Banghas

Tuanku Raja Ibrahim: Putra Mahkota Terakhir, Raja yang Menepi di Lamlo

1044
Ilustrasi Tuanku Raja, Sosok Putra Mahkota Terakhir yang Bersahaja (AI)

Di sebuah dusun kecil bernama Lampoh Ranup, Lamlo—tepat di jalan menuju kampus Jabal Ghafur, Kota Bakti, Pidie—tinggallah seorang lelaki tua dengan kehidupan yang sederhana, namun penuh wibawa. Dialah Tuanku Raja Ibrahim, putra mahkota terakhir Kerajaan Aceh, anak sulung dari Sultan Muhammad Daudsyah, sultan terakhir yang diakui oleh Kesultanan Aceh.

Dalam kesederhanaannya, Tuanku Ibrahim tetap menyimpan aura bangsawan. Bapak kami, Hasan Husin, yang tinggal di Keude Lamlo pada akhir tahun 1960-an atau awal 1970-an, sering menyaksikan keseharian beliau. Setiap pagi atau sore, sosok raja tua itu akan berjalan perlahan, menyusuri jalanan kampung mencari burung perkutut—yang oleh orang Aceh disebut leuk. Meski hidupnya jauh dari gemerlap istana, perilakunya mencerminkan adab seorang raja sejati—santun, tenang, dan selalu menghormati orang lain.

Satu hal yang membekas dari cerita ayah kami: betapa rendah hatinya sang raja. Dengan tulus, Tuanku Ibrahim pernah berkata bahwa “raja sejati yang patut dihormati” di Lamlo dan Beureunuen adalah Haji Abdullah, saudara dari abang ayah kami, yang dikenal dengan julukan Raja Donya. Sebuah pengakuan tulus yang mencerminkan kebesaran jiwa seorang bangsawan yang telah ditakdirkan hidup jauh dari singgasana.

Namun siapa sangka, sebelum menjalani hidup sunyi di Lamlo, Raja Ibrahim pernah menapaki jalan sejarah yang panjang. Di masa mudanya, ia sempat melanglang buana ke berbagai negeri di Eropa, bahkan hingga Belanda, dan konon pernah bertemu langsung dengan Ratu Wilhelmina. Dunia barat sempat mengenalnya sebagai pewaris sah Kesultanan Aceh, sebuah negeri yang dulu dikenal gigih melawan kolonialisme.

Pada tahun 1937, ia kembali ke tanah kelahirannya. Di Sigli, ia bekerja sebagai Mantri Tani, dengan penghasilan sebesar 9.000 rupiah di tahun 1940-an—gaji yang amat kecil untuk seorang mantan pangeran. Ia kemudian menetap di Lamlo, Pidie, bersama istrinya dan anak-anaknya yang berjumlah 15 orang. Dalam kesunyian kampung itulah, ia menjalani hari-harinya, jauh dari gemerlap istana, namun tetap memegang teguh martabat dan kesantunan sebagai seorang bangsawan sejati.

Harapan terakhirnya begitu sederhana namun menyayat: ia ingin menziarahi makam ayahandanya, Sultan Muhammad Daudsyah, yang dimakamkan di Jakarta. Namun takdir berkata lain. Meskipun beberapa bantuan sempat datang, seperti rumah kecil dari Pemerintah Daerah Aceh melalui SK No. 100/76, atau uang 5.000 rupiah dari Sultan Hamengkubuwono IX, semuanya tak cukup menopang hidup yang layak. Bahkan rumah itu pun, menurut aturan, harus dikembalikan kepada pemerintah setelah ia wafat.

Majalah Tempo sempat mencatat bahwa seorang anggota DPRD Aceh yang datang menjenguknya terkejut melihat kondisi hidup beliau yang sangat memprihatinkan. “Untuk hidup wajar saja dengan uang sebegitu, tentu susah,” ujarnya, lirih.

Akhirnya, pada 1 Maret 1982, Tuanku Raja Ibrahim mengembuskan napas terakhir. Ia dimakamkan di Komplek Raja-Raja, Baperis, Banda Aceh. Ia meninggalkan 16 orang anak dari beberapa istrinya, dan sebuah kisah tentang kebangsawanan yang tak pernah hilang meski singgasana telah lama sirna.

Catatan Penutup

Kisah Tuanku Raja Ibrahim adalah kisah tentang kemuliaan yang tetap terjaga dalam kesederhanaan. Ia adalah cermin dari sejarah Aceh yang megah namun juga tragis, tentang seorang pangeran yang menepi—namun tak pernah meninggalkan martabatnya. Di Lamlo, Pidie, rakyat mengenangnya bukan karena istana, tapi karena keteduhan, keramahan, dan keanggunan laku yang tak lekang oleh zaman. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version