posaceh.com, Gaza – Sebagian besar penduduk Jalur Gaza, Palestina, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa mulai didera kelaparan, bahkan hanya bisa makan sekali sehari. Serangan udara Israel yang terus berlanjut setiap hari telah menyebabkan warga tidak tahu lagi mencari tempat aman untuk berlindung.
Hal itu seperti dialami satu kelompok warga Eids yang tinggal di Jalur Gaza tengah, di mana kelompok bantuan mempunyai akses relatif lebih baik dibandingkan wilayah utara. Kawasan utara ini, sebagian besar masih terisolasi dan hancur sejak Israel mulai melancarkan serangan baru terhadap kelompok militan Hamas pada awal Oktober 2023.
Namun hampir semua orang di Jalur Gaza mengalami kelaparan akhir-akhir ini, khususnya di wilayah utara, para ahli mengatakan kelaparan besar-besaran mungkin sedang terjadi.
Pada Kamis (21/11/2024), Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya. Menuduh mereka menggunakan “kelaparan sebagai metode peperangan” – tuduhan yang dengan tegas dibantah oleh Israel.

Di Deir al-Balah, kelompok warga Eids, salah satu dari ratusan ribu orang yang berlindung di tenda-tenda kumuh. Toko roti lokal tutup selama lima hari minggu ini. Harga sekantong roti naik di atas $13 atau Rp 206 ribu pada Rabu (20/11/2024) karena roti dan tepung menghilang dari rak sebelum persediaan lainnya tiba.
Kantor kemanusiaan PBB memperingatkan peningkatan tajam jumlah rumah tangga yang mengalami kelaparan parah di Jalur Gaza tengah dan selatan. Tampaknya hal ini terkait dengan perampokan dengan todongan senjata terhadap hampir 100 truk bantuan akhir pekan lalu di Gaza sSelatan, dekat pos posisi militer Israel.

Israel menyalahkan Hamas, namun tampaknya tidak mengambil tindakan untuk menghentikan penjarahan tersebut, namun Hamas mengatakan hal tersebut ulah bandit lokal.
Kelompok-kelompok bantuan mengatakan penjarahan menjadi salah satu dari banyak hambatan dalam mendapatkan makanan dan bantuan penting lainnya bagi 2,3 juta warga Palestina di wilayah tersebut, seperti dilansir AP, Jumat (22/11/2024).
Mereka juga harus menghadapi pembatasan pergerakan Israel, pertempuran yang terus berlanjut, dan kerusakan parah yang diakibatkan oleh pemboman Israel terhadap jalan-jalan dan infrastruktur penting.
Seperti yang dialami Yasmin dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar selama berbulan bulan. “Harga semuanya naik, dan kami tidak bisa membeli apa pun,” katanya. “Kami selalu tidur tanpa makan malam,” ujarnya.
Dia rindu kopi, tapi satu bungkus Nescafe berharga sekitar $1,30 atau Rp 20 ribu, bahkan satu kilogram bawang bombay berharga $10 atau Rp 10 ribu dan sebotol minyak goreng berukuran sedang seharga $15 atau Rp 238 ribu, itupun jika tersedia.
Sedangkan daging dan ayam sudah tidak ada lagi di pasaran beberapa bulan yang lalu, namun masih ada beberapa sayuran lokal. Jumlah tersebut sangat besar di wilayah miskin di mana hanya sedikit orang yang mempunyai pendapatan tetap.
Sehingga, ratusan orang menunggu berjam-jam untuk mendapatkan makanan dari badan amal, yang juga mengalami kesulitan. Hani Almadhoun, salah satu pendiri Dapur Sup Gaza, mengatakan timnya hanya bisa menyajikan semangkuk kecil nasi atau pasta sekali sehari.
Dia mengatakan mereka dapat pergi ke pasar pada suatu hari dan membeli sesuatu seharga $5 atau Rp 79 ribu. Tetapi, saat kembali pada sore hari menemukan harganya dua atau tiga kali lipat.
Dapurnya di pusat kota Zuweida beroperasi dengan anggaran harian sekitar $500 atau Rp 7.9 juta selama perang. Ketika jumlah bantuan yang masuk ke Gaza anjlok pada Oktober 2024, biayanya naik menjadi sekitar $1.300 atau Rp 20,6 juta per hari. Jumlah ini dapat memberi makan sekitar setengah dari 1.000 keluarga yang mengantri setiap hari.(Muh/*)











