Sumpah Pemuda adalah tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan semangatnya juga tercermin dalam pergerakan pemuda di seluruh wilayah Nusantara, termasuk di Aceh. Meskipun peristiwa puncak Sumpah Pemuda terjadi di Jakarta pada 28 Oktober 1928, gema perjuangannya sampai hingga ke Aceh, wilayah yang memiliki peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda.
Pada tahun 1920-an, banyak pemuda Aceh yang menempuh pendidikan di luar daerah, terutama di Jawa. Mereka terlibat dalam organisasi pemuda dan mulai memperjuangkan kesadaran nasionalisme serta menentang penjajahan. Ketika Kongres Pemuda diadakan, beberapa pemuda asal Aceh turut terlibat dalam penyusunan Sumpah Pemuda, yang berisi cita-cita persatuan, tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Hal ini menjadi dasar penting bagi pemuda-pemuda Aceh untuk ikut mendukung perjuangan kemerdekaan dan memperkokoh solidaritas kebangsaan.
Sutan Mohammad Amin Nasution atau lebih dikenal SM Amin merupakan di antara tokoh pemuda asal Aceh yang berpengaruh pada saat kongres pemuda tersebut berlangsung. Pahlawan nasional ini lahir di Lhoknga, Aceh Besar pada 22 Februari 1904.
SM Amin memliki nama kecil Krueng Raba Nasution. Krueng Raba, sebuah sungai di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar yang dikenal sebagai destinasi wisata yang indah menawan. Sungai ini bermula dari Pucok Krueng, dikenal sebagai salah satu destinasi wisata pertualangan alam populer di Aceh.
Pada saat pelaksanaan Kongres Sumpah Pemuda II 28 Oktober 1928, SM Amin hadir mewakili Jong Islamieten Bond, dalam organisasi ini, dan saat itu ikut berperan aktif dalam merumuskan isi sumpah pemuda.
Setelah Sumpah Pemuda, muncul banyak organisasi pergerakan di Aceh yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan persatuan, seperti Pemuda PUSA, Pemuda Sarekat Islam dan Jong Sumatranen Bond, yang kemudian berkembang menjadi wadah bagi para pemuda untuk menyuarakan aspirasi nasionalisme. Para pemuda ini kemudian melanjutkan perjuangan mereka dengan cara mengorganisir rakyat untuk menentang kebijakan kolonial Belanda.
Sejarah mencatat bahwa di Aceh, semangat Sumpah Pemuda ini terus berlanjut hingga masa-masa menjelang Proklamasi Kemerdekaan pada 1945.
Pemuda-pemuda Aceh turut ambil bagian dalam perjuangan bersenjata maupun perjuangan diplomasi demi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Korps Tentara Pelajar Aceh adalah di antara contoh nyata keterlibatan pemuda Aceh di garis terdepan pertempuran. Pemuda Aceh dikenal gigih merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Keberaniannya tercatat dalam tinta emas perjuangan kemerdekaan.
Jadi, meskipun peristiwa Sumpah Pemuda dipusatkan di Jakarta, semangatnya terwujud di seluruh penjuru Nusantara, termasuk Aceh, yang menumbuhkan semangat dan komitmen generasi muda dalam persatuan dan kesatuan untuk lepas dari penjajahan dan menumbuhkan sikap nasionalisme Indonesia.
Teruslah berjuang dan berkarya kaum muda. Selamat Hari Sumpah Pemuda, rakan.(BangHas)











