunaan senjata kimia dilarang berdasarkan hukum humaniter internasional terlepas dari adanya sasaran militer yang sah, karena dampak senjata tersebut pada dasarnya tidak pandang bulu, seperti dilansir BBC.
Tidak diketahui di mana atau berapa banyak senjata kimia yang dimiliki Suriah, namun mantan Presiden Bashar al-Assad diyakini menyimpan persediaan dan pernyataan yang dibuatnya tidak lengkap. Suriah menandatangani Sertifikat Senjata Kimia OPCW pada tahun 2013, sebulan setelah serangan senjata kimia di pinggiran ibu kota, Damaskus, yang melibatkan agen saraf sarin dan menyebabkan lebih dari 1.400 orang tewas.
Gambaran mengerikan dari para korban yang mengejang kesakitan mengejutkan dunia. Negara-negara Barat mengatakan serangan itu hanya bisa dilakukan oleh pemerintah, namun Assad menyalahkan pihak oposisi.
Meskipun OPCW dan PBB menghancurkan 1.300 ton bahan kimia yang dinyatakan pemerintah Suriah, serangan senjata kimia di negara tersebut masih terus berlanjut.Analisis BBC pada tahun 2018 mengonfirmasi bahwa antara tahun 2014 dan 2018, senjata kimia digunakan dalam perang saudara di Suriah setidaknya 106 kali.(Muh/*)











