Opini

Wiji Thukul, Suara yang Tak Pernah Padam

18
×

Wiji Thukul, Suara yang Tak Pernah Padam

Sebarkan artikel ini
Syahrul Amin (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Syahrul Amin*

Nama Wiji Thukul bukan hanya dikenal sebagai penyair, tetapi juga simbol perlawanan rakyat kecil pada masa Orde Baru (1966-1998).

Di tengah tekanan kekuasaan yang membungkam kritik, Wiji Thukul menulis dengan bahasa yang lugas, tegas, dan penuh keberanian. Puisinya sederhana, namun mampu menyentuh realitas yang paling mendasar: ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan. Ia tidak menulis untuk menyenangkan penguasa, melainkan untuk menyuarakan mereka yang tidak memiliki ruang untuk berbicara.

Keberanian itu tercermin dalam salah satu puisinya yang paling terkenal:

“Peringatan” – Wiji Thukul

Jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata:
LAWAN!

Puisi tersebut menjadi semacam alarm sosial peringatan keras bahwa kekuasaan yang tidak mau mendengar suara rakyat pada akhirnya akan memicu perlawanan. Kata “LAWAN!” di bagian akhir bukan sekadar ajakan, melainkan simbol keberanian untuk tidak tunduk pada ketidakadilan.

Dalam konteks hari ini, kekhawatiran akan munculnya kembali praktik-praktik seperti pada masa Orde Baru patut disikapi dengan bijak. Beberapa gejala di lingkungan sosial seperti pembungkaman pendapat atau tekanan terhadap kritik memang bisa dirasakan. Namun, kondisi saat ini tidak sepenuhnya sama. Ruang demokrasi masih terbuka, meskipun dalam beberapa hal terasa menyempit.

Di sinilah pentingnya meneladani semangat Wiji Thukul secara proporsional: tetap kritis, berani menyuarakan kebenaran, tetapi juga rasional dan bertanggung jawab. Kritik yang disampaikan dengan dasar yang kuat justru akan lebih efektif dalam mendorong perubahan.

Hingga hari ini, sosok Wiji Thukul tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa demokrasi tidak hanya soal kebebasan secara formal, tetapi juga keberanian untuk bersuara dan memperjuangkan keadilan.

Wiji Thukul mungkin telah hilang secara fisik, namun suaranya tidak pernah benar-benar padam. Ia hidup dalam setiap kritik yang jujur, dalam setiap keberanian untuk berkata benar, dan dalam setiap langkah kecil menuju masyarakat yang lebih adil.

* Syahrul Amin, anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aceh.