posaceh.com, Kota Jantho – Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee kembali menjadi perhatian kalangan akademisi dunia. Sejumlah peneliti dari berbagai lembaga nasional dan internasional mengunjungi pusat pendidikan dan perpustakaan manuskrip kuno tersebut untuk memperkuat kerja sama penelitian sekaligus mengkaji kekayaan naskah warisan intelektual Aceh, di Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Rabu (22/7/2026).
Rombongan peneliti berasal dari Museum Pedir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), SOAS University of London, serta Universität Hamburg, Jerman. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Pimpinan Zawiyah dan Perpustakaan Kuno Teungku Chik Tanoh Abee, Teungku Abdul Hafidh Al-Fairusy Al-Baghdady atau yang akrab disapa Cut Fid, didampingi Teuku Abulis (Cut Bang Abulis).
Dalam pertemuan tersebut, para peneliti diajak menelusuri sejarah berdirinya Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee sekaligus melihat secara langsung koleksi manuskrip kuno yang selama ini menjadi salah satu khazanah intelektual Islam terpenting di Aceh. Naskah-naskah tersebut memuat berbagai catatan sejarah, ilmu keislaman, hingga perkembangan pemikiran masyarakat Islam yang diwariskan selama berabad-abad.
Cut Fid menjelaskan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali jaringan penelitian yang sejak lama telah terjalin antara Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee dengan para akademisi dunia.
“Kunjungan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kembali kerja sama penelitian yang pernah terbangun dengan para peneliti internasional. Harapannya, manuskrip-manuskrip kuno Tanoh Abee semakin banyak dikaji sehingga warisan intelektual Aceh dapat dikenal lebih luas di dunia akademik,” ujarnya.
Ia juga mengenang hubungan erat yang pernah dibangun almarhum Prof. Russell Jones dari SOAS University of London dengan Abu Muhammad Dahlan Al-Fairusy Al-Baghdady. Menurutnya, Prof. Russell Jones beberapa kali datang ke Tanoh Abee untuk berdiskusi mengenai sejarah Aceh serta meneliti koleksi manuskrip kuno yang tersimpan di perpustakaan tersebut.
Seorang peneliti dari SOAS University of London, Dr. Mulaika Hijjas, mengaku terkesan dengan sambutan yang diberikan pihak Zawiyah. Ia berharap dapat kembali ke Tanoh Abee dalam waktu yang lebih lama agar memiliki kesempatan mempelajari lebih banyak manuskrip kuno.
“Saya berharap bisa kembali lagi dan tinggal lebih lama di sini agar dapat mempelajari lebih banyak manuskrip kuno yang tersimpan di Perpustakaan Tanoh Abee,” kata Dr. Mulaika.
Sementara itu, peneliti Raisa Kamila menyampaikan kekagumannya terhadap suasana Zawiyah yang masih mempertahankan tradisi keilmuan Islam. Selain tertarik pada koleksi manuskrip kuno, ia juga mengaku terkesan dengan koleksi satwa eksotik milik pribadi Cut Fid yang berada di kawasan taman safari di lingkungan Zawiyah.(C’Boy)
