posaceh.com, New York – Warga Lebanon yang tinggal di Amerika Serikat (AS) berusaha mengatasi kesedihan, ketakutan, dan kemarahan untuk membantu orang-orang kembali ke rumah.
Salah satunya, Ali Dabaja yang mengatakan warga Amerika keturunan Lebanon telah berjuang selama 12 bulan terakhir dengan keseimbangan pekerjaan, kehidupan, dan genosida, ketika puluhan ribu warga Palestina terbunuh dalam perang Israel di Jalur Gaza.
Namun kini, dengan militer Israel melancarkan serangann ke Lebanon selama seminggu terakhir, komunitas tersebut berada pada titik didih. Kampanye pengeboman besar-besaran Israel di Lebanon telah menghantam Dabaja, seorang dokter di wilayah Detroit.
Sepupunya, Batoul Dabaja-Saad tewas bersama suami dan tiga anaknya dalam serangan udara Israel di rumah mereka di kota Bint Jbeil, Lebanon selatan. “Ada ketidakpercayaan, ada kemarahan, dan ada perasaan kehilangan yang luar biasa,” kata Dabaja kepada Al Jazeera, Jumat (27/9/2024).
Dia tidak sendirian, ketika perang di Lebanon semakin intensif, warga Amerika keturunan Lebanon lainnya merasakan kecemasan dan kesedihan atas orang-orang yang mereka cintai di kampung halaman mereka. Terutama, kemarahan terhadap pemerintah Amerika Serikat yang terus mempersenjatai dan mendukung Israel.
“Pikiran kami selalu tertuju pada rakyat Palestina dan Lebanon, dan sekarang ini adalah fase yang berbeda bagi kami,” kata Dabaja. “Kami telah berteriak dan berteriak sekuat tenaga, kami juga telah melibatkan politisi, melibatkan orang-orang yang mencalonkan diri sebagai presiden,” tambahnya.
“Dan semua itu sepertinya tidak didengarkan, dan pada titik ini, hal itu menjadi sangat pribadi bagi kami,” ujarnya.
Meskipun para pejabat Israel mengatakan militer menargetkan rumah-rumah yang digunakan untuk menyimpan senjata yang digunakan oleh kelompok Hizbullah Lebanon untuk menyerang Israel, para kritikus mengatakan luasnya pemboman menunjukkan sifatnya yang tidak pandang bulu.
Lebih dari 620 orang tewas dalam serangan Israel selama empat hari, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. “Sepertinya lebih dari 41.500 warga Palestina yang terbunuh di Gaza sejak Oktober tahun lalu, korban di Lebanon bukan sekadar angka,” kata Dabaja.
“Setiap orang memiliki cerita, impian, dan hubungan sosial yang melampaui batas negara,” tuturnya.
Dia menggambarkan sepupunya Batoul, melakukan pekerjaan untuk membantu menghidupi keluarganya, sebagai seseorang yang karismatik, berpendidikan tinggi, mudah bergaul dan rajin,” ungkapnya.
“Dia memiliki cahaya yang tidak seperti orang lain, tetapi cahaya itu telah padam, begitu pula cahaya banyak orang lain yang kehilangan nyawa dalam pemboman yang tragis dan tanpa pandang bulu ini,” kata Dabaja.(Muh)
