Oleh Abdul Hadi*
Samudera Pasai merupakan salah satu kerajaan Islam yang memiliki posisi penting dalam sejarah Nusantara. Kerajaan yang berkembang di wilayah pesisir utara Aceh ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara.
Jejak kejayaan Samudera Pasai hingga kini masih dapat ditemukan di sejumlah kawasan di Aceh Utara. Makam Sultan Malikussaleh, Putri Nahrisyah, serta ratusan batu nisan kuno menjadi bukti arkeologis yang memperlihatkan kuatnya pengaruh kerajaan tersebut pada masanya.
Peringatan 800 tahun Samudera Pasai menjadi momentum penting bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk kembali menghidupkan sejarah kerajaan yang pernah berjaya di kawasan tersebut.
Berbagai rangkaian kegiatan digelar untuk memperingati perjalanan panjang Samudera Pasai. Salah satunya ziarah ke makam Sultan Malikussaleh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, serta makam Ratu Nahrisyah di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Makam-makam tersebut bukan sekadar situs pemakaman, tetapi juga menjadi bagian penting dari warisan sejarah Islam di Nusantara. Batu nisan yang masih bertahan hingga kini memberikan gambaran mengenai keberadaan pemerintahan, kehidupan sosial, serta perkembangan Islam pada masa Samudera Pasai.
Namun, di tengah peringatan delapan abad tersebut, muncul pertanyaan penting: benarkah Kerajaan Samudera Pasai telah berusia tepat 800 tahun?
Pertanyaan itu perlu dilihat dari berbagai sumber sejarah dan bukti arkeologis. Penentuan usia sebuah kerajaan tidak selalu dapat dihitung secara sederhana berdasarkan tahun berdirinya, karena terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan tepatnya Samudera Pasai mulai berdiri sebagai sebuah kerajaan.
Sejumlah catatan sejarah menyebut Sultan Malikussaleh sebagai tokoh penting dalam awal perkembangan Samudera Pasai. Batu nisan Malikussaleh yang bertarikh 1297 Masehi menjadi salah satu bukti penting mengenai keberadaan kerajaan Islam tersebut pada akhir abad ke-13.
Jika usia 800 tahun dihitung dari sekitar awal abad ke-13, maka peringatan tersebut dapat dipahami sebagai penanda perjalanan sejarah panjang Samudera Pasai. Namun, secara akademis, angka 800 tahun tetap perlu ditempatkan dalam konteks sumber sejarah dan kajian arkeologi yang tersedia.
Terlepas dari perdebatan mengenai angka pasti usianya, Samudera Pasai telah meninggalkan warisan besar bagi Aceh, Nusantara, dan dunia Islam. Jejaknya yang masih bertahan di Aceh Utara menjadi pengingat bahwa kawasan ini pernah menjadi salah satu pusat penting peradaban Islam dan perdagangan di Asia Tenggara.
* Abdul Hadi, Wartawan Media Pos Aceh/ posaceh.com











